Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
DIUSIR


__ADS_3

Mendengar percakapan rahasia nyonya Farida dan laki-laki bertatto itu membuat mereka berdua saling pandang. Telunjuk berada dibibir Anahita tanda jangan berisik. Tapi Inshira malah tersenyum senang.


"Mantap!!" Inshira mengacung kan jempol sambil tertawa tertahan.


"Siapa laki-laki itu?" bisik Anahita. Inshira menggeleng.


"Seperti penjahat. Untuk apa dia mencari Kussy, dan siapa Kussy. Nyonya terlalu berani mengambil resiko. Bagaimana kalau Alexa tahu dan mengamuk, dia pintar ilmu silat."


"Apa Alexa sehebat itu aku tidak percaya."


"Kata pengawal inti dari perusahan Alvaro Derek, Alexa itu juga bisa membunuh."


"Owh ya...sangat mengerikan. Pantas saja Tuan tergila-gila pada nya. Disamping cantik dia anggun."


"Kita kalah saing rupanya, kita tetap beruntung jika dia hilang dari sini. Tuan akan memilih kita." kata Inshira tersenyum.


Mereka kembali ke dalam rumah, berusaha menyembunyikan rahasia yang baru mereka ketahui.


"Darimana kalian." Nyonya Rodrigo mengagetkan mereka. Inshira dan Anahita mendekati Nyonya Rodrigo.


"Kita berkeliling mencari Nyonya Farida tapi tidak bertemu. Aku takut nyonya sakit atau tersesat."


"Tadi mama melihat dia masuk ke kamarnya. Dia sehat-sehat saja."


"Kalau begitu tidak usah kita cari lagi, mama saja ngajakin dia makan siang."


"Oke, nanti mama mencari Farida. Tuan Alvaro dimana?"


"Biasalah bergumul ria dengan Alexa, apalagi kerja wanita itu kecuali menggoda Tuan. Tiap saat nempel sama Tuan, aku bingung. Kita yang derajatnya lebih tinggi malah menjadi babu disini." Inshira mengoceh tanpa henti.


"Tuan juga seperti buta, sudah jelas wanita itu pemalas tetap saja di keloni. Aku ingin sekali membunuh dan memutilasi tubuhnya. Terus tubuhnya kita kasih anjing Herder."


"Sabar...Alvaro mencintai wanita itu dari hatinya dan tulus, biarpun dia malas, bodoh, jelek, namanya cinta, pasti di sayang. Kalian tidak usah mengusiknya. Jika Alvaro tidak mau dengan kalian itu namanya tidak jodoh. Kalian harus legowo dan menjauh, mencari yang lain, yang bisa mencintai dan sayang kepada kalian. Jangan memaksakan cinta kalian kepada orang yang tidak respek kepada kalian." jelas Nyonya Rodrigo tersenyum.

__ADS_1


"Dulu Tuan Alvaro adalah pacar saya nyonya, lima belas tahun yang lalu kami sudah sering tidur bersama, ketika sekarang dia kembali kesini, Alvaro menoleh pun ogah. Padahal nyonya Farida ingin menjodohkan kami. Saya jadi putus asa dan ingin membunuh Alexa."


"Sssttt...hati-hati bicara, di dengar Alvaro atau Marchel kalian bisa di tembak ditempat." kata nyonya Rodrigo beranjak dari kedua gadis itu. Dia menuju ke kamar Farida.


"Tookk...tookk..."


"Masuk..."


"Kau yang keluar, kita makan siang." kata nyonya Rodrigo diam diambang pintu. Dia heran melihat raut wajah nyonya Farida sumbringah.


"Kau tampak berbahagia, ada apa gerangan. Apa menang lotre pacuan kuda?"


"Elehh...kalah melulu, tidak pernah menang. Aku lebih senang judi online, nyata duitnya. Sekarang uang tidak ada, jangankan main judi, makan masih minta sama Alvaro. Aku miskin gara-gara anak setan itu. Aku dendam padanya." gerutu nyonya Farida.


"Astaga Farida, masih saja kau bicara tentang Alexa, kau baru kenal dengannya, kapan dia membuat kau sengsara? jika wilayah bordil kau di bakar itu wajar. Sudah hampir tiga puluh tahun kau mengeruk uang dari sana. Kita sudah semakin tua, suami tidak punya, buat apa uang banyak."


"Kalau semua orang berpikiran begitu, tidak akan ada pergolakan. Semua akan adem ayem, walaupun sudah tua kita harus semangat."


"Makan dululah baru ngoceh." nyonya Rodrigo menarik tangan Farida. Mereka berjalan berendeng menuju ruang makan. Masih sepi, padahal sudah lewat jam makan.


"Tuan makan di ruang kerja Marchel bersama Alexa...."


Mendengar itu Farida keluar dari ruang makan dan buru-buru menuju ruang kerjanya Marchel. Farida langsung nyelonong masuk dan tanpa basa basi memarahi Alexa.


"Alexa, jangan kau jadi ratu disini. Makan di kamar apa mau kau. Lihat Inshira dan Anahita yang sibuk di dapur buatin kau makan. Jangan seenaknya makan disini, apa kau tidak punya rasa malu."


Alexa menaruh piringnya dan menarik Farida supaya duduk di kursi.


"Apa kau katakan Farida, aku kesini untuk membalas dendam dan membunuh kau. Bukan untuk jadi pelayan, jika mereka merasa sibuk, capek salahnya sendiri kenapa tidak pergi dari sini."


"Alexa tenang, jangan kau berani kepada mamaku."


"Hahaha...Alvaro, aku bertrimakasih atas kebaikan kau menerimanya disini." kata Alexa sinis. Alvaro jadi bingung, apa maksud Alexa.

__ADS_1


"Anak durhaka, kau anak setan. Begitu kau di ajarkan oleh ayahmu yang nista itu. Manusia miskin."


"Jangan sekali-kali nenyebut ayahku, tidak ada orang sebaik dia merawat aku. Dia menyayangi ku sepenuh hati, menjagaku dengan baik, sementara istrinya sibuk berselingkuh...." Alexa tidak bisa melanjutkan kata-katanya, dadanya terasa sesak karena marah.


"Istri mana yang betah sama orang miskin, kampungan, tidak tahu diri, seperti kau ini, kerjanya makan dan jual diri."


"Mama...sudahlah, aku tidak terima perkataan mama, kalau tidak ada Alexa kita tidak makan, kita dalam masalah."


"Alvaro diam kau, dia harus pergi dari sini. Tidak layak wanita seperti dia berada disini."


Alexa mengambil holsternya dan memakai di pangkal pahanya dan memasukan Revolver dan satu pisau terbang. Dia juga membawa alat kejut listrik yang berbentuk kunci mobil.


"Farida kau seperti Judas yang menjual ku demi uang." kata Alexa ngawur. Dia punya insting tajam jika Farida bermaksud buruk padanya.


"Semoga kau disiksa dan tidak kembali, Aku muak melihat kau. Hanya neraka tempat kau."


"Nyonya Farida teganya kau mengutuk Alexa. Kau tidak pantas di hormati, binatang saja punya rasa keibuan." Marchel yang diam dari tadi panas hatinya. Kalau mengikuti kata hati ingin dia memaki Farida.


"Marchel jangan ikut campur urusan orang lain, kau menumpang hidup disini. Jangan sombong."


Marchel langsung keluar dia tidak tahan mendengar ocehan Farida. Dia menuju kamarnya, tanpa terasa air matanya mengalir. Dia menangis sedih, seolah dia merasakan sakit yang dirasakan oleh Alexa.


Sementara di ruang kerja Marchel Farida terus mengoceh tanpa henti. Dia ingin supaya Alexa cepat keluar karena laki-laki bertatto menunggu.


"Mama aku mohon jangan mengusir Alexa, aku mencintainya. Aku tidak bisa hidup tanpanya." kata Alvaro memeluk Alexa dari belakang ketika Alexa mau pergi.


"Alvaro kau buta, dia hanya memanfaatkan kau. Benalu, racun tikus. Biarkan dia pergi dengan ke sombongannya, tidak kurang perempuan yang lebih cantik darinya."


"Biarkan aku pergi Alvaro, semoga kau berbahagia, aku akan selalu berdoa untuk kau." kata Alexa sedih. Dia menghentakan tangan Alvaro supaya pelukannya terlepas.


Alexa setengah berlari keluar, sampai di tempat parkir dia berhenti lari. Sambil menghapus air matanya Alexa berdiri di gardu.


"Nona mau kemana?" seorang pengawal bertanya heran. Alexa tersenyum tipis dan menggeleng. Dia berjalan sambil menunduk. Tiba-tiba ada mobil berhenti dan dua orang turun menangkap dan membiusnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2