
Di dalam kelas Jani ke bingungan dengan adanya cokelat di laci mejanya. Ia sempat menanyakan keberadaan cokelat tersebut kepada teman-teman sekelasnya,tapi tidak ada yang tahu.
"Lo beneran nggak tau Na?" tanya Jani pada Vina yang sudah sampai di kelas duluan.
"Iya Jan. Gw dari tadi di kelas nggak liat ada orang yang deketin meja lo." jawab Vina menjelaskan.
"Lahh,,dari siapa sih? Reseh deh." ucap Jani kesal.
"Dari fans lo mungkin Jan." tebak Fani.
Jani menggeleng,"Kemarin-kemarin juga nggak ada kok." ucap Jani.
"Ya mungkin aja,dia baru jadi fans lo Jan." ucap Mia.
Jani hanya mengangkat ke dua bahunya. Ia tak ingin memikirkan hal yang menurutnya tak penting.
"Wiihh... Ada apa nih? Kok pada kumpul di meja kakak gw?" tanya Juna yang baru saja masuk ke kelas kakaknya. Juna melirik ke arah cokelat yang ada di depan kakaknya.
"Punya lo kak?" tanya Juna pada kakaknya dan di balas dengan gelengan kepala.
"Lah,terus punya siapa dong?" tanya Juna heran.
"Punya lo," ucap Jani asal.
Mata Juna berbinar-binar, "Beneran kak buat gw?" tanya Juna memastikan.
"Hemm,," jawab Jani yang kemudian duduk di kursinya tersebut.
Juna tersenyum senang,kemudian segera mengambil cokelat tersebut.
"Makasih kak," ucap Juna.
Dari luar jendela kelas,seseorang tampak kecewa melihat cokelat yang ia berikan. Justru sama sekali tidak di sentuh oleh orang yang ia tuju. Dengan langkah berat,ia kembali ke kelasnya dengan masih merasa kecewa.
"Hayy,abang-abang yang tampan-tampan." sapa Juna kepada teman-teman kakaknya yang baru pada masuk ke kelas.
"Ngapain di sini?" tanya Vino pada Juna.
"Nih nengokin kakak gw dulu." jawab Juna sambil melirik ke kakaknya.
"Lo kira gw orang sakit,yang harus di tengokin." ucap Jani dingin.
__ADS_1
Juna yang mendengar ucapan kakaknya,ia hanya nyengir kuda sambil menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
"Widih,cokelat dari mana Jun?" tanya Aldi yang melihat cokelat di tangan Juna.
"Dari kak Jani," jawab Juna.
Mendengar ucapan Juna,mereka pun melihat ke arah Jani.
"Lo punya cokelat nggak bagi-bagi kita juga Jan. Pilih kasih lo." ucap Fero kesal.
"Cokelatnya juga bukan punya Jani." ucap Fani.
"Lah terus punya siapa?" tanya Vino.
"Kita juga nggak tau. Dari fansnya si Jani kali." jawab Vina.
"Fans? Lah si manusia es ini punya fans juga ternyata. Gw yang tampan,baik hati dan suka tersenyum. Terutama di sukai dan di idam-idamkan para cewek-cewek ge,nggak ada tuh yang ngasih gw cokelat." jelas Fero.
"Yeuuhh... itu sih karena lo playboy gadungan." seru Fani sewot.
"Bener banget tuh. Mana ada playboy yang nggak bisa kehilangan cewek satu." timpal Mia.
"Ya kan. Karena gw playboy setia." ucap Fero santai.
"Kalo playboynya demi untuk mendapatkan perempuan yang dia sukai gimana?" tanya Revin pada Jani.
"Anjiirr... Kode keras nih." seru Aldi.
Jani lebih memilih diam tidak menjawab pertanyaan Revin. Karena ia sendiri pun tidak mengerti apa yang Revin bicarakan.
Bel sekolah pun berbunyi,pertanda jam belajar akan di mulai. Para Murid sekolah pun memasuki kelasnya masing-masing.
Karena tidak bisa meninggalkan sarapan di pagi hari. Alhasil saat bel istirahat berbunyi,Jani langsung mengajak sahabat-sahabatnya untuk ke kantin.
Sejak jam pertama di mulai,perut Jani sudah tidak bisa di ajak kerjasama. Tibanya mereka di kantin,segeralah mereka memesan makanan dan minumannya.
"Gays,besok kita jalan-jalan yuk." ajak Mia membuka pembicaraan.
"kemana?" tanya Vina.
"Yaa kemana ge. Bete nih gw di rumah mulu. Kalo perlu kita ajak aja tuh cowok-cowon kita,biar agak ramean gitu kayak waktu itu." ucap Mia senang.
__ADS_1
"Bener banget tuh. Gimana Jan,lo bisakan pergi sama kita?" tanya Fani memastikan.
"Lah gw kan nggak punya pasangan,terus nanti di sana gw kayak nyamuk gitu. Ih males banget deh." sungut Jani.
"Kan ada Revin." ucap Vina.
"Terus hubungannya sama gw apa?" tanya Jani bingung.
"Lo jadi nggak kayak nyamuk. Kan ada Revin juga yang jomblo jadi bisalah untuk sementara jadi pasangannya lo." jelas Fani.
"Mmm.. Gw nggak janji ya. Nanti gw kabarin kalian deh,kalo gw bisa." ucap Jani ragu.
* * *
Akhir pekan yang di tunggu-tunggu pun tiba. Biasanya di gunakan Jani untuk bersantai-santai di dalam kamarnya. Minggu ini Jani ingin berkunjung ke rumah Tante Rista. Sejak ia bangun dari pagi,Jani mulai bersiap-siap untuk pergi ke rumah Tante Rista. Tentu karena semalam tiba-tiba Tante Rista menghubunginya,untuk ia main ke rumahnya.
Pada akhirnya ia pun membatalkan untuk pergi bersama sahabat-sahabatnya. Awalnya sahabat-sahabatnya itu kecewa karena ia tidak bisa ikut mereka. Tapi akhirnya Jani pun menjanjikan kalau minggu depan ia akan pergi jalan-jalan dengan teman-temannya itu. Mereka pun memutuskan jika mereka tetap pergi tanpa ada Jani.
Tok...tok...tok...
"Juna,," panggil Jani dari luar kamar adiknya.
"Iya kak. Ada apa?" tanya Juna pada kakaknya. Yang sudah membuka pintu kamarnya.
"Hari ini lo ada acara nggak?" tanya Jani.
"Ada. Ntar siang gw mau pergi ke mall sama teman-teman gw. Kenapa emangnya?" tanya Juna.
"Gw ada urusan,mungkin agak lama. Kalo ntar siang lo mau berangkat,kunci rumahnya di taro tempat biasa aja." jawab Jani.
"Oke. Mau gw anter nggak kak!" tawar Juna pada kakaknya.
"Nggak usah,gw mau bawa mobil sendiri. Ya udah gw pergi ya." pamit Jani.
"Iya,hati-hati di jalan kak." ucap Juna.
Setiap akhir pekan memang Bi Inah dan Pak Sandy di liburkan kerjanya. Karena menurut Jani mereka mempunyai keluarga,jadi ia berfikir bahwa di hari libur. Mereka bisa menghabiskan waktu liburnya bersama dengan keluarganya masing-masing.
Jani pun menuruni tangga dan berjalan ke pintu utama. Setelah itu ia berjalan menuju garasi dan ia masuk ke dalam mobilnya. Jani pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Jani masih mengingat jalan menuju ke rumah Tante Rista,karena ia sudah dua kali ke rumah Tante Rista. Meski pertemuan mereka tidak di sengaja dan mereka tidak saling mengenal saat itu tapi entah mengapa Jani merasa nyaman jika berada di dekat Tante Rista.
__ADS_1
Mungkin karena selama ini dia dan adiknya tinggal berjauhan dengan kedua orang tuanya. Membuat Jani merindukan akan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dengan kehadiran Tante Rista di hidupnya,membuat Jani merasakan lagi kasih sayang dari Mamahnya sendiri.