Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
SERANGAN DI MALAM HARI


__ADS_3

Pukul 17.06 Alvaro baru pulang, sebelumnya seorang waiter sudah membawakan makan malam untuk mereka. Waktu itu Alexa iseng bertanya kepada waiter itu, apakah penghuni Villa di sebelah rutin dibawakan makan?


"Sesekali nyonya, sebulan dua kali kadang juga tidak. Kalau ada hari istimewa baru dibawakan." Jawa waiter itu sopan.


"Berapa Tuan punya Villa disini?"


"Baru enam puluh unit, target Tuan seratus unit. Itupun sudah sold out karena harga terjangkau dan views nya bagus. Villanya ada di atas tebing. Pokoknya sangat indah nyonya."


"Hotelnya juga penuh?"


"Penuh semuanya, di pulau ini jarang ada hotel kosong, peminatnya banyak sekali."


"Disini ada pengawal dan pelayan?"


"Maksud nyonya?"


"Sudahlah, trimakasih." kata Alexa menyudahi obrolannya.


Dia tidak menyalahkan Alvaro kalau dia berbohong, segala tindakannya pasti dia sudah pikirkan baik-baik. Alexa hanya bisa mendoakan supaya Alvaro bisa hidup lebih baik, apapun Alvaro lakukan semoga lancar.


Pukul 19.00 Alvaro baru datang, dia langsung menuju meja makan. Kebetulan Alexa masih duduk di sana membuat jus.


"Sayank, kau tadi banyak bertanya dengan waiter?" tanya Alvaro khawatir. Alexa berdiri dan memeluk Alvaro.


"Pertanyaan basa basi. Minumlah dulu. Jangan khawatir, aku tidak akan meninggalkanmu sebelum anak kita lahir."


"Segala yang aku lakukan untuk kita dan anak kita kelak. Jika aku salah tegurlah, aku berusaha berubah dan memperbaiki kekeliruanku."


"Alvaro aku bangga padamu, aku tidak menuntut banyak, kau sudah dewasa punya akal dan pikiran, dalam hidup ada agama sebagai tolak ukur kita bertindak, ada Tuhan sebagai tempat kita bersujud. Jadi pilihlah jalan yang baik yang diridhoi Tuhan, supaya hidupmu tenteram."


"Kau tahu sayank, kalau kau sudah berceramah begini, aku jadi takut suatu hari nanti kau meninggalkan aku. Ini seperti pesan-pesan terakhir untukku." Alvaro langsung memeluk Alexa.


"Yaelahh...kau berpikir ngelantur. Ayo kita makan, aku yakin kau senang dengan makanan sea food."

__ADS_1


"Semua sepertinya enak." kata Alvaro ketika melihat Abalon dengan saos tiram.


Kompromi dengan hati, berusaha tidak mendengarkan nyinyiran orang, itu yang dilakukan Alexa. Dia lebih memilih khusuk dengan kehamilannya dan selalu berpikiran positif.


Hari-hari nya dilalui dengan gembira dan kemesraan yang dalam. Dia sangat nencintai Alvaro, dan begitu juga sebaliknya. Jika di kemudian hari dia pergi supaya Alvaro puas dengan kehadirannya sekarang.


Tiga hari kemudian, di malam hari, saat Alvaro pergi ke Hotel karena ada tamu komplain, nyonya Rodrigo tidak bisa menahan kehendaknya untuk bicara. Kadang memang keinginan tidak sesuai kenyataan, nyonya Rodrigo membuat rapat mendadak dengan Farida, Inshira dan empat pelayan serta empat pengawal.


"Kalian tahu, umur kandungan Alexa hampir sama dengan perut Inshira. Villanya bagus dan perabotannya banyak dan up to date. Makanannya setiap hari diantar oleh waiter." nyonya Rodrigo mulai menghasut nyonya Farida yang asyik minum Wine.


"Aku yakin nama hotelnya gabungan dari nama Alvaro dan Alexa. A+A. kita ternyata di kesampingkan." Inshira menambahkan supaya lebih afdol. Dia melirik nyonya Farida yang kelihatan mulai setengah melayang.


"Biarkan saja Alvaro, jangan diurus. Dia mau jungkir balik atau menikah, aku tidak peduli. Aku sendiri lagi pusing dikejar-kejar mafia." Farida yang dari tadi diam nyeletuk kasar. Mulutnya bau alkohol, dia beberapa kali cegukan.


"Kenapa kau berurusan dengan mafia, bukankah hutang kau sudah lunas, apalagi yang kau kerjakan?" tanya nyonya Rodrigo marah.


"Aku berhutang di Las Vegas, jika mereka mencari aku suruh mereka minta uang sama Alvaro." kata Farida sambil menyesap minuman yang masih sedikit sampai tandas.


"Kau membuat masalah, uang sebanyak itu kau habiskan. Kau pasti ditipu Anahita. Suruh mereka bunuh Anahita saja....."


Belum selesai nyonya Rodrigo rapat tiba-tiba ada suara pintu di tendang. Empat orang laki-laki kekar bertatto masuk kedalam dengan wajah kasar dan bengis. Badan mereka hitam dan rambutnya kriting, mirip orang Afrika. Mereka berbahasa Inggris.


"Kau mau bayar atau mata kau aku congkel!!" salah satu dari mereka mendekati nyonya Farida. Serta merta Farida dan seluruh yang ada gemetaran karena takut.


"Ampun...Ampun...aku minta tempo besok pasti aku bayar." kata Farida menangis menjawab dengan bahasa Inggris fasih.


"Tuan kasih tempo sehari, kalau besok dia tidak membayar boleh Tuan bunuh Alexa. Itu anaknya yang membawa semua uang ibunya." nyonya Rodrigo yang bisa bahasa Inggris juga ikut menjawab.


"Itu benar Tuan Villanya di sebelah ini, yang paling mewah. Cari saja dia, kebetulan dia sendiri berada di rumahnya." kata Inshira gemetaran. Dia berdoa dalam hati semoga Alexa dibunuh oleh mafia ini.


"Kalian berdua cari anaknya di sebelah, aku menyandra mereka disini." kata salah satu dari ke empat mafia itu kepada temannya.


Farida yang tadi setengah mabuk menjadi sadar saking takutnya. Dia gemetaran sampai kakinya lemas.

__ADS_1


"Siap boss!"


Dengan langkah cepat kedua pria itu menyambangi tempat tinggal Alexa. Sudah menjadi kebiasaan bagi mafia ini kalau datang ketempat para penjudi pasti kasar. Mereka akan menendang atau mendobrak pintu untuk sensasi sadis yang membuat down para penjudi klas teri. Itu tehnik yang kerap berhasil.


"Keluar kau brengsek, bayar hutang ibumu yang mencapai ribuan dolar. Sampai kau tidak bayar nyawa kau melayang." teriak mereka membuat Alexa kaget.


Alexa turun dari ranjang mengambil pistol Alvaro di laci. Dia berteriak dari dalam kamar.


"Siapa kalian dan hutang apa ibuku?" tanya Alexa dengan suara tinggi.


"Ibu kau hutang di Las Vegas, mereka sekarang kami sandra di Villa sebelah. Kami kesini menagih uang yang kau rampas dari ibu kau."


"Oke, aku keluar. Aku dalam keadaan hamil besar, tolong kau manusiawi bersikap. Aku akan membayar hutang ibuku dengan cek." kata Alexa.


"Kami akan mematuhi permintaan kau, asal kau bayar hutang Farida."


Alexa menyelipkan pistolnya Alvaro di kantong daster sebelah kanan. Dia perlahan membuka pintu. Tadi dia sudah memakai rompi anti peluru untuk berjaga-jaga.


"Selamat malam tuan-tuan." kata Alexa menatap kedua begundal itu.


"You're so beautiful and sexy, how about you sit on my lap for a few seconds?"


Mendengar perkataan begundal itu mendadak kemarahan Alexa meluap tanpa aba-aba Alexa mengambil senjatanya dan " DOOAARRRR ..."


Dua kali letusan senjata membuat mafia yang berada di tempat Farida saling pandang, mereka curiga, karena tidak mungkin pistol kedua temannya berbunyi.


"Kill them!!" teriak mereka hampir berbarengan. Pistol mereka serta merta menyalak dan membunuh Farida, nyonya Rodrigo, Inshira, pengawal serta pelayan. Habis semua.


Kedua begundal itu lari ke tempat Alexa. Mereka berteriak marah ketika melihat tubuh temannya sudah tergeletak tidak bernyawa. Mereka memaki dan menantang.


"Keluar kau setan, lawan aku!!"


Alexa menarik pelatuk senjatanya beberapa kali. Setelah begundal itu roboh dia lalu beranjak dari balik pohon perdu.

__ADS_1


*****


__ADS_2