
Hari ini Vean dan Dhea pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan Dhea. Mereka diantar oleh Arya, sedangkan Juna sedang berada di klinik.
"Pelan-pelan, Yang." Vean membantu Dhea turun dari mobil dan duduk di atas kursi roda.
Orang-orang yang melihat Dhea dan Vean, merasa heran, kok bisa laki-laki tampan seperti Vean memiliki istri super gemuk seperti Dhea.
"Itu istrinya? Kok bisa ya, dapat suami ganteng begitu."
"Iya. Kebanting banget, ya."
Vean dan Arya mendelik kesal pada orang-orang yang berbisik itu.
"Selamat pagi, Tuan Vean, Tuan Arya dan Nona Dhea."
Dokter mulai memeriksa Dhea, dimulai dari tensi, dan segala jenis tes lainnya.
"Sekarang timbang berat badan dulu, ya."
Dhea mengeja nafas, dia masih duduk di tempatnya.
"Ayo, Yang. Tidak apa-apa."
"Gak usah ditimbang, Dok. Saya tahu, saya berat."
Dokter, Bena dan Arya saling lirik. Dhea sedang dalam mode sensitif.
"Gak apa, Yang. Sebentar saja, ya," bujuk Vean dengan lembut.
"Gak." Dhea menggelengkan kepalanya, masih tidak mau ditimbang juga.
"Apa ada keluhan?" tanya dokter pada akhirnya, mencoba mengalihkan perhatian mereka.
__ADS_1
"Masih sama, Dok."
Dhea melirik timbangan itu, lalu menghela nafas.
"Ayo Kak, ditimbang."
Dhea memalingkan wajahnya, tidak mau melihat seberapa berat tubuhnya itu. Dokter buru-buru mencatat berat Dhea, dan tidak mengatakan apa-apa pada ibu hamil yang sedang sensitif itu.
"Sekarang USG, ya."
"Kalian mau tahu jenis kelaminnya?"
"Enggak," jawab Dhea buru-buru.
"Enggak apa-apa ya, Kak. Biar jadi kejutan."
"Iya. Apa pun yang kamu mau, Yang."
"Jangan lupa obat dan vitaminnya diminum secara teratur, ya. Banyak makan sayur dan jauh juga. Minum air putih yang banyak."
Begitu keluar dari ruangan dokter, Dhea mengajak mereka untuk makan di kantin rumah sakit.
"Aku mau bubur kacang hijau."
"Oke."
...💦💦💦...
Usia kehamilan Dhea kini memasuki bulan ke lima. Vean tetap rutin memberikan sembako untuk karyawannya dan santunan pada panti-panti asuhan.
Setiap hari, harinya semakin gelisah. Dokter Bram yang memang sudah jauh-jauh hari mengatakan pada Vean, kalau Dia akan melahirkan prematur, membuat pria itu was-was.
__ADS_1
"Kamu juga jangan sampai stress, Vean."
"Mana mungkin aku tidak stress, aku tidak bisa tidak merasa cemas."
Arya dan Juna terdiam, mereka tahu apa yang dirasakan oleh Vean.
Berusaha agar Dhea tidak mengalami masalah dengan kehamilannya—sudah—meskipun tetap saja terkena.
Berdoa—selalu—setiap saat setiap hari.
Berusaha agar Dhea bisa sembuh, sedang dilakukan dan selalu dilakukan.
"Kita beli buah-buahan dulu, ya."
Mereka mampir ke toko yang menjual buah-buah dan sayuran organik. Membeli banyak untuk stok beberapa hari ke depan.
Vean mendorong kursi roda Dhea, sedangkan Arya mendorong troli.
"Ya ampun, itu perempuan gendut banget, kok bisa sama dengan dua pria tampan, ya?"
"Iya, ya. Lah aku aja yang langsing begini, cowoknya biasa-biasa saja."
Cup
Vean dengan sengaja mengecup pipi Dhea, biar tambah panas hati mereka. Sedangkan Arya juga mengusap rambut Dhea.
"Dhea, My Bestie." Fio datang melambaikan tangannya.
"Kamu di sini?"
"Iya, aku mau beli buah untuk calon keponakan aku. Yang cantik, atau yang ganteng, nih?"
__ADS_1
Fio mengusap perut Dhea.
"Nah, kalau yang langsing itu, baru cocok deh, sama para cowok tampan itu."