Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
101 Untuk Selamanya


__ADS_3

Fio mengusap kening Dhea, mengecup kening itu dan air matanya jatuh di pipi Dhea yang semakin cekung.


"Dhea, aku ingin kamu bahagia," bisiknya di telinga Dhea.


"Apa pun yang menjadi pilihan kamu, aku akan mendoakan kamu. Tapi jika aku bisa memilih, aku ingin kamu tetap di sini, bahagia bersama."


Tetap saja, di mulut mengatakan ikhlas, tapi belum bisa sepenuhnya rela untuk ditinggalkan.


Keikhlasan itu sulit didapat. Bukan hanya teori dan praktek di mulut saja, tapi hati yang harus lapang.


Sementara yang lain di dalam kamar, Vean masih duduk menyendiri di taman. Di bawah guyuran hujan, tidak peduli dengan dingin dan tubuh yang menggigil.


Dia menatap langit, lalu memejamkan mata.


Aku tahu aku bukan orang baik, tapi bolehkan aku memohon pada-Mu, Tuhan? Tolong hilangkan segala kesakitannya.


Hujan semakin turun dengan deras. Membasahi bumi, menggerakkan ranting dan menundukkan bunga-bunga. Vean tetap menengadahkan wajahnya ke atas, berdoa dengan sungguh-sungguh. Tidak peduli dengan derasnya hujan yang menusuk-nusuk kulitnya hingga terasa kebas.


Vean memandang lurus ke depan, dengan tatapan kosong. Pria itu tidak peduli dengan rasa dingin yang menghinggapi tubuhnya.


Dia lalu berdiri, berjalan dengan pelan dan menuju kamar Dhea. Orang-orang hanya menatap dia tanpa ada yang berani menyapa.


Vean masuk ke dalam kamar Dhea, melihat mereka yang juga terlihat lusuh. Bukan lusuh karena hujan, tapi air mata.


Vean menuju ruangan ICU di dalam kamar itu juga. Mendekati brankar itu dan duduk tanpa mempedulikan dirinya yang kedinginan.


Dilihatnya wajah pucat itu.


Kamu sudah menepati janji kamu, Dhea. Kamu sudah menjadi bagain dari diriku selamanya, seumur hidupku. Apa aku juga harus mengikhlaskan dirimu agar semuanya lebih baik? Apa kamu sudah lelah untuk bertahan?


Vean menatap mata yang terpejam rapat itu. Vean melihat alat-alat penopang kehidupan bagi Dhea. Pria itu mengatur nafasnya, menahan sesak di dada.


Pria itu lalu membisikkan kata-kata di telinga Dhea. Dipegangnya tangan Dhea, dan diusapnya dengan pelan. Vean menangkup tangan Dhea dalam dekapan tangannya.

__ADS_1


Dhea membuka matanya, tersenyum dengan pandangan teduh saat melihat Vean ada di sisinya.


"Te ... rima ...kasih. Aku pergi ...."


Mata itu kini terpejam ....


Bunyi layar monitor dengan nada panjang, menandakan kalau gadis itu telah benar-benar menutup matanya, untuk selamanya.


"Aaaarrgg ... aarrgghh ...," jerit Vean tak tertahankan.


"Dhea, bangun Dhea! Bangun!"


Vean mengguncang tubuh Dhea, berharap gadis itu mau membuka matanya lagi. Kenapa dia hanya membuka mata sesaat saja?


Mereka yang mendengar dari luar bergegas masuk, dan melihat apa yang menyakitkan hati.


Kini bukan hanya Vean saja yang terisak, tapi semuanya.


Rasa sakit itu tak tertahankan, melihat apa yang mereka harapkan bisa bertahan, nyatanya memilih untuk pergi dan menyerah.


Ini untuk pertama dan terakhirnya Dhea menyerah, menyerah akan masa depan yang tak pernah menjanjikan apa-apa.


Tidak menjanjikan putih atau pun hitam, juga tak menjanjikan penuh warna.


Mereka kini ada di pemakaman, menaburkan bunga di rumah terakhir Dhea.


Tidak akan ada lagi rasa sakit ....


Tidak akan ada lagi air mata ....


Sang sahabat sejati telah pergi, meninggalkan mereka dalam duka mendalam. Meninggalkan mereka dalam makna cinta dan persahabatan yang besar.


Vean memegang tanah pemakaman itu dalam genggamannya.

__ADS_1


Mereka menatap nanar kuburan itu, melihat nama yang tertulis di batu nisan.


"Maafkan aku, maafkan aku!" ucap Vean penuh rasa sesak.


Dia ingin meminta Dhea untuk kembali, apa bisa?


"Dhea, kembalilah! Maafkan aku, maafkan aku ...."


Vean memeluk tanah gundukan itu, dia masih tidak percaya kalau semua ini terjadi.


"Aaaaa ...."


Lagi, dia berteriak, hanya rasa sesak yang kini menghampiri.


Vean menatap langit, rasa sakit ini ... tidak akan pernah hilang untuk selamanya, karena sang penawar telah pergi untuk selamanya.


Membawa rasa cinta yang tulus dan tak tergantikan ....


Membawa sejuta kenangan yang akan selalu dirindukan ....


Lebih baik pergi tanpa pengganti ...


Karena seperti itulah,


Caraku mencintaimu ....


"Dhea, Dheaa ... maafkan aku, maafkan aku!"


Kak Vean, berbahagialah di sana.


Terima kasih karena telah menggenggam tanganku.


Terima kasih karena telah mengikhlaskan aku dan mengijinkan aku pergi.

__ADS_1


Terima kasih, karena telah menjadi orang yang terakhir aku lihat, sebelum mata ini terpejam untuk selamanya.


Semuanya, cukup sampai di sini ....


__ADS_2