Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
ALEXA BERTINDAK


__ADS_3

Mark Lewis yang curiga sama Alexa pura-pura baik kemudian duduk disamping Alexa. Dia ingat saat pengawal memukul Inshira, tangan pengawal itu menakai jam tangan hitam tipis mirip di pakai Alexa.


Seperti cerita Inshira, bahwa Alexa wanita pemberani dan kesayangan Alvaro, Alexa adalah selir dari Alvaro Mark Lewis berpendapat lain. Dia berpikir Alexa adalah mata-mata yang sengaja disusupkan oleh Tuan Alvaro, atau untuk melawan musuh dalam selimut. Karena dia sangat tahu kebanyakan mafia memakai jasa orang ketiga.


"Apakah kau yang tadi berada di klinik." Mark Lewis tembak langsung tanpa tedeng aling-aling.


"Disini aku tawanan, kau pasti sudah tahu tidak ada hak untuk melakukan sesuatu yang menyangkut masalah internal, jangan absurd."


"Aku sudah malang melintang di dunia hitam, sangat mengerti mana lawan, mana kawan dan mana siluman. Maaf saja aku mencurigai keberadaan kau disini."


"Aku juga mencurigai kalian, kita bebas menilai orang. Asal kita tidak menuduh sembarangan, harus ada bukti kongkrit."


"Mataku sangat jeli, kilatan jam tanganmu saat memukul Inshira membuat aku ingat sesuatu...."


"Hahaha...Mark Lewis, pengalaman yang kau utarakan tidak membuat kau pandai menilai orang, hanya karena jam tangan murahan kau jadi berprasangka buruk padaku. Silahkan kau keluar dari sini, kau pasti sudah tahu jalan keluar."


"Alexa, jaga mulut kau, Mark Lewis bukan orang sembarangan, hati-hati kau kalau masih ingin hidup." bentak Inshira marah.


"Aku menyuruh dia keluar, karena sel ini tempatku. Disini yang boleh memerintah ku hanya Alvaro, karena dia anak Ady Mema."


"Mark Lewis kita keluar, ngapain ngeladeni orang gila." tangan Mark Lewis ditarik Inshira.


"Kita belum selesai, aku akan membuktikan bahwa kau seorang.."


"Stop!! keluar kau dari sini." teriak


Alexa berdiri. Hampir saja kakinya melayang, untung Mark ditarik oleh Inshira.


Setelah mereka pergi Alexa menuju kamar mandi mengambil pistol. Dia keluar dari sel. Pengawal yang menjaga Alexa sudah mengerti. Dia memberi aba-aba aman. Alexa berjingkat kepojok, dia menempel di tembok menunggu Mark.


Biasanya Mark akan berjalan dilantai satu menuju ke ruangan lain atau keluar dari Mansion. Tentu akan terjadi keributan, karena kejadian di Klinik, pengawal mencari Inshira atau Mark Lewis.


Sekitar sepuluh menit baru kelihatan Inshira dan Mark Lewis keluar dari lantai satu. Mereka terlihat tergesa- gesa. Seorang pengawal mencegat Mark Lewis, Inshira terlihat marah. Alexa mulai membidik kepala Mark Lewis dan " DOOAARRRR..."

__ADS_1


Alexa cepat berlari, menuju sel, dua pengawal mengunci pintu setelah Alexa berada di dalam sel. Pistol dan topeng latexnya serta pakaian pengawal dia taruh dalam plastik dan di lempar ke atas plafon kamar mandi.


Alexa lalu mandi sebentar, selesai mandi dia keluar, dan kaget melihat sepuluh pengawal menodongkan pistol kepadanya.


"Ada apa ini, apa Tuan menyuruh kalian datang untuk membunuhku?" kata Alexa dengan wajah datar.


"Jangan banyak bacot, tamu kita terbunuh di bawah, tembakan pasti datang dari atas, karena kepalanya yang tertembak."


"Apa hubungannya denganku, kalian salah alamat menuduhku."


"Kita akan memeriksa kamar ini."


"Silahkan." Alexa membiarkan mereka masuk kedalam. Berdebar juga hatinya karena pintu plafon tidak di tutup.


Mereka berdebat di kamar mandi mengenai pintu plafon yang terbuka. Siapa yang bisa naik tingginya tiga meter dan tidak ada tangga.


"Kami tetap akan menangkap dan membawamu ke persidangan." dua orang pengawal memegang Alexa dan memborgol tangannya.


"Tidak apa-apa kalian menjalankan tugas, taat peraturan."


Alexa di suruh berdiri di samping kursi listrik, satu persatu mereka masuk. Farida, Inshira, Marchel, Alvaro dan paman serta pengawal inti yang bertugas menghalau perusuh.


Gadis itu berdiri tanpa ekspresi, mereka semua marah menatap Alexa, termasuk Alvaro. Kecuali Marchel yang sudah satu kata dengan Alexa dalam memberantas musuhnya Alvaro.


"Alexa hanya kau yang menjadi tersangka disini, kau kelihatan memakai jam saat memukul Inshira di Klinik." Farida mulai angkat bicara, dia menatap Alexa dengan ketar- ketir. Dia takut Alexa akan membuka aibnya.


"Aku tidak masalah kalau kau menuduhku, tapi kenapa Inshira bisa dipukul, apa dia ingin membunuh Ady Mema dan orang yang memakai jam tangan itu menggagalkan aksinya?"


Sunyi sebentar. Mereka saling pandang. Alvaro menatap selirnya, tapi Alexa membuang muka. Dia kesel sama Alvaro yang tidak pernah membantunya saat-saat susah.


"Lihat CCTV." perintah Alvaro.


"Saat itu CCTV mati total."

__ADS_1


"Berarti sudah ada rencana jahat untuk membunuh Ady Mema. Mereka sudah menaruh orang di bagian CCTV." kata Alexa lantang.


"Bukan itu saja kau telah membunuh Mark Lewis." pekik Inshira kesal.


"Apa buktinya, bukankah kalian berdua datang ke sel, memakiku, menghina dan mengancam akan membunuhku tengah malam nanti."


"Aku tidak ada ke sel, dia pembohong. Dasar perempuan rendahan." protes Inshira kesal.


"CCTV masih mati saat itu, jadi kita panggil pengawal." kata Paman Rodrigo adiknya Ady Mema.


Dua orang pengawal inti kepunyaan Alvaro sangat menjungjung tinggi kesetiaan kepada Alexa, Alvaro dan Marchel. Tidak mungkin mereka mau memberatkan Alexa. Apalagi kenyataannya memang benar, seandainya tidak benar mereka tetap tutupi.


Malam semakin merangkak, Alexa di jejali banyak tuduhan, Alexa yang biasa mengintimidasi orang hanya tersenyum dan sangat gampang mematahkan tuduhan itu. Jawabnya cuma satu berdalih


"Saya tawanan disini, dan ada di sel sepanjang hari, bagaimana bisa kelayapan, apalagi mau membunuh orang." jawab Alexa sinis.


"Aku yakin dia pembunuhnya." Inshira tetap dengan pendapatnya.


"Dari kejadian ini kalian harusnya berterimakasih terhadap sang pembunuh. Kalau tidak dibunuh dia terus akan mengincar nyawa Ady Mema, dengan meninggalkan Ady Mema banyak orang diuntungkan. Termasuk Farida menggantikan sang suami atau sosok lain yang dipilih olehnya. Terserah siapa yang terpilih. Tujuan utamanya hanya satu, pemimpin baru akan memakai kekuasaannya untuk menghukumku sampai mati. Yang menginginkan aku mati adalah Farida, Inshira ntah siapa lagi. Jadi kalian bisa terbuka pikirannya, dan bisa menyimpulkan kerawanan serangan di klinik. Semua orang bisa membunuh Ady Mema untuk tujuan mereka masing-masing." jelas Alexa.


"Siapa peduli omonganmu, pergi kau ke sel. Kubur saja diri kau disitu." Farida marah sekali dan menyuruh pengawal mengajak Alexa pergi. Tidak ada yang protes atau kembali mencari pembuktian baru. Mereka menutup kasus itu dengan perasaan tidak puas, bagi Alvaro dan yang lainnya terasa bicara Alexa ada benarnya juga.


Malam semakin merangkak, Alexa merebahkan tubuhnya di lantai. Dia seolah mendengar suara langkah kaki mendekat. Alexa membuka matanya dan mendapatkan Alvaro sudah berada di sampingnya.


Pria itu berjongkok dan menarik badan Alexa supaya bangun.


"Pindah ke kamar, aku tidak mau tidur tersiksa disini." kata Alvaro memeluk Alexa.


"Ke kamar duluan, sebentar lagi aku kesana."


"Benarkah?" mata Alvaro berbinar ketika Alexa mau datang ke kamarnya. Alexa mengangguk sambil tersenyum. Dia mau menerima ajakan Alvaro karena Alvaro menjadi target pembunuh.


Alexa berjalan pelan lewat tangga darurat. Sangat gelap, dari sini dia bisa melihat Klinik yang jauh di penuhi oleh banyak pengawal.

__ADS_1


****


__ADS_2