Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
127 Aroma Minyak Wangi


__ADS_3

Fio masuk ke dalam mobil dengan perasaan sedih.


Sementara Vean ....


"Apa Dhea meninggalkan sesuatu?"


Tanpa menunggu jawaban, Vean masuk ke dalam kamar Dhea. Dilihatnya kotak yang diberikan oleh Fio, yang isinya baju, sepatu, tas dan perhiasan untuk dipakai Dhea di acara pertunangan hari ini.


Tapi itu tidak penting bagi Vean.


Yang menarik perhatian pria itu, Dhea meninggalkan apa yang dipakainya kemarin.


Tas, sepatu, baju.


Vean tahu, Dhea pasti mengeluarkan uang banyak untuk membeli semua ini. Dia pasti harus menyisihkan uang tabungannya.


Sayang, kenapa kamu pergi? Kamu bahkan tidak mengatakan apa pun padaku.


Tidak ada kata perpisahan, walau hanya sebait kata di selembar kertas.


Vean lalu membuka isi lemari Dhea, yang ternyata memang ada isinya.


Semua tentang dirinya, ditinggalkan oleh Dhea begitu saja.


Apa kamu benar-benar ingin melupakan aku?


Vean menangis di dalam kamar itu. Dia memeluk baju Dhea, yang masih tercium aroma minyak wangi gadis itu.


Sayang, Sayang ....


Kenapa? Kenapa?

__ADS_1


Pria itu menepuk-nepuk dadanya. Dia tidak di dalam kamar itu. Kamar yang selama enam tahun ini di tempati oleh Dhea. Dipeluknya bantal Dhea, seolah itu adalah kekasih hatinya.


Vean menghirup aroma yang ada di baju Dhea dalam-dalam. Aroma yang selalu dia rindukan setiap hari. Aroma yang ada di surat cinta yang diberikan oleh Dhea saat MOS SMP dulu, karena Dhea menyemprotkan minyak wangi itu ke suratnya. Surat cinta yang masih Vana simpan hingga saat ini.


Ibu kos terdiam di depan pintu. Dia mengusap ujung matanya yang sudah basah.


Vean ingin berlama-lama di sini, tapi dia ingat ada Fio yang menunggunya di luar sana.


Vean merapihkan barang-barang Dhea. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang.


"Tolong kosongkan kamar ini. Jangan sewakan kamar ini. Dhea pasti akan kembali." Vean memberikan uang itu pada ibu kos.


"Kamu tidak perlu memberikan uang. Kamar ini memang untuk Dhea."


"Tolong diambil, Bu. Jangan menolak. Tolong simpankan barang-barang Dhea, nanti saya akan mengambilnya."


Vean melirik lagi kamar Dhea, sebelum akhirnya pergi dengan perasaan berat.


"Ayo kita ke bandara," ajak Fio.


Vean menatap langit. Ini sudah beberapa jam berlalu, apa gadis itu masih ada di bandara? Kalau pun masih ada, mungkin saat mereka tiba nanti, dia malah sudah pergi.


Di dalam hatinya, dia menangis.


Aku tahu, rasa sakit ku tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit mu, Dhea.


Vean mencengkram dengan erat stir mobil. Wajah Dhea selalu terbayang dalam pikirannya. Seharusnya dia sudah menyadari semua ini sejak Dhea meminta dirinya untuk berkencan.


Kalau saja bukan karena mamanya yang sakit, pasti Vean akan pergi. Tidak masalah jika dia diusir dari rumah.


Amerika? Tidak masalah, aku akan ke sana.

__ADS_1


Fio menangis, dan terus saja bicara, membuat kepala Vean semakin sakit. Dia tidak tidur semalaman.


Tapi itu tidak penting baginya. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya Dhea. Matanya terus menatap langit, memastikan apakah ada pesawat yang terbang di atasnya. Berpikir apakah itu Dhea.


Vean merasa jantungnya berdenyut, sedikit ngilu. Perasaanya menjadi semakin tak enak.


Tuhan, tolong jaga dia. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.


Vean menatap langit. Melihat gumpalan awan tanpa pesawat yang melintas.


Jangan biarkan dia pergi, Tuhan. Kumohon ....


"Dhea ...."


"Kamu bisa diam tidak, Fio?" bentak Vean.


Pandangan mata Vean tetap fokus ke atas, tidak memperhatikan apa yang ada di depannya.


Bruk


"Aaaaa ...."


Vean terbatuk, darah mengalir dari mulut dan hidungnya. Pandangan matanya meredup.


Dia seperti melihat Dhea yang ada di depannya.


Menangis ....


"Dhea ... maafkan aku."


"Dhea ...." Selalu nama Dhea yang dia sebut, hingga mata itu terpejam.

__ADS_1


Mungkin ini lebih baik. Jika kita tidak bisa bersama, lebih baik aku pergi saja, karena kamu pun telah meninggalkan aku ...


__ADS_2