
Alexa risih diperlakukan semena- mena oleh Robestus. Untunglah temannya Robestus datang dan mereka pergi.
Sampai di kamar Agent 57 Alexa ngedumel menyalahkan pria itu sehingga Robestus meraba asetnya.
"Kita ini seorang Agent Rahasia Negara, harus profesional, jika itu yang terjadi terima saja. Tujuan utama kita adalah membunuhnya."
"Tapi kau memakai aku umpan sebelum kau tahu kekuatan lawan. Gimana kalau aku dipakai target?"
"Aku sudah seminggu disini dan menyelidiki Robestus, jadi aku tahu apa yang harus aku lakukan. Untuk memancingnya keluar aku harus bawa kau sebagai umpan."
"Sudahlah siapkan senjataku."
Menjadi Agen Rahasia Negara risikonya sangat tinggi. Pilihannya ada dua, membunuh atau dibunuh. Harus bisa menempatkan diri dimana berada. Alexa berharap bisa melaksanakan tugas ini dengan baik tanpa harus ketahuan dan campur tangan pihak ketiga dari lawan.
Di hotel Alvaro perlahan membuka matanya, dia kaget dan meloncat bangun ketika tidak melihat Alexa disampingnya. Di kamar mandi juga tidak ada. Alvaro mulai menyadari kalau Alexa kabur. Dia keluar kamar memarahi kedua pengawal yang berjaga.
"Kita pulang." kata Alvaro dengan wajah merah padam. Dia harus mencari Marchel, hanya Marchel yang tahu cara mencari Alexa.
Sampai di Mansion Alvaro melihat mamanya bicara dengan orang asing di halaman luar.
"Ada apa ini?" tanya Alvaro tenang.
"Bapak ini mau beli Mansion ini." kata Farida kurang senang melihat Alvaro datang.
"Kalau begitu silahkan duduk di dalam, saya juga menjual gedung sebelah."
"Yang ini dulu. Tadi saya sudah melihat sekelilingnya. Saya membeli bukan karena bangunannya, tapi karena historisnya. Saya baru ditawarkan sudah langsung oke."
"Syukurlah, semoga Tuan suka. Dari tadi kita bicara, kenalkan nama saya Alvaro dan ini mama saya Farida."
"Oh ya nama saya Robestus, saya sudah lama mengincar tempat ini. Sekarang baru kesampaian."
"Ngomong-ngomong siapa brokernya?"
"Nona Kussy."
Alvaro dan Farida langsung terdiam. Dimanapun Alexa dia selalu ingin membantunya. Alvaro sudah tahu Kussy itu Alexa.
"Apa Tuan sempat berkomunikasi dengannya?"
"Tidak, di iklan dia membubuhkan tiga nomor ponsel untuk dihubungi."
__ADS_1
Tampak Farida kesal dan curiga terhadap Alexa yang tanpa izinnya mau menjual Mansion.
"Alvaro apa maksud Alexa menjual Mansion kita, manusia rakus harta. Kirain sudah mati."
"Tidak ada yang salah, Alexa cuma membantu saja, karena aku dan Marchel tidak bisa menembus pasar internasional." jelas Alvaro kesal. Dia tidak habis pikir kenapa Farida selalu menyalahkan Alexa.
"Disitu ditulis buka harga seratus lima puluh miliar, saya ingin tahu berapa luas tanah disini."
"Ada sertifikat aslinya, saya panggil ajudan dulu." kata Alvaro mau berdiri.
Tapi notifikasi ponsel nya berbunyi. Alvaro membuka whatsapp dan kaget melihat foto copy sertifikat tanah, lengkap luas dan rincian harga, serta urusan jual beli. Alvaro sampai terharu terhadap bantuan Alexa disaat kebingungan, Alexa selalu muncul. Kenapa tahu dia lagi transaksi apa Alexa menaruh benda perekam?.
"Saya akan forward ke ponsel Tuan, tolong nomor ponselnya."
Robestus memberikan nomor ponselnya. Sebagai buyer dia tinggal mengikuti keinginan owner, asal sertifikat dan kenyataan sama.
"Bagaimana Tuan apa anda cocok dengan harganya?"
"Saya setuju harganya dengan syaratnya juga, saya minta tolong pajaknya tolong di lunasi."
"Saya akan lunasi, itu gampang. Maaf sebelumnya saya minta DP supaya ada tanda jadi masalahnya banyak peminatnya." kata Alvaro tegas. Dia tidak ingin di php atau pemberi harapan palsu.
"Kira-kira kapan ke notaris?"
"Seminggu lagi Tuan Alvaro, saya punya notaris sendiri."
"Tidak apa-apa Tuan, notaris mana saja boleh, saya tidak fanatik dan kebetulan gedung ini punya papa saya. Mungkin untuk selanjutnya mama yang akan transaksi."
"Nanti semua uangnya masuk ke rekening saya." sela Farida pongah.
"Saya mau pelajari dulu nyonya, ini perusahan, siapa tahu ada anak ibu atau orang lain yang diwasiatkan. Untuk itu saya juga ingin bertemu dengan notaris nyonya."
"Besok Tuan sudah boleh bertemu." kata nyonya Farida.
"Mungkin tiga atau empat hari lagi saya baru bisa datang."
"Trimakasih Tuan Robestus, dalam seminggu ini pasti sudah selesai."
Setelah Tuan Robestus pergi Alvaro mencari Marchel di belakang. Farida mengikuti Alvaro, dia merasa Alvaro mau main curang.
"Alvaro, mana cek uang mukanya?" tanya Farida kesal.
__ADS_1
"Mama, itu uang tanda jadi, kita tidak boleh mencairkannya dulu." pungkas Alvaro.
"Kau mau nipu aku Alvaro?"
"Kita akan cair kan, tapi mama hanya boleh mengambil lima miliar saja." kata Alvaro, karena dia belum tahu siapa saja sahamnya disini. Farida selalu rakus dan tidak tahu diri. Kadang Alvaro kesal dibuatnya.
"Mengapa harus begitu, aku punya hutang sepuluh miliar lagi Alvaro."
"Aku kasi sepuluh miliar lagi, untuk mama bayar hutang. Berarti hutang mama sudah lunas, jika Mansion di bayar lunas mama bisa simpan uangnya." kata Alvaro tegas. Dia lalu menyuruh mamanya menunggu di mini bar.
Melihat Alvaro datang Marchel cepat menemui bos nya. Dia baru saja bangun dan minum kopi ramai- ramai bersama pengawal dan dua orang pengawal inti sambil bergosip ria tentang Alexa yang kabur.
"Tuan mencari aku?" tanya Marchel menghampiri Alvaro.
Dia merasa kasihan melihat wajah Alvaro yang kusut masai. Biasanya Alvaro membunuh pengawal atau siapapun yang ada di hadapannya. Tapi kali ini Alvaro tidak melakukan itu, dia hanya menampar kedua pengawal itu karena Alexa kabur.
"Kita duduk dulu disini." kata Alvaro seraya duduk di bangku panjang di pinggir kolam renang.
"Kata pengawal Alexa kabur, kenapa?"
"Dia hamil. Aku berusaha menahan nya tapi dia malah kabur."
"Astaga, aku kasihan padanya. Ada sesuatu yang membuat pikirannya gundah. Tidak mungkin seorang wanita menampik pinangan kau apalagi dia dalam keadaan hamil. Aku merasa Alexa bukan wanita sembarangan, mungkin dia seorang mata-mata. Dulu aku baca sepintas kata-kata sandi dari Dansus untuk Agent number six, karena tidak begitu mengerti aku lewati. Yang aneh tulisan yang tadi aku baca tiba-tiba lenyap."
"Bisa jadi Alexa spionase yang harus membunuhku. Tapi kalau melihat gerak gerik Alexa dan cara dia menembak atau melempar pisau untuk musuh, patut dicurigai. Apalagi semenjak dia bergabung dengan kita banyak mafia yang meninggal."
"Benar sekali, aku menunggu perintah kau , habisi Alexa atau dia menghabisi kita."
Lama Alvaro terdiam, dia nencintai Alexa, apalagi Alexa mengandung anaknya. Matanya langsung berair dia tidak kuasa menahan sedih. Sangat berat masalah yang harus dia hadapi.
"Jika Alexa benar seorang Agent dia pasti akan membunuhku. Aku tidak ingin hal ini terjadi. Aku harapkan semoga khayalan kau tidak jadi kenyataan."
"Aku juga berharap begitu, kita harus menyelidiki, apapun hasilnya kita harus bertindak." kata Marchel sedih. Dia juga mencintai Alexa.
"Kita akan ke Bank untuk mencair kan cek dari Robestus. Tadi dia datang kesini mau membeli gedung ini. Dia sudah DP lima belas miliar, tapi mama minta sepuluh untuk menutupi hutangnya. Aku setuju saja, malas berdebat. Aku tidak tahu kapan hutangnya habis."
"Siapa brokernya?"
"Alexa, siapa lagi. Dia selalu menolong kita, aku yakin cintanya kepadaku besar, seperti aku juga. Dia kabur karena tugas yang mengikatnya." sahut Alvaro lirih.
*****
__ADS_1