
Kaki Marchel gemetar mendengar pertengkaran Alexa dan Farida. Dengan nafas ditahan Marchel melangkah mengendap-ngendap dan bersembunyi disamping sel.
"Aku nembencimu sampai ketulang sumsumku Farida. Belum pernah aku melihat seorang ibu sangat tega membiarkan anaknya di perkosa lalu dibunuh didepan matanya. Dan yang melakukan adalah calon suamimu. Kau lebih rendah dari binatang, kau luar biasa dan tega meninggalkan aku mengais makanan di tempat sampah saat kau lewat bersama suamimu, kau biadab Farida."
"Itu semua karena kesalahan papa mu yang sombong, sok jagoan ingin memberantas mafia. Jika dia terbunuh atau kau menjadi anak yatim itu mutlak kesalahan papamu. Jangan sok balas dendam, kau sendirian, sedangkan kami ada ratusan orang. Hancur lah kau."
"Kita lihat saja nanti siapa yang hancur, aku apa seluruh musuhku."
"Lebih baik kau pulang, aku akan membunuhmu jika kau tetap disini, atau kau nempermalukan diriku saat pertunangan Alvaro dengan Inshira."
"Aku tidak punya rumah, tidak punya apapun jadi aku akan tetap disini, Itung-itung aku menunggu ajalmu."
Marchel menyembunyikan bawaan nya dan terpaksa keluar pura-pura tidak tahu apa apa. Dia langsung menuju ke ruangan sel dan menyapa Farida.
"Hemm...hehe..kirain sepi ternyata ada nyonya." tampak Farida kaget melihat kedatangan Marchel. Raut wajahnya terlihat kesal.
"Ngapain kau kesini, bukannya kau menemani Tuan makan?"
"Harusnya nyonya berada di antara mereka, mumpung Alvaro bisa diajak bicara."
"Yahh...aku kesana dulu, ingat jangan lama-lama disini."
"Baik Nyonya, saya hanya mengecek tawanan." kilah Marchel pura-pura menggoyangkan jeruji sel.
Farida keluar dari sel menuju ruang makan. Dia tidak melihat Alvaro, ada lima pelayan dan Inshira sedang duduk sambil chatingan.
"Alvaro kemana Inshira?"
"Katanya ke kantor Polisi, tadi ada dua orang Polisi kesini. Maa...orang tuaku bertanya kapan mama dan Alvaro datang kerumah."
"Kau lihat kondisi kami saat ini. Ayah Alvaro koma, Margareta, Honduras meninggal dunia dengan cara aneh. Kita lagi berkabung. Kau harus bisa memaklumi. Jangan kau banyak menuntut, Alvaro dalam keadaan stres mengurus semuanya sendiri." kata Farida sedikit emosi.
"Aku terlanjur mengatakan kau dan Alvaro mau datang ke rumah." sahut Inshira dengan mulut mengerucut. Selera makannya hilang.
"Inshira, pertunangan ini ide ku supaya Alvaro mau berpisah dengan selirnya, bukan kemauan Alvaro. Jadi kau harus mengerti bahwa Alvaro tidak mencintaimu. Mungkin hanya sebatas suka, atau malah Alvaro tidak ada rasa denganmu."
__ADS_1
"Aku tidak peduli yang penting aku bisa bertunangan dengan Alvaro, aku ingin orang tuaku dihormati dan di banggakan oleh semua orang. Papa sudah tidak sabar mau jadi pemimpin."
"Satu lagi Inshira aku ingin punya cucu, itu juga keinginan suamiku. Alvaro harus memberikan banyak anak kepada kami."
"Itu gampang, aku juga ingin cepat punya anak." sahut Inshira tersenyum.
Karena Alvaro lama tidak datang Farida dan Inshira nenuntaskan makan malamnya, kemudian mereka beristirahat.
Pukul.22.15 Alvaro baru saja datang dari kantor polisi, dari parkiran mobil dia berjalan menuju lift ke lantai tiga, tidak ke kamarnya. Tadi dia sempat menelpon Marchel bertanya tentang keadaan Alexa, katanya badan Alexa agak panas. Dia jadi khawatir.
Badannya lelah sekali. Kondisinya saat ini kurang fit, pikiran Alvaro mumet mengingat masalah yang dihadapi akhir-akhir ini. Dia yakin papanya pasti akan meninggal, jika itu terjadi Alexa akan mendapat hukuman yang setimpal.
Dua orang pengawal berjaga di depan pintu sel. Mereka cepat membuka pintu sel sambil memberi hormat.
"Tidak boleh ada yang masuk." perintah Alvaro.
"Baik Tuan."
Alvaro masuk ke ruangan sel dan menyalakan lampu, dia kaget kala melihat Alexa tidur di lantai tanpa alas. Kemana kasur busa dan yang lainnya?
"Pulanglah, kau akan bertunangan, tidak baik menunggu aku disini. Aku tawanan yang menunggu untuk di vonis mati."
"Tidak usah bicara aku sangat lelah, temani aku tidur." Alvaro memeluk tubuh Alexa dengan lembut. Dia membawa kepala Alexa ke dadanya.
"Kita ke kamar, aku tidak bisa tidur disini." bisik Alvaro menahan dingin.
"Jangan mempersulit hidupku." lirih suara Alexa, dia ingat makian ibunya dan hukuman yang akan dijatuhkan oleh saudara Ady Mema jika pria tua itu meninggal.
"Apa yang kau ketahui sehingga kau menjadi down, aku tidak senang Alexa yang begini, aku ingin kau tangguh seperti dulu. Aku bisa membawamu pergi dari sini kapanpun kau mau."
"Tidak usah, papamu lagi butuh perhatian. Jika dia meninggal kau akan menjadi penggantinya."
"Biasanya tradisi dari keluarga besar Ady Mema adalah setelah pimpinan mereka meninggal baru dilantik pimpinan baru. Tapi kali ini aku ingin duluan menjadi pimpinan baru, jadi aku bisa membebaskanmu dari hukuman mati menjadi hukuman rumah, kau akan menjadi pelayan."
"Alvaro, Inshira itu siapa?"
__ADS_1
"Ayahnya punya saham disini tidak usah dibahas."
"Aku ingin kau tahu bahwa kau akan digulingkan oleh seseorang sebelum menjadi pemimpin. Hati-hatilah. Orang itu akan selalu bermain api supaya bisa menyingkirkan diriku. Dia adalah pewaris disini, bukan kau. Jadi dia berwenang untuk memilih atau mengangkat pimpinan baru selain dirimu." omongan Alexa dianggap angin lalu, bagi Alvaro itu tidak mungkin terjadi.
"Tidurlah, kau banyak mengkhayal." kata Alvaro mencium bibir Alexa. Katanya lelah tapi tangannya usil membuka baju Alexa.
"Sudahlah aku ngantuk." bisik Alexa.
"Sedikit saja, aku tidak bisa tidur."
Alvaro membenamkan kepalanya di dada Alexa, dia tidak peduli protes dari Alexa.
Akhirnya Alvaro menarik Alexa ke kamar mandi, sepertinya tempat ini paling nyaman di pakai. Dia tidak memberi peluang kepada Alexa untuk menolak nafsunya.
Alvaro ******* bibir Alexa dengan lembut. Alexa yang tadinya menolak ikut terbuai dan pasrah saat Alvaro menusuknya berkali-kali. Malah dia ikut agresif saat Alvaro agak buas bermain.
"Besok kau harus pindah ke kamar ku, aku tidak suka berada ditempat sempit begini." keluh Alvaro.
Alexa tidak menjawab dia langsung membasahi badannya dengan air shower. Alvaro yang berada di sampingnya kedinginan, maklum disini tidak ada air panas. Mereka mandi berpelukan karena dingin.
Kepasrahan Alexa membuat Alvaro berani menghujami Alexa dengan sentuhan-sentuhan panasnya yang membuat Alexa berada di awang- awang. Alvaro tidak pernah bosan menggasak Alexa. Untunglah Alexa bisa mengimbangi dan dia kuat.
"Aku sangat mencintaimu, aku selalu rindu padamu. Namamu selalu ada di setiap tarikan nafasku."
Alexa hanya tersenyum, berusaha menyembunyikan rasa sukanya. Dia tidak mau Alvaro terlalu terobsesi ke padanya.
Mereka keluar dari kamar mandi dengan rasa puas.
"Siapa yang mengambil kasurmu?" tanya Alvaro duduk bersandar.
"Inshira calon istrimu."
"Kau ke kamarku, beraninya dia ikut campur masalahku, belum jadi istri sudah melampui batas." kata Alvaro berdiri, dia membuka pintu sel dan menyuruh pengawal pergi.
****
__ADS_1
"