
Alexa sendiri menghubungi Dansus mengatakan apa yang terjadi. Dia bilang dirinya disekap oleh Govalo dan mengakibatkan dia telat datang bulan.
"Kenapa bisa begitu, kau di situ baru lima bulan kenapa bisa hamil."
"Aku disini disekap dari pertama datang, hanya saat Govalo keluar negeri aku baru bisa membunuh mafia yang lain. Sudah tiga terbunuh termasuk Govalo."
"Aku meragukan kau, kenapa Govalo bisa memperkosa kau."
"Aku tidur sekamar dan di rantai. Setelah aku hamil baru rantai dilepas. Aku bisa bebas sekali-kali."
"Waktu bebas kenapa tidak lari."
"Karena aku ingin membunuhnya."
"Seharusnya kau kena sanksi. Kau jangan pulang dulu, setelah bayi kau lahir baru boleh pulang. Selesaikan misinya. Untuk sementara aku akan memutuskan hubungan GSM atau sadap wereless yang lain. Berarti kau bertugas sendiri tanpa panduan, pengawasan kami. Apa yang terjadi diluar tanggung jawab kami. Upaya ini terpaksa dilakukan untuk menutup mulut-mulut yang suka nyinyir."
"Terimakasih komandan." Alexa lega karena Dansus mau mengerti. Tapi dia masih ragu, apakah restu dari komandannya benar tulus atau di mulut saja.
Matahari sudah condong kebarat, karyawan berhamburan keluar. Alexa memakai maskernya dan topi, dia ikut bergabung keluar dari pintu gerbang.
Alexa berjalan cepat menuju halte bis, dia pakai kartu MRT Ez-link. Hatinya lega bisa lolos dari Govalo dengan cara mudah, padahal Govalo mafia yang sangat licin. Biasanya Govalo memakai topeng latex untuk menyamar. Dia juga termasuk kebal hukum. menurut selentingan Govalo punya backing anggota parlemen.
Untuk sementara waktu Alexa akan bersembunyi di Bugis sampai anaknya lair. Anak buah Govalo pasti akan mencarinya ke segala penjuru. Alexa memencet knop berhenti di halte bis berikutnya. Sebelum turun dari bis dia harus tap lagi, karena disitu menentukan jauh dekat nya jarak dan akan berpengaruh ke tarif yang dipotong. Apabila tidak tap maka akan di charge jarak terjauh.
Sampai di.Bugis Alexa turun di halte dia lalu berjalan menuju ke sebuah toko oleh-oleh. Dia membeli coklat dan beberapa ornamen digantung di depan pintu. Dia juga membeli ponsel supaya tidak jenuh di kamar.
"Pak ada penginapan di sekitar sini?"
__ADS_1
"Di samping restoran cepat saji, sekitar dua ratus meter dari sini."
"Trimakasih pak."
Berjalan-jalan di Singapura sangat menyenangkan, karena jalannya besar dan sangat bersih. Mereka kebanyakan jalan kaki daripada naik mobil atau motor. Alasannya karena harga kendaraan tinggi dan demi kesehatan.
Pengaruh kehamilan membuatnya cepat haus dan capek. Akhirnya dia memilih kondominium supaya lebih privasi. Alexa menerima syarat dari Dansus demi bayi yang dia kandung. Berarti biaya selanjutnya ditanggung oleh Alexa sendiri.
Kondominium disini sangat mewah, bersih, semua elektronik. Tidak ada kunci pintu, disini memakai sidik jari atau password. Modern, canggih. Dia membuka pintu utama, pertama yang dituju adalah kulkas. Alexa membuka kulkas, melihat 'isinya. Semua lengkap sampai snack yang dia suka. Dia mengambil air mineral dan minum sepuasnya. Kemudian dia menaruh coklatnya di kulkas.
Walaupun Alexa tidak dipantau kegiatannya, tapi dia masih punya agenda untuk melenyapkan dua mafia lagi.
***
Agent 57 menatap foto Alexa yang terpasang di ruangan kantor Dansus Gadis itu menjadi idola disini dan banyak penghargaan yang di dapat karena Alexa orang yang serius dan cerdas. Jarang dia gagal dalam melakukan misi. DIa kena SP.1 karena tidak membunuh Alvaro.
"Dansus, saya dengar Govalo sudah meninggal dibantai oleh Agent number six. Tapi tidak ada dokumen yang dikirim oleh number six."
"Kita maklumi, kadang suasana atau kesempatan mendokumentasikan tidak ada, karena suatu sebab. Itu akan dimaklumi."
"Sanksi hukum untuk Alexa sangat ringan bagiku. Hanya membunuh lima mafia yang kabur ke Singapura. Semua orang bisa berbuat begitu."
"Dari dulu banyak Agent kita di tugaskan ke Singapura, banyak juga yang tidak berhasil. Kebanyakan dari mafia itu operasi wajah. Manipulasi sidik jari, indentitas, mereka sulit di kenali. Hanya Agent yang terlatih dan Intelligence Quotients diatas rata-rata cenderung lebih berhasil." kata Densus menatap Agent 57.
"Saya melihat Dansus seperti pilih kasih, seharusnya kita membunuh Alexa dan Alvaro supaya tidak ada benih-benih mafia lagi. Alexa terlalu lemah ketika melihat laki-laki ganteng." sinis perkataan Agent 57.
"Kita mempertimbangkan subangsih Alexa lima tahun terakhir. Aku menilai baru kali ini Alexa mangkir dari tugas. Mungkin ada alasan tertentu. Yang penting dia sudah berjanji akan melanjutkan misinya."
__ADS_1
"Izinkan saya ke Singapura untuk menelanjangi kemunafikan Alexa. Saya yakin dia bersenang-senang dengan Alvaro. Tidak mungkin dia melakukan tugas."
"Apakah kau melihat Alexa pernah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kode etik komando?"
"Saya melihat indikasi kearah sana, itu masalahnya membuat hati saya terketuk untuk mengungkapkan apa yang dia sembunyikan selama ini. Saya menilai watak aslinya memang sudah biasa begitu."
"Jangan suudzon, Alexa hampir sempurna sebagai agent, dia juga penembak yang baik. Banyak punya prestasi. Dan dihormati bawahan serta di sayang petinggi-petinggi kita." jelas Dansus seadanya.
Karena Agent 57 kekeh minta pergi ke Singapura untuk membunuh mafia yang masih berkeliaran, Dansus akhirnya mengizinkan Agent 57 pergi ke Singapura.
"Aku akan memberi surat perintah kerja, asal kau tidak melangkahi kinerja Alexa. Lebih baik kau jauh dari tempat Alexa."
"Saya juga akan menjalankan misi ini tanpa ada campur tangan òrang lain. Dimana Alexa sekarang berada apa bisa dilacak?"
"Hubungan GSM diputuskan sampai tahun depan. Kita memberi Alexa cuti setelah selesai melenyapkan gembong mafia itu. Ada dua orang mafia lagi yang masuk daftar DPO. Jika kau bertemu Alexa di Singapura tolong jangan usik dia." pesan Dansus sambil menepuk punggung Agent 57.
"Saya tidak ada urusan dengan Agent number six, kita berbeda skill. Mungkin dia pintar menembak, tapi saya pintar diplomasi."
"Senjata dan peralatan mu semua akan disiapkan dalam waktu lima belas menit. Kau ke Bandara lewat jalan khusus. Tiket pesawat sudah ada, business class, kau tinggal bawa koper pakaian."
"Oke..saya siap."
Seorang mata-mata biasanya banyak diam dan cepat bergerak. Tapi Agent 57 terlanjur sombong dan dendam. Ntah apa sebabnya sehingga dia sangat benci kepada Alexa.
Pukul 16.53 Agent 57 sudah berada di Bandara lagi boarding pass. Ada perasaan bangga dalam lubuk hati yang terdalam. Hatinya berbunga- bunga ketika merasa tujuannya telah tercapai. Seharus nya dari dulu dia minta bagian lapangan daripada diam di balik laptop.
Di pesawat duduk kursi kelas bisnis membuat dia semakin sombong, apalagi dilayani dengan ramah oleh pramugari, dari makan yang mewah yang bisa dipilih, sampai pakaian tidur.
__ADS_1
*****