Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
KECEWA BERAT


__ADS_3

Sulit menjadi malaikat jika sedang dilanda cemburu, maunya tidak marah, tapi kata-kata yang keluar dari mulut isinya kebun binatang.


"Kau marahnya kebangetan, tidak usah memaki atau menyebutku dengan kata monyet, setan, buaya, katakan jika aku salah dan apa salahku." kata Alvaro ikut esmoni.


"Aku berkata yang benar, pacar kau mengatakan yang tidak benar. Jika dia mengepel berkali-kali tidak mungkin baunya seperti ini. Jika kau terus ingin membelanya aku akan pergi dari sini." sahut Alexa kesel. Alvaro memandang Anahita dan ikut memarahinya.


"Anahita kau bekerja yang benar aku tidak ingin berantem dengan selirku. Jangan membuat nona Alexa marah, aku tidak akan memecat kau jika benar bekerja."


"Siap Tuan." kata Anahita pelan, lalu pergi dari hadapan mereka.


Alvaro menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Dia merasa kesal kepada Farida, kenapa Anahita diajak kesini. Itu adalah masa lalu yang sudah di lupakan.


"Sana susul pacar kau ajak tidur di kamar, aku tidak sudi dengan laki-laki sampah seperti kau."


"Anahita itu masa lalu, jangan cepat termakan gosip. Kau percaya saja dengan omongannya."


"Aku tidak peduli dengan masa lalu atau masa kini, yang membuat aku kecewa kenapa pacar kau bisa bohong. Aku yakin dia punya tujuan tertentu, buktinya dia tidak datang lagi untuk mengulang ngepel."


"Aku akan memanggilnya."


"Tidak usah memaksa orang kerja kalau dia memang tidak senang kerja. Dia kesini berharap kau masih menyimpan cinta dan mengajaknya tidur. Ekspektasinya terlalu tinggi."


Alexa bersandar di tembok, mulut nya terus mengoceh sambil sesekali menguap, Alvaro sebenarnya malas meladeni. Badannya lelah, ngantuk. Marchel datang membawa beberapa map. Dia terlihat sangat tegang.


"Alexa untung kau datang, hotel tempat kau menginap sebagian hancur. Kau tetap menjadi target dari anak buah Ramos. kusarankan lebih baik diam dulu disini, bila perlu kau bantu kami mengurus surat supaya cepat selesai."


"Jadi kau sudah tahu Alexa tinggal di hotel itu, kenapa waktu aku tanya kau pura-pura bego?"


"Bukankah Tuan yang memberitahu, waktu baru sampai di Hotel itu, tadinya aku tidak tahu."


"Aku lupa, akhir-akhir ini aku sering pikun padahal belum punya anak." ucap Alvaro memandang Alexa.

__ADS_1


"Sekarang kesempatan membuat anak, Farida sudah membawa pacar kau kembali. Sulit mencari orang tua yang sangat sayang kepada anak tirinya. Farida perlu dikasih award." sindir Alexa.


"Apa maksudmu bicara begitu, aku menghormati Farida karena dia mama yang selalu berada saat aku jatuh. Jika dia mencari Anahita kembali untuk aku nikahi, mungkin wanita itu sifatnya baik dan cocok denganku, itu saja. Jadi jangan menuduh yang tidak-tidak, apalagi menyentil mamaku." sahut Alvaro dengan wajah keruh.


Alexa menahan air matanya yang hampir jatuh. Sakit sekali hatinya, tidak tahu apa karena pujian Alvaro kepada Farida atau karena dia iri mendengar Alvaro sangat disayang oleh Farida.


Marchel menangkap kesenduan di hati Alexa, perasaannya ikut sedih. Walaupun dia tidak tahu cerita yang sesungguhnya tapi Marchel merasa Farida sangat keterlaluan kepada anak kandungnya.


"Alexa, aku selalu ada disampingmu, kau yang tabah ya." ucap Marchel menyentuh Alexa, air mata Alexa seketika berhamburan dia memeluk Marchel sambil menangis.


"Apa-apaan kalian berdua, kurang ajar!" bentak Alvaro mendorong Marchel, Alvaro gantian memeluk Alexa. Dia membelai punggung Alexa dan mengecup keningnya.


Kurang ajar banget si Marchel, berani sekali dia berulah jangan- jangan dia sering memeluk Alexa di lain tempat. pikir Alvaro dalam hati.


"Sudah berapa kali aku bilang, kau jangan menyentuh selirku, kalau yang lain bebas." ketus suara Alvaro.


"Itu spontanitas terjadi, karena aku menyayanginya. Jika kau terus menyakitinya aku akan mengambil tindakan dengan menikahinya." Marchel tidak mau kalah, dia juga berhak bahagia. Jika dirinya jatuh cinta kepada Alexa itu kode alam, siapa tahu Alexa jodohnya.


Akhirnya Marchel memilih ke kantor dan membiarkan Alvaro dan Alexa. Dengan lembut Alvaro mengajak Alexa masuk ke kamar.


"Jika kau bersedia menikah secara resmi aku akan menikahi kau besok. Farida ingin keturunan dari aku. Tapi jika kau tidak mau menikah dengan ku, aku akan menyetujui saran mama untuk menikahi Anahita."


"Silahkan menikah dengan pilihan Farida. Aku tidak pernah mencintai kau. Jika tadi aku menangis bukan karena aku sedih jika kau menikah, aku terharu mendengar Farida sebaik itu kepada kau." ucap Alexa menghapus air matanya.


"Sebenarnya aku ingin menolak menikah, mau gimana lagi aku sudah sering menolak, sekarang ini yang terakhir, disamping itu mama sudah tua dan umurku sudah dewasa."


"Tidak apa-apa jalani saja, semoga kalian hidup bahagia. Jika tugasku sudah selesai aku akan pulang meninggalkan kalian." ucap Alexa sendu. Hatinya terasa teriris. Sedih sekali.


"Kenapa kita harus bertemu kalau kita harus berpisah. Aku ingin kita bersatu. Tidak bisa aku bayangkan kalau kita akan berpisah."


Alvaro memeluk Alexa, mereka saling berpelukan menumpahkan kesedihan.

__ADS_1


"Kau tidak kasihan padaku, jika kau pergi dari sisiku aku bisa mati. Jangan pergi walaupun kau tidak mau menikah denganku, tapi jangan kau pergi."


Alvaro mulai nendaratkan bibirnya dengan lembut. Alexa menerima perlakuan Alvaro dengan pasrah. Rasa sedih yang mereka rasakan membuat mereka saling bersatu.


"Tuan Alvaro, Nyonya memanggil." tiba-tiba Anahita sudah berada di ambang pintu.


"Kenapa kau tidak mengetuk pintu main selonong saja." bentak Alvaro kesal. Dia merasa terganggu oleh kedatangan Anahita.


"Kalian yang tidak menutup pintu, harusnya kalau melakukan itu kunci pintu. Apa kau lupa Tuan, jika kita bercinta pasti mengunci pintu, kau selalu romantis Tuan."


"Anahita pergi kau!" bentak Alvaro marah. Dia takut Alexa menolaknya.


"Kita akan menikah Tuan dan kita sudah seperti suami istri, apa lagi ditutupi?"


"Alvaro, pergilah. Aku tidak butuh kau. Biarkan aku sendiri." kata Alexa kecewa.


"Sayank, sabarlah tidak seperti yang kau pikirkan, jangan dengarkan dia." Alvaro berusaha memeluk Alexa tapi wanita itu menepis tangan Alvaro.


"Tuan Alvaro, kamarmu sudah aku bersihkan di bawah, mari kita turun. Nyonya Farida ingin berbicara penting denganmu mengenai sakit kakinya yang semakin parah."


"Turun kau duluan aku masih bersama selirku. Jangan membuat masalah Anahita."


"Pergi kalian berdua, dasar manusia sampah." bentak Alexa marah.


"Kau yang sampah, pelakor, kita ini pasangan sejati dari dulu, kenapa kau datang mengusik hidup Alvaro." Anahita berkoar sambil berkacak pinggang.


Alexa berdiri dan mendorong kedua orang itu supaya keluar. Kemudian dia menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Cukup sudah derita yang menoreh hatinya.


Alexa duduk di atas tempat tidur, dia mengambil ponselnya menelepon Dansus. Seperti biasanya kalau dia bosan dia akan mencari banyak alasan supaya bisa pulang. Densus akan maklum dan menasehati dengan sabar.


****

__ADS_1


__ADS_2