Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
MUSUH DALAM SELIMUT


__ADS_3

Sebenarnya ketika kamu dekat dengan dia aku cemburu, tapi aku ingat, aku bukan siapa-siapa bagimu.


Kamu tak pernah melihatku, kamu tak pernah merasakan diriku di hatimu, tapi aku akan selalu mencintaimu secara diam-diam dari sini.


Alvaro menatap Alexa dengan kesal. Dia tidak mungkiń mencegah ketika Marchel mengajak Alexa ketempat pengawal. Sedangkan Margareta juga ikut kesana melayani pengawal karena pelayan kewalahan.


Ketika para pengawal Honduras melihat Alexa, serentak mereka diam. Rasa kagum menindih hati. Alexa menebarkan senyum persahabatan.


"Selamat datang teman-teman semua kami sangat berterimakasih atas kedatangannya. Semoga bantuan kalian bisa terealisasikan dengan baik." Marchel membuka pembicaraan.


"Namaku Valka, aku adalah kepala kelompok disini mewakili mereka. Kami juga bertrima kasih atas pekerjaan yang diberikan. Untuk mempercepat exsekusi kami minta denah yang akan kami tempuh dan tingginya kesulitannya."


"Oke pak Valka, namaku Alexa. Untuk menghadapi kelompok Francisco kita perlu persiapan fisik dan strategi. Menurutku kelompok Francisco akan kembali menjarah ketika kapal berada di Sunda Strait. Pada saat di jarah biarkan mereka naik ke kapal, setelah semua naik baru kalian mengambil tindakan."


"Apakah mereka perompak atau hanya kapal kalian yang dijarah."


"Mereka mafia narkotika, kami memang punya bibit permusuhan dengan Francisco. Mereka sering menjegal jika pengawal sedang mengangkut barang. Prompak ini tidak sama dengan perompak Somalia, ini modusnya hanya ingin meruntuhkan kelompok kami." jelas Alexa. Mereka saling bertukar informasi.


"Nona apa boleh saya bertanya lebih lanjut? Tanya Kalva tersenyum.


"Boleh, apa tadi kurang jelas?"


"Sangat jelas, yang aku tanyakan apakah nona sudah ada yang punya?"


"Menurutmu bagaimana, apakah seorang gadis bila masuk ke sarang macan bisa selamat?" senyum Alexa.


"Yaelah...aku ingin menjadi macan kalau gadisnya seperti kau." kata Valka dan semua pengawal tertawa.


"Trimakasih teman semua, semoga perjuangan kalian membuahkan hasil." Marchel cepat menarik tangan Alexa dan mengajak ketempat Alvaro.


Sampai di ruang kerja. Wajah Alexa memerah ada rasa tidak suka melihat Margareta yang memeluk Alvaro dari belakang.


"Tuan kami sudah instruksikan semuanya kepada pengawal itu, tinggal berangkat saja. Mereka juga sudah biasa menangani perompak Somalia, jadi tidak perlu diajarkan lagi." kata Marchel lalu duduk.


"Sayank kau duduk sebelahku." kata Alvaro yang di jawab gelengan kepala oleh Alexa. Margareta terkekeh.


"Hahaha...gede juga nyalimu menolak, boss mafia." ledek Margareta.


"Aku akan menolak kalau tidak masuk akal." kata Alexa tetap duduk disamping Marchel.


"Biarin dia terus menolak aku akan hukum dia ditempat tidur."

__ADS_1


"Sayank, kita pikirkan Francisco saja, tidak usah memikirkan selirmu." Margareta mengecup pipi Alvaro.


"Marchel boleh aku meminjam laptop untuk melihat lokasi dijarahnya alat-alat berat itu."


"Kamu bisa menjalankan laptop?" tanya Marchel ragu.


"Manusia rendahan macam kau mana punya laptop." Margareta ikut saja berkomentar membuat Alexa marah.


"Apakah manusia seperti kau derajatnya tinggi, koreksi diri sendiri, kau yang seperti binatang liar. Semua lelaki kau ajak tidur, kau sampah."


Margareta langsung meloncat mau memukul Alexa, tangan Alexa memegang tangan Margareta dan menariknya serta membantingnya.


"Alexa berhenti dia istriku." teriak Alvaro melihat Margareta tergeletak di lantai.


"Urus istri kau Tuan, ajari sopan santun." sinis suara Alexa.


Marchel membantu Margareta yang menangis tersedu.


"Setidaknya kau jangan berantem." keluh Alvaro serba salah.


"Siapa duluan, kalian kerjanya menghina orang saja. Kau pikir diri kalian kaya raya sebagai gangster. Kalian tidak ada seberapanya dengan Francisco, kekayaan kalian seujung kuku."


"Kau tidak jadi napi karena kebaikan Farida, ibu sambung kau. Kalau tidak, mungkin leher kau sudah di jerat di kursi listrik. Jangan sombong, aku membawa kartu AS kalian semua."


"Berarti kau mata-mata." tuduh Marchel.


"Buat apa aku memata-matai kalian yang kere. Lebih baik cari orang kaya sekalian."


"Dia pasti musuh kita jangan percaya padanya." ketus Margareta.


Margareta yang berada di pelukan Alvaro mulai mengasut. Alexapun tambah tidak peduli melihat Alvaro, karena tujuan utamanya adalah membunuh Alvaro dan kawan-kawannya.


"Aku memang musuh kalian, siap-siaplah kalian mati satu-satu di tanganku."


"Alexa berhentilah, masuk ke kamar." printah Alvaro.


"Aku mau pinjam laptop untuk melihat stuasi pengawal sekarang. Apa dia sudah berangkat atau menunggu malam." kata Alexa.


"Marchel kasi dia pinjam dan lihat apa saja yang dia kerjakan."


"Baik Tuan."

__ADS_1


Marchel dan Alvaro mengapit Alexa. Pengetahuan Information Technology mereka tentu tidak secanggih Alexa. Padahal saat ini Alexa menggiring dua orang itu untuk menyaksikan pesta akbar yang akan alexa tontonkan.


Saat Alexa online Dansus langsung invit dan menuntun Alexa ke Dermaga di Benoa Harbor. Seratus pengawal masuk ke sebuah kapal barang. Mereka bertugas untuk menjemput barang-barang Alvaro di selat Sunda Strait.


Kapal bergerak dari pelabuhan dengan koordinat 0,(0,0) sejauh 4 mil laut ke arah timur laut dengan sudut 45. Sudah berlayar mengikuti bouy yang terpasang di laut.


"Kapal sudah aman, sebentar lagi akan datang kapal Tongkang yang memuat alat-alat berat yang kita pesan." kata Alvaro bersemangat.


"Kau pintar Alexa, lihatin kami letak kapal Tongkangnya." pinta Marchel antusias.


Alexa mencolek Dansus ingin melihat lebih lanjut ke kapal Tongkang. Tapi cuaca menyebabkan internet agak error.


"Apa peti kemas itu legal?" tanya Alexa menoleh kepada Alvaro.


"Semua peti kemas legal, kita sengaja menutupi income di black market dengan Perusahan Derek. Sepanjang ini tidak ada yang tahu."


"Itu menurut kau, biasanya pencari fakta akan tahu track record pembinis yang kaya mendadak seperti kau."


"Alexa kalau bicara yang logika, jangan asal jeplak tidak masuk akal, perusahan ini sudah turun temurun, omsetnya besar. Animo masyarakat untuk membeli barang disini cukup tinggi. Tidak mungkin orang tahu kalau aku bermain di black market."


"Perusahan itu hasil kau merampas dari Farida, jadi jangan ajarkan aku seluk beluk perusahan itu. Kau hanya menyumbang ide sedikit, itupun atas pertolongan Alfredo."


"Alexa!! Bicara kau semakin kacau. Kalau kau hebat tunjukan." bentak Alvaro keringat dingin.


"Oke Alvaro aku akan tunjukan." kata Alexa.


Dia kembali melihat kapal Tongkang. Kini kapal itu sudah di dekati oleh dua buah kapal perompak. Kelihatan di Radar Navigasi kalau kapal Tongkang mengirim SOS ke KPLP dan kapal terdekat.


Bersamaan dengan meloncatnya para perompak ke Tongkang, saat itu terlihat sebuah kapal barang yang mengangkut pengawal Alvaro datang dengan senjata laras panjang. Tembak menembak tidak bisa dihindari lagi.


TEMBAK!! Alexa memberi sandi kepada Dansus untuk memencet tombol bom.


Api berkobar membuat asap hitam ke langit. Bom meledak di kapal Tongkang dan berimbas ke kapal di sampingnya.


"Waduhhh...bsgsimana ini?"


"Kesombongan kalian sudah lenyap, tidak mungkin ada yang selamat. Alat-alat berat beserta kapal akan tenggelam di kedalaman 11.022 meter, hampir sama dengan kedalaman di Samudra Pasifik."


"Pasti kau yang sabotase kapal kami." teriak Alvaro kencang. Alexa membuka telapak tangan kirinyanya menempelkan ke laptop. Semua pencarian tadi terhapus.


*****

__ADS_1


__ADS_2