Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
DARI DUA PILIHAN


__ADS_3

"Alexa kau membawa Revolver untuk apa?" tanya Ady Mema ingin mendengar kejujuran wanita yang membuat Alvaro tunduk.


"Untuk membunuh musuhku."


"Bicara kau enteng, kadang aku ragu akan kesombonganmu. Orang berisi akan diam, tidak koar-koar seperti kau. Kau masih bau kencur yang kau hadapi belum tentu orang kelas bawah, bisa saja lebih pintar dari kau dan lebih berpengalaman."


"Hidup mati ada di tangan Tuhan aku tidak pernah takut, karena aku yakin karma. Aku yakin hukum tabur tuai. Aku senang mengintimidasi orang, supaya orang itu mengakui kesalahannya."


"Siapa yang bakal kau intimidasi, orang lain lebih pintar dari kau. Jangan asal bicara kalau kau membeli sendal jepit saja tidak mampu. Ku yakin semua kebutuhan kau sudah dipenuhi oleh Alvaro." kata Ady Mema menohok.


"Papa...dia selirku." ucap Alvaro memeluk Alexa. Alvaro sebel karena Alexa nyahut saja. Dia tahu karakter papanya yang panasan dan cepat menembak, papanya sakit diabetes dan kolesterol takut kambuh.


"Trimakasih atas hinaan mu, orang baik itu sedikit, orang julid itu banyak, aku sudah biasa menerima perlakuan buruk dari orang yang merasa akan hidup seribu tahun lagi. Aku bisa berdiri disini karena seringnya direndahkan orang. Aku tidak pernah peduli semasih aku sehat dan bisa berjalan, bisa makan apa yang ku mau."


"Kau menyindir ku atau kau mencari mati. Aku tidak bisa berjalan karena ditembak musuh. Aku tetap solid, kekuasaanku tetap berkibar."


"Kau ditembak aparat negara karena kau musuh negara hahaha.."


"Kurang ajar!!" Ady Mema dengan gemetar mengambil pistol yang selalu berada disampingnya. Melihat gelagat buruk, Alexa mengambil pisau terbang dan melempar ke arah Ady Mema.


"Seerreetttt....tubb." pisau menancap disamping tangan Ady Mema. Pria tua itu berteriak sambil memaki. Semua ikut berteriak kaget melihat kenyataan ini. Alvaro kembali duduk saat Papanya menodongkan pistol ke arah Alexa. Mereka berteriak menjatuhkan diri ke lantai."


"Mati kau wanita sialan, kau jangan main-main dengan aku." bentak Ady Mema melepaskan tembakan.


"Dooaarrrr....."


Teriakan histeris bergema, mereka tengkurap di lantai ketakutan. Siapa yang mati, Alexakah?


Setelah hening mereka baru berani mengangkat wajah dan berteriak melihat Ady Mema terkulai pingsan.


"Papaa...." Alvaro melihat ada darah di tangan Papanya.


"Panggil dokter!!" teriak Alvaro.


Mata Alvaro melihat ke arah Alexa yang berdiri di samping lukisan besar Farida yang bolong di dada kirinya karena tembusan peluru Ady Mema.


"Kurang ajar kau, aku pastikan mulai detik ini aku menendang kau dari hatiku. Kau akan aku siksa sebagai pelayan."


"Plookkk..." teriak Alvaro menampar Alexa berkali-kali. Darah mengalir di sudut bibir Alexa, gadis itu tidak melawan saat Alvaro memukul nya.

__ADS_1


"Anak durhaka!!" hanya makian itu yang keluar dari mulut Farida. Dia ikut menjambak Alexa sambil menangis.


"Kau yang membuat aku durhaka Farida." Alexa memukul tangan Farida, kemudian mendorong Farida.


Inshira langsung memeluk Farida, kesempatan ini di pakai sebaik- baiknya untuk mengambil hati Alvaro.


"Pengawal bawa perempuan ini ke tempat eksekusi." perintah Alvaro.


Pada saat yang genting itu datang Margareta dan Honduras. Mereka heran melihat orang berkerumun.


"Ada apa ini?"


"Tuan besar di tembak wanita itu." Seorang pelayan memberi penjelasan kepada Margareta dan Honduras.


"Mana ****** itu aku bunuh dia!!" seru Margareta mencari Alexa.


"Margareta jangan ikut campur, ini urusanku, cukup aku menghukum nya." Alvaro menghalangi Margareta.


"Aku akan membunuh selirmu."


"Pergi dari sini, temui mama." kata Alvaro.


Diam-diam Honduras mencari wanita yang membuat keributan dengan Ady Mema. Pengawal sedang mengurungnya. Mata Honduras melotot melihat wanita cantik yang menjadi selir Alvaro.


"Siap Tuan." para pengawal minggir mereka sudah tahu siapa Tuan Honduras.


Laki-laki kekar itu mati gaya dihadapan Alexa. Dia menatap Alexa penuh hasrat. Ya ampun, pakaiannya awut-awutan. Gunung kembar Alexa hampir meloncat keluar. Honduras menelan salivanya. Dia rela ikut di hukum satu ruangan dengan Alexa.


"Aku Honduras, apakah aku boleh membersihkan darah yang ada di sudut bibirmu?" suara Honduras membuat Alexa sadar bahwa lelaki di depannya ini ingin menolongnya. Kesempatan bagi Alexa untuk mengadu domba orang ini.


"Aku tidak ada tissue basah..." jawab Alexa lirih. Bibirnya sakit digerakkan dia yakin wajahnya bengkak.


"Pengawal ambilkan aku tissue basah dan es kompres." perintah Honduras.


"Baik Tuan."


"Namamu Alexa, Margareta sering bercerita tentang dirimu. Aku jadi kasihan padamu. Sungguh kejam orang yang memukulmu. Aku tidak tega melihat darah di sudut bibirmu. Wajahmu lebam semua."


"Tuan ini tissue nya." Seorang pelayan memberi apa yang di minta oleh Honduras.

__ADS_1


Honduras membersihkan wajah Alexa dengan tissue pelan-pelan. Semoga aku mendapatkan gadis ini. bathin Honduras.


"Pengawal, di suruh membawa kemana tawanan ini?"


"Lantai tiga Tuan, masukan ke sel tahanan. Tidak boleh makan sampai mati." kata pengawal sopan.


"Aku akan membawanya kesana." kata Honduras membawa Alexa naik lift. Sampai di lantai tiga tidak ada yang menarik, semua biasa saja. Kamar berjejer dan ada satu kamar yang berisi jeruji besi. Honduras mengajak Alexa masuk ke dalam kamar dan menutup nya."


"Duduklah, kau pasti lapar, aku akan menyuruh pelayan membawakan makanan."


"Aku tidak selera makan, aku benci pada situasi ini. Harusnya aku membunuhnya." gumam Alexa.


"Apa dia belum mati?"


"Ady Mema tangannya tremor, jadi agak susah fokus menembak. Saat dia menembak, aku mengambil foto Farida yang dipajang di depan dan membiarkan foto itu menjadi sasaran tembak nya. Sebelum dia menembak lagi, aku menembak duluan, padahal aku menembak pistolnya. Mungkin tangannya ke srempet peluru. Namanya sudah tua dia kaget, pingsan lah." tutur Alexa.


"Terus kau dipukuli Alvaro atau semua memukul."


"Aku membiarkan Alvaro memukul wajahku, semua anak pasti akan membela orang tuanya. Tapi yang lain kalau mau pukul, aku lawan."


"Apa Alvaro suamimu?"


"Honduras apa yang kau lakukan dengan istriku?" tiba-tiba Alvaro datang dengan wajah marah.


"Alexa istri kau? tadi dia bilang belum punya suami. Aku merayunya supaya mau bekerja dengan ku."


"Jaga sikapmu Honduras." Alvaro berusaha sabar.


"Apa salahnya, daripada kau sering memukul nya lebih baik aku yang menyayangi nya." sahut Honduras tenang.


"Honduras jangan membuat aku naik darah, dia selirku."


"Selir apa, kau memukul nya membabi buta, kau memasukkan kesini. Kau pikir aku tidak tahu sel apa ini, ini sel kematian. Daripada dia disini lebih baik aku yang beli selir kau."


"Aku lebih senang dia yang memilih, dia tahu aku mencintainya."


"Ciihh....kau tidak bisa menghargai perempuan." kata Honduras.


"Alexa kau bebas memilih, mungkin kau menganggap aku musuhmu juga, karena aku juga mafia. Aku tidak seganteng Alvaro, tapi aku belum pernah memukul perempuan, kau boleh tanya Margareta."

__ADS_1


"Aku tidak mau dibeli seperti budak belian, jika kau mau menerimaku seperti teman aku akan memilihmu sebagai pelindung ku Honduras." kata Alexa.


*****


__ADS_2