
Suasana semakin ramai dengan kehadiran dokter Petter dan keluarga kecilnya. Apalagi dengan adanya Faustin, anak laki-laki berwajah bule dengan mata biru.
"Kak, aku jadi pengen punya anak laki-laki juga," ucap Dhea.
"Gak. Cukup satu saja."
Vean sudah trauma, tidak mau lagi melihat Dhea yang kesakitan sepanjang masa kehamilan, juga saat melahirkan.
"Ya enggak sekarang, nanti kalau Yuki sudah lebih besar."
"Satu anak lebih baik."
Entah program siapa satu anak lebih baik.
Dhea memang lebih tahan banting dari Vean. Merasakan banyak penderitaan lahir mau bathin, sudah membuat ibu muda itu kebal dengan segala rasa sakit.
"Dokter menginap di sini saja. Mau di rumah kami, atau di rumah yang lain?"
"Yang lain?"
"Iya, kami kan tetanggaan, Dok."
"What?"
Dhea dan teman-temannya tertawa melihat ekspresi dokter Petter dan dokter Stevie.
Fio yang merasa tersingkir, karena jujur saja, selain Dhea, Vean dan Juna, tidak ada yang dia kenal dengan dekat. Sejak lulus SD, dia sudah pindah ke luar negeri, jadi tentu saja asing dengan teman-teman Dhea yang lain.
__ADS_1
Gadis itu terus saja merapat pada Juna, agar tidak terlihat menyedihkan.
Teman-teman sekolah Juna, yang juga teman sekolah Vean, tentu saja tidak ada yang mengenal Fio. Mereka berpikir Fio adalah kekasih dokter tampan itu.
Begitu juga dengan satu kampus Juna.
"Sekarang kamu yang cerita, bagaimana kamu bisa dekat dengan Juna?"
Jika di kampus Vean terkenal pendiam dan dingin, maka Juna kebalikannya, tapi juga tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun.
"Hm, Juna juga suka ...."
"Hilih, jangan ngehalu, deh. Yang kreatif dikit, kek," ucap Juna.
Fio langsung mengerucutkan bibirnya. Tadinya juga dia ingin ngibul, berkata kalau Juna yang mengejar-ngejar dia.
Teman-teman SMA Fio dan Dhea, tertawa saja. Karena mereka tahu, Juna memang tidak pernah mengejar-ngejar Fio.
"Ish, kalian ini. Saat Dhea yang bilang begitu, kalian diam saja. Tapi kenapa saat aku yang bicara, kalian malah tidak ada yang mendukung?"
"Mungkin kamu memang ditakdirkan untuk bernasib apes."
"Juna, mulutmu, ya!"
Juna tertawa saja. Melihat gadis itu kesal, memang hobinya.
Arya yang melihat tingkah Fio, hanya mendengus saja Mata Arya kini tertuju pada Mila, dengan pandangan permusuhan yang masih sangat kental.
__ADS_1
Suasana yang nyaman ini, membaut para tamu belum ada yang pulang. Anak-anak bermain di taman dengan cerianya.
"Gak terasa ya, kita sudah ada yang punya anak. Padahal kayaknya baru kemarin kita masih anak-anak."
Singel, janda, duda, semuanya berkumpul bersama.
"Yuki tumben, belum ngantuk."
"Mungkin karena ramai, dia jadi senang."
Faustin memberikan coklat yang ada dalam genggaman tangannya pada Yuki.
"Mam, mam!"
Dhea terkekeh geli.
"Jadi ingat dulu, ada yang suka dikasih coklat. Terus pura-pura nolak."
"Siapa tuh, Yang?" tanya Vean, pura-pura lugu.
Pria itu menusuk-nusuk pipi Dhea dengan telunjuknya, yang terasa kenyal dan halus.
"Untung saja Vean menikah dengan Dhea, ya."
"Iya, untung saja. Coba kalau dulu dipaksakan langsung menikah dengan Fio, mungkin kita yang akan menangis darah," ucap Chandra.
Frisca juga bernafas lega. Dia kapok menjodohkan anaknya. Tapi kan anaknya hanya satu, jadi tidak akan ada lagi yang bisa minta dijodohkan.
__ADS_1