Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
204 Jentik-jentik


__ADS_3

"Bisa-bisanya ya, kamu, cerita begitu ke dia." Vean mencubit gemas pipi Dhea, yang terasa lembut.


"Kak Vean marah?"


"Enggak. Aku malah senang kamu bilang begitu. Ayo kita jalan, jadi tertunda gara-gara bertemu dengan dia."


"Pokoknya kamu harus percaya sama aku. Aku tidak akan membiarkan orang lain mengusik rumah tangga kita."


"Kalau misalnya, ada cowok yang tiba-tiba datang, terus menunjukkan rasa sukanya sama aku, gimana, Kak?"


"Enggak boleh!"


Dhea tertawa, dan Vean langsung sadar, kalau perempuan itu sedang mencoba membuat dia paham, kalau rasa khawatir itu akan tetap ada. Bukan masalah hanya percaya atau tidak percaya.


Dhea percaya pada Vean, tapi pria itu tampan dan kaya, siapa yang tidak akan menyukai dia?


Vean percaya pada Dhea, tapi perempuan itu berhati baik dan selalu tulus, siapa yang tidak akan menyukai dia?


"Kita harus saling mengingatkan. Jangan biarkan siapa pun menghancurkan hidup kita."


Mereka akhirnya jalan-jalan, dan belanja beberapa barang. Fio yang melihat foto-foto kiriman Dhea, menghela nafas.


Aku senang kalian berdua bahagia. Semoga aku juga segera menyusul, ya.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


Keesokan paginya, Vean kembali mengajak Dhea jalan-jalan. Dia ingin menyenangkan istrinya itu, ingin memanjakan Dhea, meski dia tahu Dhea sangat mandiri.


Vean mengajak Dhea membeli perhiasan, juga tas dan sepatu.


"Cari coklat yuk, Kak."


"Ayo."


Mereka menuju toko yang menjual berbagai jenis coklat dan olahan keju.


"Kamu capek?"


"Enggak, ini menyenangkan."


Jalan-jalan seperti ini juga bisa membantu Dhea mendapatkan inspirasi untuk design-nya.


"Jangan lupa beli oleh-oleh, Kak."


"Iya. Kita masih satu minggu di sini."


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...

__ADS_1


Vean mengusap perut Dhea dengan lembut saat istirahat itu sudah tidur, berharap akan segera memiliki anak yang lucu.


Memiliki istri yang bukan hanya cantik fisiknya, tapi juga hatinya. Lalu memiliki anak yang wajahnya nanti entah mirip siapa, akan menambah sempurna hidup Vean.


Vean lalu membuka ponselnya, membaca pesan yang dikirim oleh Juna.


[Gimana? Udah ada calon ponakan, belum?]


[Kamu kira lalat ijo, nemplok sebentar saja sudah langsung bertelur?]


Dan ternyata langsung dibalas oleh Juna.


[Hahaha, Vean lucu, deh. Jadi gemes!]


[Najis!]


Juna semakin tertawa di sana. Vean yang sekarang tidak seperti dulu lagi. Dulu diajak bercanda pun, diam saja tanpa ekspresi.


Vean masih sibuk berkirim pesan pada Juna dan Arya, sampai akhirnya dia memutuskan untuk tidur.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


Setiap hari Vean mengajak Dhea jalan-jalan. Entah untuk melihat tempat wisata, shopping, atau membeli banyak coklat.


"Kita pulangnya baik jet saja, ya."


"Iya. Kak Vean masih banyak gak, uangnya?"


Dhea tertawa, di tangan kanan dan kiri mereka, penuh dengan belanjaan. Bukan hanya untuk mereka, tapi juga anak-anak panti dan keluarga, juga para sahabat.


"Kak, aku mau buka usaha baru, boleh?"


"Usaha apa?"


"Mau buka kafe, nanti yang kerja adik-adik yang umurnya sudah cukup. Ingat dulu aku juga butuh pekerjaan waktu kost."


"Boleh." Vean langsung menyetujui, karena tujuannya juga baik.


"Nanti biar kau yang urus. Kamu gak boleh kelelahan."


"Iya, makasih ya, Kak."


Vean mengangguk, dia justru senang istrinya itu punya jiwa sosial yang tinggi.


"Hm, aku mau buat menu dengan olahan berbagai jenis coklat."


"Siap, Ratuku."

__ADS_1


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


Hari ini kepulangan Vean dan Dhea. Banyak barang yang mereka bawa. Pergi dengan tangan kosong, pulang membawa banyak tentengan.


Mereka benar-benar menikmati liburan bin bulan madu ini.


"Kalau nanti kita ada waktu, aku mau mengajak kamu ke Turki."


Mereka akhirnya masuk ke dalam jet, siap meninggalkan negara Belanda dan kenangan mereka selama satu minggu ini.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


"Dhea, Dhea!"


Vean mendengus saat mendengar suara teriakan Fio. Padahal dia sudah berpesan pada Juna dan Arya, jangan sampai membawa ondel-ondel ini ikut.


"Dhea, aku kangen. Kenapa perut kamu masih rata?"


"Jangan bikin malu, Fio!" ucap Juna.


"Mungkin karena jentik-jentiknya kak Vean belum berkembang."


"Ya ampun, kalian berdua ini!"


Fio dan Dhea tertawa saja.


"Ck, jentik-jentiknya Vean!" Juna lalu tertawa, padahal tadi dia menyuruh Fio dan Dhea diam.


"Berisik!" Bahu Juna ditepuk oleh Vean dan Arya, hingga pria itu terhuyung ke depan.


"Rese, kalian berdua."


Sudah ada dua mobil yang menjemput. Satu mobil khusus untuk membawa barang, sedangkan mereka naik ke mobil lain yang dikemudikan oleh Arya.


"Kak, yang lain sehat?"


"Sehat. Mereka malah berpikir bulan madu kalian terlalu cepat."


"Nanti uang Kak Vean habis, kalau lama-lama. Satu minggu saja, belanjaan banyak begini."


"Biarkan saja, Dhea. Porotin saja, Vean," ucap Fio.


"Kasihan yang menjadi suami kamu, pasti kamu porotin."


Fio lalu menarik rambut Juna dari belakang, hingga pria itu merasa kesakitan.


"Kita cari makan dulu," ucap Vean, memutus pertengkaran Juna dan Fio.

__ADS_1


Arya sendiri sudah pusing dengan ocehan Fio sejak mereka pergi tadi. Heran, kenapa Dhea bisa betah berteman dengan gadis manja itu.


"Kak, cari restoran Sunda, ya. Aku pengen itu," ucap Dhea.


__ADS_2