
Revin menggenggam tangan Jani. "Maaf. Kalo perkataan gw tadi di sekolah,mungkin udah terlalu kasar sama lo. Gw beneran nggak bermaksud untuk bicara seperti itu. Maafin gw Jan." ucap Revin tulus sambil mengelus pucuk kepala Jani lembut.
Karena tak mendengar jawaban dari Jani. Revin berbalik badan dan berjalan menuju pintu. Langkahnya terhenti karena ucapan Jani.
"Lo nggak salah Rev. Justru gw yang salah. Maaf kalo sikap gw tanpa gw sadari udah menyakiti lo." ucap Jani lirih sambil menundukkan kepalanya ke bawah.
Revin berbalik menatap Jani yang sudah tertunduk lesu. Ia berjalan mendekati Jani dan langsung memeluk tubuh Jani ke dalam dekapannya. Entah mengapa melihat Jani seperti itu,membuat hati Revin sakit.
"Di sini nggak ada yang salah Jan. Hanya keadaanlah yang membuat kita seperti ini. Gw tau apa yang lo rasakan,karena gw pun merasakannya. Mari kita sama-sama membuka lembaran baru. Setidaknya hubungan kita bisa menjadi lebih dekat lagi. Misalkan seperti teman atau sahabat. Agar kita sama-sama bisa melupakan masa lalu kita masing-masing." ucap Revin lembut yang sudah melepaskan pelukkannya dan menatap Jani lekat.
Jani hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil meneteskan air matanya yang tak bisa lagi ia sembunyikan. Revin menghapus air mata Jani yang mengalir di ke dua pipinya.
"Jangan nangis. Gw ada di sini buat lo. Sekarang lo istirahat ya. Besok kalo sudah mendingan,lo hubungi gw aja. Nanti gw yang jemput lo ke rumah dan kita berangkat bareng ke sekolah." jelas Revin lembut dan mendapatkan anggukkan kepala oleh Jani.
Sebelum pergi,Revin mencium kening Jani lembut penuh kasih sayang. Setelah itu,Revin pamit pulang.
\* \* \*
Pagi ini Revin sudah berada di depan rumah Jani. Karena pagi tadi Jani menghubungi dirinya,kalo keadaanya sudah membaik dan Jani ingin masuk sekolah. Dengan senang hati Revin menjemputnya,karena sejujurnya itulah yang Revin harapkan sejak dulu.
"Udah selesai?" tanya Revin pada Jani yang melihat Jani keluar dari dalam rumahnya.
"Udah. Ayo,kita berangkat." ajak Jani.
Revin membukakan pintu mobilnya dan mempersilakkan Jani masuk. Di perlakukan seperti itu,Jani hanya memberi senyuman pada Revin dan Revin membalas senyuman Jani.
Revin masuk ke mobilnya dan mereka memakai sabuk pengaman. Mobil Revin keluar dari area perkarangan rumah Jani. Revin melajukan mobilnya dengan ke cepatan rata-rata.
Menghabiskan waktu tiga puluh menit,mobil Revin sampai di area parkiran sekolah. Setelah memarkirkan mobilnya,mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan bersama menuju kelasnya. Baru memasuki kelasnya,mereka berdua langsung di sambut dengan suara cemprengnya Mia.
"OMG Hellooo... Jani,lo nggak papa kan?" tanya Mia dengan suara cemprengnya.
Mendengan suara cemprengnya Mia,mereka semua menutup ke dua telinganya masing-masing.
"Woyy,,tahu mercon. Berisik lo." seru Fero.
"Diem lo,kang Cireng." celetuk Mia.
"Tadinya gw nggak papa. Tapi karena suara cempreng lo,telinga gw jadi kenapa-kenapa." ucap Jani dingin. Membuat Mia cengengesan dan menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal. Sedangkan mereka yang di situ sudah tertawa.
"Masih pagi Jan. Kondisikan tuh muka." ucap Aldi pada Jani.
"Tau lo. Jadi cewek jangan dingin-dingin banget napa." timpal Fero.
"Dingin-dingin gitu tapi lo pernah sukakan sama si Jani." cibir Vino sambil melirik ke Fero.
__ADS_1
"Cinta yang di tolak karena games hahaha." ucap Fani dengan tertawa. Membuat yang lainnya ikut tertawa.
"Diem," ucap Fero sambil membekap mulutnya Fani dengan telapak tangannya.
"Apaan sih lo!" ucap Fani kesal sambil melepaskan tangannya Fero dari mulutnya.
"Lo udah masuk sekolah aja. Emangnya lo udah sehat Jan?" tanya Vina.
"Udah kok," jawab Jani datar.
Triiing...Triiing...Triiing...
"Udah bel tuh. Pada kembali sono ke tempat asal kalian masing-masing." usir Revin pada teman-temannya.
"Ckk. Lo pikir kita arwah gentayangan." ucap Aldi kesal.
"Emang," celetuk Revin.
"Sialan lo," ucap Fero kesal.
Mereka pun kembali ke tempat duduknya masing-masing. Karena bel masuk sekolah sudah berbunyi. Mereka yang pada masih di luar,bergegas memasuki kelasnya masing-masing.
\* \* \*
Karena kesibukannya di Anggota Osis. Membuat hubungan Revin dan Jani menjadi lebih akrab. Sampai saat ini hubungan mereka hanya sebatas teman.
Karena hubungan mereka yang jauh lebih dekat dari sebelumnya. Membuat siswa dan siswi di sekolah yang menganggap jika mereka berdua sudah menjadi sepasang kekasih.
Revin atau Jani tidak membantah atau membenarkan anggapan dari teman-temannya di sekolah. Mereka berdua hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman.
Jani yang sudah lebih sering tersenyum dan Revin yang sudah tak lagi memasang wajah dingin. Mereka berdua sudah tidak lagi di juluki sebagai Manusia Es dari teman-temannya di sekolah.
Saat ini Anggota Osis sedang mengadakan rapat di Ruang Osis.
"Gimana? Semuanya sudah pada bereskan? Apa masih ada yang ingin mengeluarkan pendapat?" tanya Revin tegas pada Anggota Osisnya.
Dari sebelah pojok kiri,ada anggotanya yang mengacungkan tangannya ke atas.
"Ya. Silakan." ucap Revin mempersilakan pada Mila (Anggota Osis).
"Gimana kalo di acara nanti,ada yang bernyanyi di atas panggung. Nggak usah banyak-banyak,misalkan dua sampai tiga lagu. Biar menambah suasana semakin meriah." ucap Mila.
"Maksud lo,kita undang penyanyi gitu?" tanya Fero pada Mila.
"Ya nggak. Cukup murid dari sekolah kita aja yang bernyanyi di atas panggung." jawab Mila.
__ADS_1
"Tapi siapa? Apa di antara mereka ada yang mau?" tanya Fani.
"Gimana kalo yang bernyanyi di atas panggung Vino sama Vina aja." usul Rena (Anggota Osis).
"Setujuu!!" seru Mia dengan suara cemprengnya. Membuat teman-temannya yang berada di ruangan itu menutup kedua telinganya.
"Set dah.Woyy,markonah bisa di kecilin nggak tuh volumenya?" seru Fero.
"Diem lo malih." ucap Mia kesel.
Sedangkan yang berada di situ hanya geleng-gelengkan kepala,melihat kelakuan dua temannya itu.
"Gimana? Lo bersediakan?" tanya Revin pada Vino.
"Gw sih terserah kalian gimana baiknya aja." jawab Vino santai.
"Kalo lo Na?" tanya Revin pada Vina.
"Gw mau. Tapi ada syaratnya!" ucap Vina.
"Yaelah pake ada syaratnya segala Na." ucap Fero.
"Tau nih," timpal Fani.
"Emang apaan syaratnya?" tanya Mia kepo.
"Fero sama Fani harus ikut bernyanyi juga." jawab Vina sambil melihat ke arah Fero dan Fani.
"Jangan bercanda deh." ucap Fani males.
"Gw serius kok. Ya biar tambah seru ajah." kata Vina dengan wajah serius.
"Bener banget tuh. Kalian semua setuju nggak kalo nanti si Fani duet sama si Fero?" tanya Aldi pada Anggota Osis.
"Setujuuu!!" seru Anggota Osis bersamaan.
Revin melihat ke arah Fero dan Fani. "Gimana?" tanya Revin pada mereka berdua.
Wadidaaw,,gimana nih menurut kalian. Apakah Fero dan Fani setuju untuk menyanyikan lagu di acara nanti.???
Ikuti terus iia kelanjutan dari cerita novel ini. π
Maaf banget iia kalo aku baru melanjutkan cerita novel ini. π
Terimakasih juga untuk kalian yang sudah bersedia meluangkan waktu ini membaca cerita novel ku ini. ππ
__ADS_1