
Alvaro menghubungi dokter hotel untuk memeriksa Alexa. Dia takut kalau Alexa di racun orang.
"Tenanglah sayank dokter sudah mau datang." kata Alvaro mengelus wajah Alexa yang pucat.
"Kepalaku pusing dan mual banget."
"Aku akan menuntut hotel karena makanannya membuat kau sakit. Bisa saja mereka menaruh racun atau sejenisnya."
Bell pintu berbunyi, Alvoro menuju kepentu, seorang dokter tersenyum ramah ada dihadapan Alvaro.
"Silahkan masuk dokter, tadi istri saya muntah-muntah dan kepalanya pening setelah makan beberapa sendok."
"Permisi Tuan saya periksa dulu ya." kata dokter itu mendekati Alexa.
"Maaf saya periksa ya."
"Silahkan dokter." Alvaro membelai rambut Alexa supaya tenang. Wajah Alexa terlihat sangat pucat dan badannya lemas.
"Bagaimana istri saya dokter?"
"Tidak apa-apa dia mengalami perubahan hormon awal kehamilan."
"Maksud dokter istri saya hamil?" tanya Alvaro gembira. Dia memeluk Alexa mencium keningnya. Alexa diam tidak bergeming, matanya memandang langit-langit kamar.
"Ya Tuan, umurnya baru sebulan. Tolong dijaga makanannya dan minum vitamin sesuai anjuran."
"Ya dokter." jawab Alvaro mengantar dokter keluar dari kamar. Hatinya berbunga-bunga mendengar berita ini.Tidak lama lagi akan ada pewaris dari Alvaro Derek.
Setelah dokter keluar kamar Alvaro duduk termenung di pinggir tempat tidur, menatap tubuh Alexa. Bahagia itu pasti, tapi kenapa Alexa seperti kurang senang. Malah sekarang dia tidur miring menghadap tembok.
"Yank...trimakasih, aku senang mendengar berita ini, kita akan menikah secepatnya." mendengar kata menikah Alexa duduk di kepala ranjang. Terdengar beberapa kali dia menarik nafas.
"Jalan kita berbeda aku adalah musuh dalam selimutmu. Jika kau minta menikah itu tidak mungkin. Biarkan aku sendiri atau aku gugurin anak ini."
"Astaga Alexa, nyebut...nyebut. Aku seorang mafia kejam yang tidak pernah berpikir untuk menghabisi lawan, tapi kalau untuk menggugur kan anakku lebih baik kau tembak aku. tidak kuat aku membayangkan."
"Aku akan balik ke pulau, setelah aku menyelesaikan tugasku. Kau bisa menjual gedungnya Alfredo dan Ady Mema. Setelah uang di terima kau boleh ajak Farida ke perusahan Alvaro Derek, ingat bayar pelayan dan pengawal, setelah urusan kau disini selesai kau pergilah."
"Kau mau kemana, apa tidak ikut dengan kami. Tolonglah Alexa jangan mengambil tindakan extrime jika kau hamil."
__ADS_1
"Kita akan hidup bersama selama 0tiga bulan, setelah itu aku akan pergi. Aku akan menyelesaikan tugasku semuanya."
"Aku setuju yang penting jangan gugurkan kandungan. Apapun yang kau minta aku akan belikan."
"Aku tidak minta apapun, yang aku minta, hanyalah kesediaan kau untuk aku persunting." kata Alvaro berharap.
Alexa tidak menjawab dia malah merebahkan tubuhnya. Alvaro ikut naik ke tempat tidur sambil merayu Alexa supaya melanjutkan makan.
"Sayank, lanjutin makannya lagi sedikit saja."
"Aku takut muntah, aku hanya ingin di peluk saja." mendengar permintaan Alexa yang langka Alvaro langsung memeluk selirnya.
Malam ini adalah puncak gairah yang Alexa tunjukkan kepada Alvaro mereka saling membutuhkan dan kembali terulang untuk beberapa kali. Alvaro sangat puas dengan selirnya sehingga dia memutuskan membuat surat pengikat yang berisi sanksi hukum apabila Alexa pergi.
Pukul 04.30 pagi Alexa diam-diam keluar dari kamar, dia menuju lift. Dua pengawal yang menjaga Alexa kedapatan tidur nyenyak di rest area Alexa buru-buru memesan taxi yang banyak berada di sekitar sana.
Menyusuri jalan bronx di pagi buta begini, membuat sensasi tersendiri bagi Alexa. Sepanjang jalan terlihat beberapa preman masih tertidur di trotoar pinggir jalan. Dan ada juga yang masih begadang sambil nongkrong. Terlihat ada tungku api dari drum bekas berderet dengan api masih menyala. Kata sopir taxi daerah ini adalah pusatnya para gangster kambuhan.
"Pak sopir tunggu saya disini, saya mengambil barang-barang di dalam." kata Alexa buru-buru masuk ke rumah Ramos.
"Pak Scurity nyonya sudah pulang?" tanya Alexa ke gardu. Scurity masih terjaga walaupun menguap berapa kali.
Alexa menuju ruang kerja Ramos mengambil lap top, semua file sudah disimpan di lap top. Dia juga mengambil senjatanya yang di ransel dan koper.
Sepanjang perjalanan sopir taxi menguap diantara ocehannya yang lebih pantas dibilang keluhan. Dia mengatakan hidup zaman sekarang susah, banyak korupsi dan pajak menggila.
Alexa tidak begitu menanggapi, dia sibuk melihat ke belakang. Seorang pengendara motor mengikutinya. Alexa menyuruh pak sopir berhenti sebentar didepan CK.
"Pak tolong berhenti sebentar aku mau belanja di CK."
"Baik nona, silahkan." kata Alexa.
Motor di belakang itu juga berhenti. Alexa turun dari mobil masuk kedalam toko. Orang itu juga ikut masuk, Alexa sembunyi di balik tumpukan mie.
"Siapa kau." kata Alexa hampir bebisik. Tangannya yang memegang pisau menempel di punggung pria itu. Kebetulan CK pagi ini masih sepi pengunjung. Karyawannya cuma satu saja.
"Agent number fifty-seven." kata pria itu. Alexa menurunkan pisaunya ternyata feelingnya benar bahwa yang membuntutinya adalah teman sesama Agen rahasia. Dia memilih snack dan minuman dingin. Saat keluar dari CK, tiba-tiba pria itu menodongkan pistolnya kepada Alexa.
"Ambil barangnya kita ada tugas dari Dansus. Kita akan ke sebuah tempat untuk memudahkan tugas kita.
__ADS_1
"Aku naik taxi saja, ada kopernya." sahut Alexa pasrah. Dia memang tidak mau berkelit karena ini tugas. Mungkin ini jalannya supaya pisah dari Alvaro.
"Pak sopir antar dia ke losmen bronx nomor 100x paling ujung."
"Baik Tuan."
Sopir taxi itu memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, hari ini dia sangat beruntung mendapat upah yang banyak dari penumpang nya. Tapi dia agak takut berhenti di nomor 100x karena sering ada pembunuhan disitu.
Kata orang disana sering terjadi transaksi narkoba atau organ tubuh. Ngeri!!.
"Nona, daerah ini adalah pusat perdagangan narkoba dan organ tubuh, yang tinggal disini semuanya mafia. Tolong hati-hati bergaul, ada yang bernama Robestus, itu mafia yang paling ditakuti setelah Ady Mema. Dia adalah algojo paling sadis di wilayah ini."
"Trimakasih pak sudah mengingat kan. Aku akan hati-hati bertindak." sahut Alexa sopan. Dalam agenda nya tidak ada nama Robestus yang terakhir adalah nama Alvaro yang harus dibunuh.
Dia harus bisa menyembunyikan. Keadaan dirinya yang lagi hamil dan keberadaan Alvaro. Bagaimanapun juga Alvaro cintanya.
Mobil taxi itu berbelok dan berhenti tepat didepan sebuah losmen Bronk 100x. Alexa menunggu Agent 57 untuk membantunya menurunkan koper.
"Pak trimakasih." kata Alexa kepada pak sopir sambil memberi dua lembar uang.
"Trimakasih nona."
Agen 57 mengajak Alexa melewatì beberapa laki-laki yang nongkrong di sekitar sana.
"Kalian siapa?" tiba-tiba seorang pria dengan rambut gondrong sudah ada didepan mereka.
"Oh..abang, dia ini pacarku. Kita akan bulan madu disini."
"Oh begitu, boleh donk kalau aku coba dia satu kali...hehe."
"Boleh bang asalkan cari tempat lain, pacarku takut disini."
"Benarkah, kenalkan namaku Robestus nona, kalau kamu namanya siapa?"
"Alexa Tuan." kata Agen 57 datar.
"Silahkan kalian masuk, kalian akan aku periksa dulu takutnya membawa senjata. Siapa tahu, kami antisipasi saja lebih awal."
"Silahkan bang, periksa Alexa bila perlu, di kamar."
__ADS_1
"Aduhh...jangan bikin nafsuku menggila...besok saja, ngumpulin stamina dulu." kata Robestus sambil tangannya meraba gunung kembar Alexa.
*****