
Dua hari mereka menguras tenaga dengan kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Surga dunia, peluh bercampur menjadi satu, Alexa dan Alvaro tidak mau berpisah. Dunia terasa milik berdua.
"Kau mau menikah denganku?" bisik Alvaro mesra.
"Bukankah aku sudah menjadi selirmu, kita sudah menikah siri."
"Aku ingin kau menjadi istri sah supaya anak kita punya orang tua lengkap, punya akte kelahiran."
"Semua wanita ingin menikah sah dan memiliki keluarga yang bahagia, aku juga ingin. Masalahnya aku tidak boleh menikah, karena masih ikatan dinas."
"Ikatan dinas apa, apakah selama ini kau bekerja? seperti polisi saja." kata Alvaro menatap Alexa yang tidur miring disampingnya. Alexa balik menatap Alvaro dengan mata tajam.
Alvaro tiba-tiba merinding, dia ingat omongan Marchel yang mencurigai kalau Alexa adalah mata-mata dari Agent Rahasia Negara. Tanpa sadar Alvaro menarik tangannya dari Alexa Seandainya itu benar bagaimana ngerinya.
"Ada apa sayank?" Alexa heran melihat Alvaro yang tiba-tiba pucat.
"Apakah kau Agent Rahasia Nasional?" tanya Alvaro hati-hati, dia berharap Alexa mengatakan tidak.
Alexa tersenyum, badannya cepat bergeser mendekati tubuh Alvaro. Dan tiba-tiba tangan Alexa sudah menjepit leher Alvaro dengan satu tangan. Alvaro menjerit.
"Hahaha....kau kaget?" Alexa melepas jepitannya.
"Sakit tahu!" kata Alvaro gemetar, dia langsung batuk-batuk. Alvaro sangat kaget akan tindakan Alexa yang berbahaya.
"Kau tahu sayank, hidup, mati, jodoh, Tuhan yang mengatur. Contohnya aku, sudah berapa kali aku mencoba lari dan menghindar, tapi tetap saja aku tidak bisa membuang cintaku kepadamu. Mungkin kita sudah jodoh." kata Alexa mengecup bibir Alvaro.
"Semoga kau mengutamakan cintamu daripada tugasmu. Terus terang lah siapa kau ini?"
"Kau tahu Alvaro manusia itu tidak ada yang sempurna, tapi manusia berusaha menjadi sempurna dengan mengikuti perintah atau aturan."
"Bicara to the point jangan berliku, otakku tidak bisa berpikir lagi."
__ADS_1
"Dari pertama kali kita bertemu aku sudah katakan bahwa, aku akan membunuh kau, karena kau seorang mafia. Penjahat yang sudah banyak membunuh orang. Kau juga perusak generasi bangsa, merugikan negara."
"Kau salah Alexa, aku sudah sadar aku sudah menjual aset-aset yang berhubungan erat dengan dunia hitam. Perusahan Alvaro Derek dan rumahku di bukit sudah terjual. Kini aku membeli hotel bintang lima dan sebuah Villa untuk tempat tinggal. Meninggalkan dunia hitam itu anganku karena...." suara Alvaro serak, matanya berkaca-kaca.
"Karena aku?"
"Karena Marchel telah ditembak musuh. Marchel meninggal. Itu membuat aku sadar, uang tidak akan dibawa mati. Aku butuh istri, anak keluarga kecil." jelas Alvaro berjeda.
Rupanya Marchel lebih berarti. bathin Alexa.
"Jiwaku setengah melayang, aku merasa uang tidak ada gunanya. Untuk itulah aku berjanji berhenti dari mafia. Aku tobat!"
"Syukurlah kau telah insyaf."
Penuturan Alvaro dan persoalannya belum bisa di apresiasi. Biasanya orang-orang yang terjun di dunia hitam akan sulit tobatnya. Tobatnya sesaat saja. Setelah ada teman yang mengajak kembali ke dunia hitam dia pasti terjun lagi.
Alexa berdoa dan menyemangati Alvaro supaya tegar dan dijauhkan dari cobaan dan godaan.
Dia tahu tugas seorang Agent, cepat atau lambat dia akan tetap dibunuh Alexa. Apa yang harus dia lakukan? membunuh Alexa sebelum dibunuh atau tinggalkan Alexa dan pulang.
Sepanjang hari Alvaro melamun, dia tidak enak makan dan minum. Pikirannya mumet, bayangan Alexa yang akan membunuhnya melintas dan menghantui perasaannya. Dia terlalu naif dan mencintai Alexa.
Di hari yang ke empat Alvaro permisi untuk keluar, dia sudah tidak tahan di rumah, kebetulan buah habis. Ada alasan keluar membeli buah untuk Alexa.
"Yank aku mau beli buah, persediaan buah habis."
"Jangan sekarang, nanti kita bareng keluar."
Tapi Alvaro diam-diam keluar. Dia takut berada disamping Alexa, dada nya selalu berdebar jika melihat Alexa memegang pisau dapur. Dia jadi kaget-kagetan. Apa yang harus dia perbuat, tidak menyangka kalau Alexa adalah musuh yang siap membunuh kapan saja. Nyawanya seolah berada di genggaman Alexa.
Pantas saja Alexa gampang masuk menawarkan properti di dunia hitam Internasional. Kalau dilihat skill dari Alexa mempergunakan senjata dan menembak jarak jauh, pasti pangkat Alexa Perwira. Duuhhh berabe!!.
__ADS_1
"Alvaro...sayank..dimana kau?" panggil Alexa tidak menemukan Alvaro saat keluar dari kamar mandi.
Alvaro pasti keluar sendiri. bathin Alexa. Pantas tadi Alvaro buru-buru mandinya. Rupanya dia berencana belanja sendiri. Apa yang akan dia beli. Pasti surprise.
Alexa duduk di depan meja rias menyisir rambutnya. Ponsel Alvoro berbunyi, ada notif. Ternyata Alvaro lupa membawa ponselnya. Alexa iseng membuka whatsapp Alvaro. Ada chat masuk dari Inshira.
"Sayank kau berada dimana, aku mau ke dokter periksa kandungan. Pulanglah segera, aku nitip belikan buah untuk di jus, vitamin juga habis. Cepat pulang, love you." gemetar tangan Alexa menahan marah.
"Aku akan segera pulang sayank, kau istirahatlah, love you." Alexa membalas chat Inshira.
Dada Alexa tiba-tiba sesak, air mata nya menggelinding satu persatu jatuh ke pipi. Kurang ajar!! teganya Alvaro menikahi Inshira. Dia juga lagi mengandung anak Alvaro. Alexa cepat-cepat memasukan pakaian dan senjata satu persatu kedalam ransel. Dia harus pergi sebelum Alvaro pulang. Dasar mafia, tidak pernah menjadi baik, penjahat tetap penjahat. Seharusnya Alvaro dibunuh. Dasar brengsek, teganya kau Alvaro. Alexa terus menangis.
*Alvaro pulanglah ke Inshira, kita memang tidak berjodoh. Aku pergi menjauh bukan karena aku tidak mencintaimu, aku tidak sanggup menjadi yang kedua. Aku sangat egois, dan tidak kuasa melihat kau membagi cinta. Biarkan aku pergi dengan laraku. Semoga kau panjang umur, sehat selalu. Love you!!*
Alexa menulis kara-kata itu dan menjadikan wallpaper di ponsel Alvaro.
Alexa mengambil ranselnya dan turun lewat lift, dia sudah memesan rumah susun yang baru. Dia masuk ke kantor pengurus untuk membayar rumah dalam waktu setahun. Alexa lalu diajak melihat rumah di lantai satu. Dia cocok.
Walaupun dia marah sekali kepada Alvaro, dia tidak mungkin pergi jauh mengabaikan keselamatan Alvaro. Saat ini Agent 57 sedang memburu mereka, itulah yang membuat Alexa mengurungkan niatnya pergi jauh dan berbalik tinggal dirumah susun kembali.
Dia minta lantai satu karena alasan hamil. Kebetulan juga ada, walaupun harga lebih mahal. Tidak masalah bagi Alexa. Lebih baik hidup sendiri daripada sakit hati.
"Pak, kalau ada yang menanyakan tentang saya, jangan diberitahukan. Rahasiakan keberadaan saya disini." kata Alexa wanti-wanti.
"Baik nyonya yang penting penghuni jangan membuat gaduh disini. Saling menghormati dan sopan."
"Baik pak, trimakasih." kata Alexa.
Alexa mengintip lewat jendela keluar suasana di halaman ramai. Orang bolak balik jalan kaki dan banyak pedagang asongan. Posisi kamar Alexa enak, bisa belanja lewat jendela.
Alexa mengunci pintu mengambil senjatanya. Dia memasang senjata runduk di jendela. Bisa saja Agent 57 nongol di sekitar sini karena Alvaro senang belanja keluar. Lagian Alvaro jarang menyamar.
__ADS_1
*****