Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
MENGAMBIL PERUSAHAN ALFREDO


__ADS_3

Langkah Alvaro mendadak terhenti dia merapikan dasinya secara, ada perasaan insecure. Keringat dingin membasahi wajahnya, ini saat paling dia tidak sukai. Sepanjang sejarah belum pernah dia merasa down begini, Alexa bukan lawan, dia selir nya tapi kenapa hati ini tidak enak. Harusnya dia tidak terpengaruh akan kelakuan Alexa, tapi otaknya tidak bisa bersabar.


Marchel menyodorkan tissue basah kepada Tuannya, dia heran melihat Alvaro yang biasa garang tiba-tiba menjadi letoy begini. Apa sebabnya, sungguh dia tidak habis pikir.


"Tuan, Alexa adalah selir anda kenapa anda merisaukannya. Dia bukan tandingan. Ingat dia wanita, seorang wanita akan selalu lemah dihadapan laki-laki, bukan anda yang harus lemah."


"Bukan begitu, aku tidak menyangka akan begini jadinya. Aku yang salah, dulu pernah bikin perjanjian jika dia mau jadi selirku akan aku kasi 50 persen saham di Macau. Tapi itu iseng, tidak ada hitam di atas putih, tidak ditulis. Aku tidak merasa ada tanda tangan, pokoknya aneh kalau dia bisa menguasai Macau."


"Tidak semua orang bodoh, aku tetap menganggap dia orang baik, cerdas. Kalau dia tidak baik mungkin saja kita sudah habis di bunuh satu persatu olehnya. Apa salahnya kita bertemu dan bertanya serta minta tolong supaya income Alfredo bisa masuk ke rekening Tuan atau kepemilikan perusahan ini jatuh ke tangan Tuan." saran Marchel.


Alvaro mengusap wajahnya, masalah di tempat tidur membuat dirinya merasa tersakiti. Alexa tidak menghinanya, tapi dia merasa tidak enak hati. Apakah ini sebuah karma? dulu dia semena-mena dengan banyak wanita main perkosa saja dan jika bosan dia mencampakan atau di bunuh tanpa prikemanusian. Tubuhnya merinding mengingat itu semua.


"Aku menemui Alexa sekarang, kau jangan ikut. Aku pakai rayuan kama sutra." kata Alvaro berdiri.


"Kama sutra, apa itu?" Marchel heran melihat tingkah lebay Alvaro akhir-akhir ini.


Alvaro merapikan dasinya dia keluar dan melangkah menuju ruangan Alfredo. Disini jarang ada karyawan yang masuk, mereka berkomunikasi lewat online dan pergerakan mereka di pasar gelap, lebih nyaman bagi mereka.


Sampai di depan ruangan Alfredo pintu sudah terbuka, berarti Alexa sudah mendeteksi kedatangan Alvaro. Setelah Alvero masuk pintu otomatis tertutup.


"Silahkan duduk, kau mencari aku?"


"Aku menanyakan 50 persen yang dulu kita sepakati apa sudah terealisasi?"


"Alvaro kau gembong mafia yang di segani, kenapa akhir-akhir ini mental kau menjadi merosot?"


"Semua gara-gara kau." kata Alvaro.


"Silahkan kau keluar kalau sudah mengerti."


"Apa maksudmu, kau belum jawab yang 50 persen itu."


"Buka ponselmu semua sudah aku balas." kata Alexa.

__ADS_1


"Oh..trimakasih. Aku permisi dulu."


"Silahkan."


"Alexa kenapa pintu tidak bisa dibuka, mungkin perlu sidik jarimu."


"Tadi kau masuk pakai jempol?"


"Aku lupa, terlalu canggih jadi ribet sendiri."


"Jempol kirimu di tekan disini beberapa kali, kalau sudah pas pasti pintu akan terbuka."


Apapun yang disuruh oleh Alexa, Alvaro menuruti, dia tidak sadar ditipu, semua harta Alfredo sudah menjadi milik Alexa.


Setelah Alvaro keluar Alexa mencari situs pasar gelap ke Sisilia, Brasil, Meksiko, dia mau menjual properti dan perusahan Alfredo include


dengan casino. Dan semua hasil dari penjualan ini akan setengah di sumbangan dan setengah untuk Alvaro.


Belum sampai tiga puluh menit sudah ada tujuh penawaran. Apalagi para gangster mafia sudah tahu kredibilitas perusahan Alfredo yang terkenal solid dan ditakuti lawan.


"Apa maksudmu dengan potongan 50 oersen ini, mulai kapan kau melakukannya kenapa tidak bilang kepada kami."


"Untuk apa aku berkata sesuatu yang akan membuat kalian marah?"


"Kenapa kau jahat, apa kau tidak malu merampas hak orang."


"Aku belajar dari kalian. Aku rasa rampas merampas adalah ilmu yang biasa di terapkan di dunia hitam. Tidak ada salahnya aku berbuat sama seperti kalian, bukankah kalian suka melakukan itu kepada orang lain. Kalian merampas milik mereka, harta benda dan bahkan nyawa mereka."


"Tapi kau bukan mafia dan kenapa kau memilih sasaran ke perusahan Alfredo, banyak perusahaan lain yang lebih bonafide bisa kau rampas."


"Karena aku bangga mendapatkan perusahaanmu. Aku akan menjual perusahan Alfredo dan hasil dari penjualannya aku serahkan kepada negara."


"Apa-apaan kau ini."

__ADS_1


"Kalau kau tidak puas kau boleh lapor polisi, menuntut sampai ke Makamah Agung aku ladeni." kata Alexa.


Keadaan tidak kondusif, suasana hati Alvaro sedang kacau. Bayangan akan mendapat perusahan Alfredo musnah sudah. Tidak menyangka kalau Alexa akan menipunya, gadis itu diam-diam menjungkir balikan keadaan.


"Alvaro, Marchel apakah kalian akan melawan aku secara fisik atau hukum?" tanya Alexa ketika melihat rasa putus asa di wajah Alvaro.


"Aku tahu ruangan ini banyak terisi senjata rahasia yang tersembunyi, jika aku salah gerak atau salah bicara, aku takut sesuatu akan lewat di kepalaku. Untuk sementara aku mengalah. Aku hanya menuntut kau menjadi selir yang sesungguhnya, jangan main-main."


"Maaf Alexa aku tidak bisa berkata banyak, tindakanmu ini pasti sudah di pikirkan matang-matang dengan konsekuensinya. Aku disini hanya seorang ajudan, membantumu juga tidak bisa, aku harapkan semoga kau puas dengan pencapaianmu." kata Marchel, dia tahu Alexa anak Farida makanya dia membiarkan segalanya terjadi. Ntah dosa apa yang dibuat Farida sehingga Alexa datang membawa dendam.


"Aku akan menepati janjiku, jangan khawatir." kata Alexa membuat Alvaro sedikit lega.


Setekah lama berdebat akhirnya diambil keputusan, perusahan boleh dijual, setengah hasilnya untuk Alvaro dan setengah untuk Alexa. Sedangkan pengawalnya bergabung dengan perusahaan Ady Mema.


"Kau puas Alvaro?" tanya Alexa dengan menatap laki-laki di depan nya. Alvaro tidak menjawab, dia menarik nafas panjang matanya menatap kosong.


"Setelah ini kau kemana, apa kau akan diam disini atau pulang."


"Aku mau disini, sampai urusanku selesai dengan buyer. Malam mungkin aku pulang."


Alvaro berdiri, kemesraan yang biasa dia tampilkan seketika hilang. Tidak ada senyuman dibibir. Alexa tidak peduli, dia bertugas harus mengendalikan sarang mafia dan memberantas mafia pemula yang jual beli narkotika di lintas negara.


Dengan langkah gontai Alvaro keluar dan menuju ke rest area. Dia duduk bersandar di bangku.


"Tuan pengawal bagaimana?" tanya Marchel duduk di sebelah Alvaro.


"Aku tidak bisa berpikir, masih ragu dengan tindakan Alexa. Seorang mafiapun tidak bisa mengambil ke sempatan secepat dan serapi ini. Tiba-tiba saja perusahan hilang."


"Kita baru kenal dia, sedangkan dia sudah sepuluh tahun yang lalu mengenal kita bahkan memburu keberadaan kita."


"Kau tahu dari mana?" tanya Alvaro menoleh kepada Marchel.


"Tahu dari mulut Alexa, dia sering bilang mau bunuh karena dendam. Harusnya kita tanya dia dendam dengan siapa."

__ADS_1


"Nanti malam aku tanyain." ucap Alvaro.


*****


__ADS_2