
Jantung Agent 57 berdetak keras, dia tidak menyangka akan bertemu dengan Alvaro di Bandar Udara Changi Singapura. Dia merasa ada sesuatu yang akan dia temukan di Singapura Ini. Bukan kebetulan, ini sebuah petumjuk, kecurigaannya bertambah jika Alvaro ke Singapura pasti mau bertemu dengan Alexa.
Agent 57 terus membuntuti Alvaro sampai Alvaro naik dan turun MRT. Alvaro sangat gembira ketika Alexa mau bertemu dengannya. Dan Alexa mengundang Alvaro ke Singapura.
Saking senangnya Alvaro, dia tidak menyadari kalau dia diikuti oleh Agent Rahasia. Sampai di pusat oleh-oleh di Bugis, Alvaro membeli makanan untuk Alexa. Suasananya sangat ramai membuat Avaro agak berdesak-desakan. Saat itu Agent 57 menempelkan alat sadap ke jaket Alvaro dengan mudah.
Alexa berdiri di jendela di lantai tiga, dia sedang memasang senjata runduk untuk menembak lawan yang berada jauh dari jangkauannya. Dia mencoba melihat teleskop dengan pembesaran hingga 25 kali serta Bipod untuk menjaga kestabilan dalam penembakan.
Ketika Alexa mencoba melihat ke teleskop dan mengarahkan kebawah terlihat Alvaro berjalan buru-buru masuk ke halaman Kondominium. Dada Alexa berdebar kencang. Dia sangat merindukan Alvaro.
Senyumnya mendadak lenyap ketika Alexa melihat jauh di belakang pria itu ada Agent 57 mengikutinya. Raut wajah Alexa berubah, hatinya pedih dan tersayat, dia berpikir Dansusnya sengaja mengirim mata-mata untuk mencari kesalahannya, supaya ada alasan untuk membunuhnya.
Alexa cepat menghubungi F.O yang berada di Lobby supaya Alvaro di rekomendasikan, dan menolak tamu lain yang ingin bertemu. Alexa sedikit tenang karena kesempatan untuk melawan masih bisa.
Ketika Bell pintu berbunyi Alexa cepat mengambil detector untuk mengetahui Alvaro ada benda lain ditubuhnya atau tidak. Alexa menarik kasar Alvaro serta mengunci pintu. Alexa mengambil benda menempel di jaket Alvaro serta membuangnya di closet kamar mandi.
"Ada apa yank?" tanya Alvaro penuh rindu.
"Ada yang menempelkan alat sadap ke jaketmu. Hati-hatilah."
"Siapa?"
Alexa tidak menjawab dia menghambur kepelukan Alvaro. Air matanya menggelinding jatuh saat mereka berpelukan. Perlahan bibir Alvaro menyatu. Mereka saling melepaskan rindu.
"'Aku mencintaimu." desih Alexa.
Tangan Alvaro meraba-raba perut Alexa yang membuncit. Hatinya terenyuh ketika membayangkan ada kehidupan baru disana. Namun Alexa tidak membiarkan Alvaro lama terlena.
"Ada orang yang akan membunuh kita. Bersiaplah, kita terperangkap disini." kata Alexa menatap Alvaro.
"Jangan takut, aku akan mengajak kau keluar dari sini."
"Justru kita keluar lewat depan, dia akan leluasa menembak kita." jelas Alexa.
"Kita akan keluar lewat belakang memakai sambungan gorden. Matikan lampu, buka gorden, kita
__ADS_1
pakai tali untuk turun. kita butuh sekitar sepuluh meter."
"Kamu yakin kita akan selamat?"
"Bantu aku supaya cepat Alvaro, kalau kelamaan kita akan terbunuh."
Mereka membuka gorden, Vitrage serta merobek dan menjalin menjadi tali panjang yang kuat. Rasa rindu yang menggelora nembuat Alvaro dan Alexa setiap saat saling kecup.
Alvaro dan Alexa menggendong tas ransel yang berisi beberapa pakaian dan senjata. Mereka meninggalkan kopernya. Alexa mengikat tali di realing jendela, setelah terasa aman Alexa dan Alvaro bergantian turun.
Mereka sekarang berada dibelakang Kondominium, sepertinya ini adalah gang sempit yang tidak terpakai tapi tidak buntu. Mungkin sepanjang gang ini adalah penginapan.
"Kau tidak apa-apa sayank?" kata Alvaro memeluk Alexa.
"Aku kuat."
Suara nafas Alexa memburu dan keringatnya membasahi wajahnya. Alvaro memakai slayernya untuk menghapus keringat Alexa.
"Kenapa kau harus bersembunyi ke Singapura, untuk apa sayank, siapa yang memusuhi kau?"
"Oke sayank, apapun yang terjadi aku selalu mencintaimu. Aku harap kita bisa menikah setelah ini."
"Kita mulai jalan." kata Alexa semangat. Alvaro mengambil ransel Alexa.
"Aku yang membawa keduanya, kau bawa tas tenteng saja."
Mereka berjalan tergesa-gesa menuju ujungnya gang. Matahari sangat panas, wajah mereka berdua memerah seperti kepiting rebus.
"Aku haus." gumam Alexa.
"Maaf sayank, aku meninggalkan semua makanan yang tadi aku beli. Tahan sedikit sebentar lagi sampai, kita akan mencari kedai untuk istirahat."
"Pilih yang sepi." sahut Alexa dengan nafas menderu. Ternyata kehamilan ini membuat dirinya agak lamban.
Pelarian mereka dari Kondominium sampai di daerah Pecinan, cukup jauh. Dengan naik taxi online yang harganya mencekik leher mereka akhirnya sampai di depan rumah susun. Alexa ragu-ragu turun disini, dia lebih senang tinggal di Villa atau Apartemen. Tapi keadaan membuat Alexa mengikuti perintah Alvaro.
__ADS_1
"Biasanya lawan tidak mungkin mengira kita berbaur di tempat begini, karena latar kehidupan ku serba wah. Coba jalani yang penting kita aman."
"Kalau disini tempatnya ramai, musuh kau pasti tidak mengira kau berada disini."
Setelah registrasi dengan identitas palsu Alexa dan Alvaro mendapat lantai sepuluh nomor 282 paling ujung. Alvaro membuka pintu pakai sidik jari.
Rumahnya lumayan bersih dan rapi. Lebih tepatnya minimalis modern. Seperti Apartemen layaknya. Kamar dua, ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan kulkas sedang. Pokoknya lengkap walaupun tidak mewah.
"Kau senang?" tanya Alvaro menaruh tas ransel. Dia menghempaskan pantatnya di sofa panjang. Lelah.
"Aku biasa hidup dijalanan tidak begitu peduli, yang penting aman untuk waktu yang agak lama." Alexa mengambil dua botol minuman di kulkas.
"Minum lah, aku selalu haus." Alexa duduk disamping Alvoro.
"Aku mencintaimu sayank." bisik Alvaro memeluk Alexa. Dia mencium gadis itu dengan mesra.
"Aku juga mencintaimu, aku kerap merindukan dirimu."
"Kita akan menikah, aku Farida dan yang lainnya sudah pindah. Perusahan Alfredo dan Ady Mema sudah terjual."
"Bersyukurlah, berarti kau mengurus perusahaan Alvaro Derek saja?"
"Farida mengambil hasil penjualan perusahaan Ady Mema seluruhnya dan membeli rumah baru, dia hidup dengan Anahita serta dua pelayan dan dua pengawal. Hidupnya penuh dengan kemewahan uang selalu di hambur-hamburkan saja. Aku tidak tahu dimana papa dapat perempuan berutal begitu."
Alexa hampir tersedak mendengar pernyataan Alvaro, tumben pria ini mendongkel, dan menyinggung ibu Farida, apakah Alvaro sudah tahu bahwa Farida mamanya?
Alexa tidak menanggapi omongan Alvaro, dia juga tidak peduli tentang rahasia dirinya dengan Farida.
"Mandilah, kita istirahat dulu sebelum membahas yang lain."
"Kita mandi bareng, aku ingin melihat perubahan tubuh kau, pasti tambah sexy."
"Berarti ada maunya ini...." Alexa tidak mampu menolak ketika Alvaro menggendong tubuhnya.
Alexa membiarkan Alvaro membuka pakaiannya satu persatu. Mereka sama-sama membutuhkan dengan hasrat yang tinggi. Air shower mulai membasahi tubuh mereka. Tangan Alvaro tidak bisa diam, berselancar keseluruhan tubuh Alexa, membuat Alexa memeluk Alvaro erat-erat.
__ADS_1
"Yank, kita sudahi mandinya, aku takut mencelakai bayi kita. Lebih baik kita cari aman saja."