
Ketika kesabaran berada di titik nadir, apa lagi yang di tunggu. Bunuh saja mereka dan Alexa berhak untuk itu. Mencabut nyawa orang yang salah tidak punya konsekuensi hukum dalam kamus Alexa, namun nurani yang terdalam sanggup membuat Alexa bertahan dalam kebimbangan bertindak.
Harusnya dia mengesampingkan rasa dalam kalbu dan berjalan sesuai rencana semula. Alexa duduk di ruang tamu, mengambil Revolver nya memastikan pengamannya aktif dan melepaskan silindernya. Dia putar ke samping, semua rumah pelurunya kosong.
Kemudian Alexa mengisi enam amunisi ke dalam silinder yang kosong, setelah pekerjaannya selesai Alexa memasukannya ke dalam holster. Dia juga membawa senjata runduk untuk sasaran jarak jauh.
Alexa sudah pindah hotel ketempat yang telah ditentukan. Rumor dia telah hilang dimanfaatkan oleh Ramos untuk memanipulasi pajak pembelian kantor Alfredo dengan melimpahkan semua biaya ke Alexa sebagai kuasa owner.
Biaya tagihan yang nembengkak serta PBB yang telah disepakati di bayar oleh buyer dengan nominal fantastis membuat dia mengambil langkah ini. Ramos bukan anggota dewan yang baik, di belakangnya ada benang merah yang terhubung dengan para mafia.
Malam ini Alexa mengenakan little black dress, seksi elegan tanpa terlihat slutty. Kombinasi sepatu hak tinggi putih dan tas selempang. Di pangkal pahanya dia memasang holster berisi Revolver dan di tas dia membawa senjata kejut listrik yang berbentuk korek api.
Rambut di gerai panjang dan ada masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Sarung tangan tipis serta stoking hitam membalut kakinya yang jenjang.
Pukul.11.15 Alexa sudah berada di club Double Heart yang terkenal di kalangan para mafia dan seleb yang doyan asupan narkotika. Biasanya Ramos punya jadwal kesini. Menurut informasi dia akan datang memilih wanita malam yang di sukai.
Alexa merogoh tas mungilnya dan mengeluarkan kocek lima juta tunai untuk Down Payment supaya bisa masuk dengan bebas, free satu sloki Vodca. Lumayan untuk membasahi tenggorokan.
Jarum jam terus merangkak, mata penggiat ajep-ajep tertuju kepada dirinya sebagai pendatang baru. Yang kuat adalah pemenangnya. Kuat secara finansial tentunya dan orang itu jatuh kepada diri Ramos yang baru datang.
Matanya tajam memandang Alexa. Wanita yang sudah masuk kesini tanda sudah ada tanda kutip, bisa di "pakai" bebas di jamah. Tidak ada kebanggaan bagi Alexa setelah dirinya di jebol Alvaro. Kalau dulu masih bisa mengedikan dagu dan tersenyum sinis pertanda sombong.
Dia mengedar pandangannya mengarah kepada orang yang akan di dekatnya. Alexa punya pilihan pertama sebelum mencengkram korban kedua. Dia duduk dekat meja kosong yang dihuni laki-laki strong, punya alis tebal dan dada bidang.
"Kau sendirian." laki-laki itu sudah pindah duduk di depannya berbatas meja.
"Seperti yang kau lihat." jawabnya menurunkan naskernya. Alexa menyesap vodca gratis perlahan. Pahit, itu kesan pertama. Kemudian dia menaikkan maskernya kembali.
"Mengapa ditutupi."
__ADS_1
"Supaya tidak terkena virus cinta." canda Alexa. Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangan, dan menyebut namanya.
"Gomore Lexius." nama yang cocok dengan penampakannya yang kekar berotot, bertatto naga. Kaos oblong yang dia pakai bertulisan poison fleet.
"Kussy...."
"Nama yang cantik secantik orangnya." pujinya.
Gombal, modus! Alexa mengacung kan tangan memanggil barista.
"Aku yang traktir kau minum, dengan syarat one night stand."
"Aku juga bisa traktir kau minum tanpa imbalan, aku kesini ingin santai, tidak untuk yang lain. Kepuasan jasmani bisa dapat di tempat lain."
"Oke, kita berteman...." katanya bersulang.
"Aku ingin kenalan dengan baju biru yang terus menatapku dari tadi. Orang model begini pasti tajir..."
"Itu Ramos, tidak ada apa-apa nya." kata Gomore meyakinkan dengan jempol menghadap ke bawah. Alexa sengaja memandang Ramos sambil manggut-manggut tanda mengerti.
"Gomore, aku ingin turun untuk satu lagu." kata Alexa ketika melihat banyak pasangan mulai turun berjoget. Alexa sendiri biasanya kurang suka joget karena banyak mengandung resiko. Tidak nyaman.
Alexa turun bersama Gomore, ada DJ. Rere yang membuat semangat bergoyang lebih dasyat. Gomore berusaha memeluk Alexa, tapi gadis itu dengan luwes mundur sok acuh. Dia tahu di belakang ada Ramos ikut turun. Saat badan Alexa hampir menempel di badan Ramos, Alexa berputar.
"Bugg...buugg..."
"Aagghhh...."
Terjadi adu jotos antara anak buah Gomore dan anak buah Ramos. Seru sekali, musik masih tetap berlanjut. Alexa yang baru minum satu sloki Vodca bergaya mabuk dan malah ikut menyenggol punggung Ramos.
__ADS_1
Pengunjung yang "On" masa bodo dan yang masih waras menyingkir, duduk sambil menonton. Kata mereka ini sudah biasa, gak ngaruh. Laporan sama polisi tidak guna, lebih baik main doorr...ucap mereka.
Alexa terus berjoget dan perlahan keluar, dia mencari tempat parkir. Ramos mengejar Alexa memeluknya erat. Melihat itu Gomore panas hatinya tanpa menunggu aba-aba Gomore langsung lari menusuk Ramos dari belakang.
Alexa cepat menjauh, terjadi tembak menembak. Suasana gelap, sangat menguntungkan Alexa. Keributan semakin memanas, mereka bingung mana kawan dan mana lawan.
Alexa bersembunyi dan diam-diam mencari taxi untuk kembali ke hotel. Kakinya urung melangkah saat dia dihadang oleh lima orang anak buah Ramos.
"Jangan bergerak, gara-gara kau terjadi pembunuhan."
Alexa menaikkan tangannya tanda menyerah. Dia berbalik, tangannya cepat mengambil Revolver dan menembak ke lima orang itu. Alexa cepat naik ke taxi.
"Cepat jalan!" bentak Alexa sambil menodongkan pistol ke sopir taxi.
Akhirnya dia bisa bernafas lega saat turun dari taxi. Dia terpaksa berapa kali ganti kendaraan supaya sulit dilacak. Hari ini dia menuntaskan satu pekerjaan yang seharusnya tidak perlu ada korban. Apa boleh buat semua terjadi begitu saja.
Sampai di kamar Alexa mencoba menonton berita televisi dan terlihat wajahnya terpampang, walaupun memakai masker tapi Alvaro dan Farida atau Marchel akan mengenal dirinya berjoget ajep-ajep dengan Gomore Lexius.
Ponselnya langsung berdering, dia hanya punya satu teman yaitu Marchel.
"Hallo Chel..."
"Begitu tingkah kau di luar. Selir apa kau. Murahan, untung ada cctv jadi sifat asli kau tertangkap camera. Dasar manusia liar, kerjamu dugem sampai pagi. Katakan dimana kau sembunyi....." kata Alvaro marah.
Alexa mematikan ponselnya, dan menaruhnya di nakas. Setelah itu dia tidur. Dia malas mendengar ocehan Alvaro, hatinya masih sakit ketika Farida memerintahkan untuk membunuhnya. Hanya Marchel yang menolongnya.
Dia mengambil remote mematikan televisi. Rasanya peristiwa tadi cukup untuk membuat polisi akan mencarinya. Alexa mengambil kembali ponselnya untuk menelpon Dansus supaya peristiwa tadi bisa clear tanpa dia harus melapor.
Dia yakin anak buah Ramos dan Gomore akan mencarinya, karena dia menyebabkan terjadinya bunuh membunuh.
__ADS_1
****