
"Ngapain kau menatapku!!" bentak Alexa tidak senang ketika mata Alvaro menatapnya sinis.
"Aku melihat pencuri yang sudah berani main gila dengan ajudan ku."
"Karena ajudan kau lebih berkualitas dan lebih mengerti menghargai seorang wanita."
"Jadi kau mengaku berselingkuh?"
"Bukankah kau membebaskanku dari status selir menjadi status pencuri atau perampok."
"Katakan kau berselingkuh dengan Marchel." Alvaro mendekat mau mendorong Alexa. Tapi tubuh Alexa bergeser dan berbalik berada di belakang Alvaro. Tangan kanannya sudah mengalungkan berlati di leher Alvaro.
"Jangan macam-macam Alexa, aku cuma bercanda." kata Alvaro kaget. Salah sedikit lehernya bisa putus.
"Lagi sekali kau mengatakan aku berselingkuh, aku akan membasmi wanita kau satu persatu." bentak Alexa lalu memasukan pisaunya.
"Kau cemburu? supaya kau tahu nanti malam aku menikahi mereka dan aku akan berpesta pora dengan sepuluh perawan, nikmatnya."
"Aku tidak peduli dan tidak cemburu. Aku bersyukur kau memilih wanita- wanita liar itu yang jelas-jelas kelihatan seperti wanita dari tempat bordil Farida." ejek Alexa.
"Dari mana kau tahu tempat bordil itu. Aku ingin tahu."
"Gembong mafia tidak tahu tempat bordilnya sendiri, itu mustahil. Aku berpikir kau tiap malam nongkrong di tempat bordil"
"Aku bukan disini mana aku tahu, aku jadi berprasangka buruk kepada Farida dan wanita-wanita itu."
"Alvaro... Alvaro...." suara Farida membuat Alexa mengurungkan langkahnya.
"Kenapa kau disini, cepat bersiap kau akan menikah." kata Farida memandang Alexa tidak senang.
"Hahaha...Farida, maaf aku tidak mau memanggil kau nyonya atau ibu karena predikat itu tidak cocok buat kau. Aku ingatkan perusahaan kau bangkrut, jadi jangan memanipulasi keadaan atau berbuat yang aneh-aneh."
"Anak durhaka, jangan ikut campur masalah rumah tangga, masalah perusahan kami, kau disini tawanan bukan seorang yang perlu diminta sarannya atau perlu dukungannya. Urus diri sendiri saja."
"Aku tahu diri Farida, kau boleh mengaum lantang hari ini, karena hari esok Ady Mema akan di otopsi aku ingin tahu kapan dia meninggal dan lelaki mana yang menggantikan posisi Ady Mema."
__ADS_1
"Tutup mulut kau setan, kau anak setan yang terus menghantuiku. Enyahlah dari rumah ini...pengawal usir dia!!" teriak Farida lantang.
"Maaf Alexa pergi kau dari rumahku kau telah membuat mama bersedih." kata Alvaro melempar kunci mobil kepada Alexa.
"Aku akan pergi, kau telah ditipu oleh Farida...." kata Alexa berjalan tegap keluar.
Farida terus berteriak-teriak tidak karuan. Banyak pengawal datang memegang tangannya.
"Tolong mama dibawa ke kamar dan panggilkan dokter." kata Alvaro panik. Dia lari ke kamar Marchel dan melihat pemuda itu habis mandi.
"Gaji saja kau telan tidak becus ngurus apa. Dimana solidaritas kau sebagai teman!!" teriak Alvaro membuat Marchel kelabakan dengan sikap Alvaro yang tiba-tiba menyerangnya.
"Tenang Tuan ada apa ini, saya minta maaf kalau membuat Tuan tidak nyaman. Tidak ada pikiran untuk membuat Tuan marah."
"Kami dalam keadaan berduka, kata Alexa Farida bangkrut. Aku stres sendiri, sedangkan kau enak-enak dengan Alexa. Kau pikir aku ini apa."
"Tenang Tuan, aku dan Alexa tidak ada berbuat yang bukan-bukan, aku menghormati Alexa karena dia bukan wanita sembarangan yang gampang di jamah. Tadi aku mencari Alexa karena ingin tahu alasan nyonya Farida ngotot menyuruh Tuan menikah..."
"Jangan bertele-tele apa maksudmu dan jelaskan cepat." potong Alvaro tidak fokus.
Badan Alvaro merosot di tembok, dia terhenyak dan tidak menyangka mendengar berita ini. Apakah benar omongan Alexa atau Marchel yang tidak mengerti di bodohin oleh Alexa.
"Apa lagi yang kau tahu dari Alexa?" tanya Alvaro pelan.
"Tuan Ady Mema yang digantikan oleh orang lain."
Kembali Alvaro diam, dia merenung atas penjelasan Marchel. Tapi masih ada keraguan, baginya Alexa cemburu dan membuat berbagai tuduhan untuk menggagalkan pernikahannya.
"Tolong telepon Alexa tadi aku mengusirnya." kata Alvaro pelan.
"Kemana dicari Tuan dan untuk apa, aku kasihan padanya. Setidaknya biarkan dia sendiri dan berhenti untuk menghinanya."
"Aku butuh dia."
Marchel menghubungi Alexa lewat telepon mobil, tadinya tidak bisa di hubungi. mungkin Alexa menolak, setelah Marchel menulis dan minta saran untuk otopsi besok barulah Alexa memberitahu dimana dia saat ini. Hotel Jumaera bintang lima.
__ADS_1
"Tuan kesana bawa laptop dan pakaian ganti untuk Alexa."
"Tookk...tookk...tookk...." suara ketukan pintu membuat Marchel melangkah menuju pintu dan membukanya. Dia kaget melihat Inshira di ambang pintu.
"Ada apa Inshira?" tanya Marchel kurang senang terhadap kehadiran wanita itu.
"Aku ingin berdua sama kau, apa lagi keinginan seorang wanita."
"Masuklah, sebenarnya banyak pekerjaan hari ini, kita sekedar ngobrol aku temani."
"Tidak apa-apa pikiranku sumpek yang penting ada teman ngobrol." kata Inshira.
Wanita itu masuk ke kamar dia kaget melihat Alvaro duduk di lantai bersandar di tembok.
"Kau ada disini?" tanya Inshira ikut duduk disamping Alvaro.
"Apa yang kau tahu tentang Farida, kau dan Farida sangat akrab tentu tahu masalah yang dihadapi Farida."
"Aku tidak banyak tahu, yang aku tahu bahwa mama Farida sekarang ditekan orang, dia dalam ketakutan luar biasa. Disamping itu mama Farida sudah lama bangkrut. Apalagi paman Alfredo sudah meninggal, dia tambah stres, biasanya paman yang memberi uang. Mama Farida juga punya hutang kepada ke sepuluh orang tua wanita yang akan menjadi istri kau." jelas Inshira membuat Alvaro kaget.
"Tuan, sebaiknya nyonya Farida yang diajak bicara jadi jelas masalahnya." ucap Marchel ikut duduk disamping Alvaro.
"Mama Farida berada di klinik masih perawatan dokter, tolong jangan di ganggu." salut Alvaro kepada Inshira, dia peduli kepada Farida. Kalau Alexa selalu benci dan malah terlihat mereka seolah musuhan.
Sebenarnya Alvaro tidak peduli kepada Inshira, tapi mendengar cerita Inshira yang begitu peduli kepada Farida dia merasa simpati kepada Inshira.
"Seandainya aku mencintai kau pasti aku nikahin kau, kepedulian kau kepada mama membuat terenyuh. Sikap Alexa sangat prontal apalagi menghadapi mama."
"Hemm...tidak ada asap kalau tidak ada api. Perlakuan kita kepada seseorang akan berbeda tergantung interaksi kita kepada orang itu. Terserah bagaimana dia bersikap kepada orang itu kita tidak perlu ikut campur."
"Kau selalu membela Alexa aku heran, kita melihat kenyataan. Dari pertama bertemu, Farida dan Alexa sudah seperti kucing dan tikus, aku serba salah di buatnya."
"Alexa terlalu sombong, aku tidak senang padanya. Tidak cocok menjadi istri kau." kata Inshira kesal menatap Alvaro.
"Beda dengan penilaianku Alexa adalah makhluk Tuhan yang sangat sempurna. Jika Tuhan memberi peluang aku ingin Alexa menjadi milikku." ucap Marchel berdiri.
__ADS_1
"Aku mau mencari Alexa." kata Alvaro keluar dari kamar Marchel.