Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
105 Apa Semua Akan Baik?


__ADS_3

...πŸ’•πŸ’•πŸ’•...


"Jun ...."


"Hm?"


"Apa ... apa aku kembali ke masa lalu?"


"Hah? Apa?"


"Apa aku kembali ke masa lalu?"


"Kamu ini bicara apa?"


"Dhea ... maksudku. Aku memiliki seorang anak, namanya Dhea, lalu kami kecelakaan. Setelah aku sadar, kenapa bisa ada di sini lagi? Bersama Dhea ... maksudku, aku ... Dhea ...."


Vean tidak sanggup mengatakan kalau Dhea telah pergi meninggalkan mereka.


"Kamu hanya kelelahan saja, Vean."


"Tidak, aku yakin aku kembali ke masa lalu."


Ingin sekali Juna menoyor Vean, tapi dia tahu Vean sedang tidak baik-baik saja.


"Mana ada orang yang bisa kembali ke masa lalu. Kamu hanya terlalu lelah dan terlalu banyak berpikir. Makanya aku bilang, jangan terlalu sering duduk sendirian di sini, bisa-bisa kamu kesambet."

__ADS_1


Arya dan Juna menatap iba pada Vean. Sebegitu dalam kah rasa penyesalan yang Vean rasakan?


Juna lalu mengambil tangan Vean yang terluka, dan langsung mengobatinya. Dia sudah membawa kotak obat, agar bisa mengobati luka di tangan Vean.


"Ini, minumlah."


"Tidak."


"Ck, jangan membantah, cepat minum."


Vean lalu meminum air mineral itu, dan membiarkan Juna mengobati tangannya. Tidak lama kemudian, pria itu merasakan matanya yang sangat berat, dan tidak lama kemudian tertidur dalam posisi duduk.


"Kamu memberikan dia obat tidur?" tanya Arya.


"Iya, aku masukkan ke dalam minumannya."


"Pindahkan dengan hati-hati."


Beberapa orang perawat lalu memisahkan Vean ke atas brankar.


Mereka tiba di dalam ruang perawatan untuk Vean. Juna memasangkan infus, karena Vean keluarganya cairan dan tubuhnya sangat lemah. Selama ini, Vean selalu dan terlalu memaksakan diri.


"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Friska.


Tubuhnya terguncang menahan tangis. Dari hasil pemeriksaan, Vean terlalu tertekan dan mengalami stress berat.

__ADS_1


"Apa maksud Vean dengan anak? Pa, anak kita tidak ...."


"Tidak, anak kita baik-baik saja."


Vean tidur dengan nyenyak, akibat pengaruh obat tidur. Friska mengusap kening putra satu-satunya itu.


Vean bari bangun keesokan sorenya. Pengaruh obat tidur itu benar-benar kuat. Begitu bangun, dia langsung bergegas ke ruang ICU, dan bernafas lega setelah melihat Dhea. Dhea yang sesungguhnya, bukan seorang anak kecil.


Nyata, saat iri Vean hanyalah bermimpi. Bermimpi kalau Dhea pergi, bermimpi memiliki seorang anak perempuan yang dia beri nama Dhea.


Dia rasanya seperti sudah gila saja. Bukan hanya fisiknya yang berantakan, tapi juga pikirannya begitu kalut.


Vean tidak ingin keluar dari ruang tunggu di kamar Dhea. Matanya terus saja menatap pintu itu.


Bram yang melihat keadaan keponakannya seperti itu, memaksa Vean untuk istirahat.


"Kalau kamu terus seperti ini, bisa-bisa kamu juga ikut sakit, Vean. Apa kamu mau Dhea melakukan hal yang sia-sia karena sudah berkorban banyak?"


Vean lalu mengangkat wajahnya.


"Dia akan sembuh kan, Om?"


Bram tentu saja tidak bisa menjawabnya. Dia tidak mau mendahului takdir Tuhan. Tapi, jauh di lubuk hatinya, tentu saja dia ingin dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan gadis itu, yang sudah dia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.


"Fokuslah kepada dirimu sendiri, Vean!" ucap Bram dengan tegas.

__ADS_1


Inilah yang Dhea tidak inginkan. Melihat mereka yang merasa bersalah. Bram menatap nanar pintu ICU, lalu beralih menatap Vean. Pria itu memikirkan banyak hal, dan semua itu sangat penting untuk dilakukan.


__ADS_2