
Setelah selesai pemakaman, Alvaro mulai berbenah diri. Satu persatu kamar dia buka, jika ada barang, dia memerintahkan pelayan untuk mengumpulkan. Semua file-file di masukan ke koper. Hari ini Alvaro berusaha secepat mungkin bekerja karena dia sudah ingin pergi dari pulau ini.
"Permisi Tuan, ada tamu datang ingin bertemu dengan Tuan." kata seorang pelayan sopan.
"Suruh Marchel saja..." jawab Alvaro. spontan, bicara tanpa sadar. Dia Cepat meralat omongannya, setelah pelayan mengingatkan bahwa bos Marchel sudah meninggal dunia.
Alvaro mengurut dada, dia terhenyak pandangannya kosong, sekarang dia sendiri tanpa Marchel. Terasa sedih. Kemudian dia turun ke lantai dasar menemui dua laki-laki penuh tatto. Sampai seluruh wajah, mata dan badan bertatto. Mereka memakai kaos hitam yang punggungnya bertulisan "The Killer" horor banget.
"Hallo Alvaro, kau masih ingat paman Pablo?" kata laki-laki kedua berdiri. Dia mengangguk sok akrab.
"Tentu aku ingat paman, tapi kau bukanlah paman Pablo."
"Tentu, karena aku anak kedua dari paman kau. Dan ini temanku Vandu."
"Oh begitu, bagaimana kabarnya paman?" tanya Alvaro seraya duduk di sofa. Dua orang pengawal berdiri di samping kanan dan kiri Alvaro.
"Yang namanya penjahat umurnya pasti pendek, kalau tidak membunuh pasti dibunuh. Nanti kita begitu juga, tunggu tanggal mainnya. Jika kita hidup sampai tua pasti hasil akhir di kursi roda....hahaha.."
"Benar sekali Vandu. Omong-omong kalian datang kesini perlu apa?"
"Aku ingin membeli gedung ini, ingin memiliki sebagai kenangan, dimana aku sering bermain kesini bersama ayahku. Kangen masa kecil." ucap Denovan.
"Dari kemarin banyak yang berminat telpon terus berdering, tapi belum ada kecocokan dalam harga."
"Mungkin mafia kambuhan mana punya uang. Berapa harganya siapa tahu aku ada uang."
Alvaro mulai melempar harga dan membumbui dengan kata-kata manis, tentang historis gedung ini dan gedung Alfredo. Dia juga mengatakan bahwa surat-surat sudah ada di notaris, tinggal kesana saja kalau cocok."
"Hahaha...itu harga murah, kita di casino bisa habis-habisan. Kedua gedung akan aku beli. Sebelumnya aku mau keliling melihat seluruh ruangan. Kebetulan aku mengajak pendulum kesini."
"Silahkan melihat sekeliling, waktu ini hanya lantai satu disambar api, itupun hanya kamar saya saja yang parah selebihnya masih bagus."
__ADS_1
" Kelihatan, nanti cukup di renovasi dikit, setelah itu ditempati. Permisi,
kami naik dulu."
Mereka berdua naik ke atas. Alvaro memerintahkan dua pengawal untuk mengikuti Denovan.
"Kalian istirahatlah, tinggalkan kami berdua. Aku sudah hafal disini, dulu waktu kecil sering kesini." kata Denovan melarang pengawal untuk mengikutinya.
"Tidak apa-apa, Tuan adalah tamu kami, saya harus sopan dengan tamu." kata pengawal merasa curiga Denovan melirik temannya berbisik sesuatu.
Sampai dilantai tiga Denovan dan Vandu beraksi. Sebuah pendulum di keluarkan dari tasnya. Vandu mulai memasuki kamar satu persatu dan menggoyang-goyangkan benda itu ke kiri dan ke kanan.
"Mau mencari apa Tuan, disini tidak ada sumber air, karena lantai tiga."
"Kami hanya mengecek kekuatan bangunannya." jawab Denovan acuh.
Saat berada di sel yang dulu tempat Alexa di sandra terdengar suara pendulum berdesis dan bergoyang- goyang. Wajah Denovan sumbringah dan bersemangat.
Alvaro masih duduk di ruang tamu sambil memerintahkan pelayan memasukan barang ke koper.
"Alvaro, aku akan mengambil gedung ini dan gedung Alfredo. kita transaksi dihadapan notaris. Aku akan menelpon saat aku berangkat."
"Oke, tapi aku minta DP dulu, banyak sekali peminatnya. Jika tidak jadi aku tidak terlalu rugi." kata Alvaro takut terjadi seperti Ramos.
"Saya akan memberi dua cek. Untuk gedung Ady Mema dan gedung Alfredo. Setelah itu kita bertemu di notaris."
"Trimakasih Denovan dan Vandu, semoga bisnis kalian lancar." kata Alvaro tersenyum.
"Aku hampir lupa, siapa brokernya sehingga kalian tahu gedung ini mau di jual?" Denovan menghentikan langkahnya, dia duduk kembali.
"Ini hanya inisial saja, disamping itu kami dari dulu tertarik dengan gedung ini. Yang membuat aku mau mengambil gedung ini, adalah benda yang tertanam di rumah ini." Vandu cepat menginjak kaki Denovan yang hampir membuka rahasia mereka.
__ADS_1
"Apa yang ada disini?"
"Tidak ada apa-apa kami guyon." kata Denovan melirik Vandu, mereka lalu pergi dengan tergesa-gesa.
Setelah pembeli itu pergi, kedua pengawal yang mengikuti Donovan naik ke lantai tiga, mengadu tentang tingkah kedua orang itu yang aneh. Vandu membawa pendulum dan menemukan bunyi aneh di sel. Dulu sel itu adalah tempat Alexa di kurung.
"Apa yang mereka cari?" tanya Alvaro penasaran.
"Saya tidak mengerti, apa dia berpikir ada harta karun disitu?"
"Biarlah, terserah dia, yang penting kita cepat pergi dari pulau ini." kata Alvaro tidak peduli, dia lebih memilih mencari iklan properti di market place internasional yang dibuat oleh Alexa.
Senyum Alvaro mengembang ketika membaca iklan itu yang dibuat Alexa. Gadis itu memprediksi ada harta karun di sel lantai tiga gedung Ady Mema. Dia juga menulis bahwa digedung Alfredo ada juga harta.
Pantas banyak orang yang tertarik. Semua omong kosong, Alvaro tertawa. Ntahlah...Alexa berada dimanapun selalu membantunya dengan segala cara.
"Alvaro, aku melihat ada dua orang kesini mau membeli gedung kita, apakah uang mukanya sudah ada?" celetuk Farida nyelonong masuk.
"Berupa cek maa...jika gedung Alfredo laku itu bukan wewenang mama. Alexa punya setengahnya dan setengah lagi Aku. Kalau gedung papa semua mama yang punya." Alvaro mengingatkan. Alvaro mulai gerah dengan sikap Farida yang serakah dan egois.
"Kenapa ada Alexa, dia orang luar." ucap Farida kesal.
"Karena Alexa punya saham casino yang di Macao, sudah kesepakatan sebelum Alfredo meninggal. Mama tidak usah ikut campur masalah ini. Uang hasil penjualan gedung Ady Mema sangat besar, mama bisa membeli hotel, mobil atau private jet, aku tidak akan minta." kata Alvaro tegas.
"Yach, mama mengalah, asal benar. Jangan kau menipuku."
"Yaelahh mamaa...aku anak yang berbakti." Alvaro tersenyum tipis.
Alvaro sudah bertekad akan mundur dari mafia, dia akan mengumumkan setelah berada di perusahan Alvaro Derek. Biasanya orang-orang sesat akan pura-pura membeli alat-alat berat atau alat fitnes, padahal itu hanya kamuflase. Didalam besi-besi itu terdapat narkotika.
Pukul 10.15, hari kamis, bulan Juli, hampir dua bulan Alvaro berada di pulau Bronx. Kini dia meninggalkan pulau itu dengan suka dan duka. Suka karena banyak uang dari hasil menjual perusahan Ady Mema dan perusahan Alfredo. Duka karena meninggalnya orang-orang tercinta yang telah terbunuh.
__ADS_1
*****