Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
206 Konsultasi


__ADS_3

"Om, Dhea tidak akan mengalami kesulitan atau masalah pada kehamilan, kan?"


"Memang ada resiko bagi perempuan yang memiliki satu ginjal untuk hamil, tapi bukan berarti tidak bisa hamil. Yang penting harus menjaga kesehatan. Jaga pola makan dan istirahat yang teratur. Jangan sampai kelelahan, dan harus kontrol rutin."


Vean sedikit lega mendengar penjelasan dokter Bram.


"Kamu harus perhatikan Dhea, begitu ada tanda-tanda kehamilan, sebaiknya langsung periksa, jangan sampai ditunda. Kamu juga harus paham dengan siklus menstruasi istri kamu."


Vean mengangguk.


"Kamu hapal, siklus menstruasi istri kamu?"


"Enggak."


"Ck, kamu ini! Kapan terakhir kali Dhea datang bulan?"


"Kok nanyanya begitu sih, Om."


"Vean! Om ini dokter, ya harus nanya ke pasien apa saja yang perlu diketahui."


"Hm, waktu kami nikah, Dhea datang bulan."


"Sekarang, belum lagi?"


"Belum, orang tiap hari aku bikin anak."

__ADS_1


Ada suara tawa di sana, ternyata Juna.


"Tiap hari bikin anak, kok belum jadi?"


"Jangan becanda, Juna!"


"Iya, Pa. Galak amat."


"Kamu itu harus memperhatikan apa saja yang terjadi sama istri kamu, Vean! Kalau tidak bisa menjaga, balikin ke rumah Om!"


"Enak saja!"


"Kapan kamu pertama kali berhubungan dengan Dhea?"


"Ya ampun, masa harus sedetail itu?"


"Tiga hari setelah menikah."


Dokter Bram lalu menjelaskan tentang siklus menstruasi perempuan pada umumnya.


"Bisa maju beberapa hari, bisa mundur beberapa hari. Lamanya juga berbeda setiap orang. Ada yang sampai satu minggu, ada juga yang empat lima hari. Gaya hidup juga bisa mempengaruhi."


Vean benar-benar menyimak penjelasan dokter Bram.


"Nanti kamu beli testpack di apotek, suruh Dhea mencobanya besok pagi."

__ADS_1


"Iya."


Vean akan memastikan sendiri kesehatan istrinya dan calon anaknya. Dia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada mereka.


Pria itu lalu membeli banyak testpack. Kalau perlu setiap hari Dhea memakainya, agar tidak kecolongan.


Vean juga akan semakin ketat menjaga pola makan Dhea. Dia sudah meminta Erza mencari asisten rumah tangga yang pulang pergi, itu pun harus perempuan yang sudah berumur, di atas empat puluh tahun. Vean tidak mau Dhea yang melakukan pekerjaan rumah tangga. Hanya boleh memasak, itu pun kalau tidak sibuk.


Vean membawa testpack itu dan meletakkannya di atas nakas.


"Kamu bawa apa?"


"Testpack, besok pagi kamu coba, ya."


"Kalau hasilnya negatif?"


"Ya gak apa. Ini bukan masalah aku ingin cepat punya anak atau tidak. Tapi aku harus segera tahu kalau kamu hamil. Om Bram ingin kamu cek up secara rutin, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan jika kamu hamil."


"Hm, bagaimana kalau aku tidak bisa memiliki anak? Apa Kak Vean ...."


"Aku akan tetap bersama kamu. Kita ini saling melengkapi, Dhea. Jangan berpikiran macam-macam. Jangan sampai stress."


Vean memang sangat menginginkan anak, tapi itu anak dari Dhea.


Jangan berpikiran macam-macam, Dhea, aku tidak akan meninggalkan kamu. Justru aku yang sangat takut kehilangan dirimu.

__ADS_1


"Sekarang tidur."


Dokter Bram dan Bianca saat ini sedang menginap di rumah Juna. Akhir pekan memang membuat para orang tua mereka semua menginap di rumah anak-anaknya. Dan ide untuk tinggal di lingkungan yang sama, ternyata menyenangkan. Anak-anak mereka bisa saling menjaga dan menolong, jadi mereka pun tidak perlu khawatir.


__ADS_2