
Hari ini Vean akan mengajak Dhea bulan madu ke negara Belanda.
"Jangan buntuti kami!"
Vean menatap tajam pada Fio, tapi juga melirik pada Juna dan Arya. Dibandingkan Arya, Juna memang lebih mengkhawatirkan.
"Baik, Yang Mulia."
"Dhea, kamu yakin mau pergi berdua saja sama dia? Kalau nanti kamu diapa-apakan, bagaimana?"
Juna menoyor Fio.
"Kalau enggak diapa-apakan, gimana bisa punya anak!"
"Ck, apa aku harus memanggil kalian kakak, agar kalian baik padaku seperti Dhea?"
"Kak Vean, Kak Juna, Kak Arya."
"Jijik!" ucap ketiga pria itu.
Dhea hanya tertawa saja, sama sekali tidak kasihan pada temannya itu.
Dhea dan Vean akhirnya pergi dengan menggunakan pesawat. Tadinya Vean ingin mengajak menggunakan jet pribadi, tapi Dhea tidak mau.
Tangan Vean tidak lepas dari tangan Dhea. Di jari Vean ada dua cincin. Satu di kelingking, satu lagi di jari manis. Barang yang dibawa juga tidak banyak, karena Vean tidak mau repot-repot membawa barang, juga tidak mau Dhea repot membawa-bawa barang. Biar nanti beli di sana saja.
Pesawat mulai lepas landas, mereka kini meninggalkan Jakarta.
Akhirnya, aku bisa pergi berdua saja dengan Dhea.
"Fio gimana ya, Kak?"
"Kok kamu malah mengkhawatirkan dia, sih?"
"Kan dulu waktu Kak Vean jalan sama Fio, aku selalu diajak. Jadi mungkin dia kebiasaan saja Kak, kalau kita seharusnya pergi bertiga."
"Enggak. Enak saja! Dulu sebenarnya aku senang kalau kamu ikut. Tapi kali ini, jangan sampai dia ikut-ikut kita. Dendam atau apa tuh, dia?"
Dhea tertawa.
"Kenapa Kak Vean tidak suka dengan Fio?"
"Ya gak suka aja. Manja, sok cantik, nyebelin. Tapi ... kalau pun dia tidak manja, tetap saja aku tidak suka."
__ADS_1
Benar, banyak orang baik pada kita, tapi bukan berarti kita bisa menyukainya secara lebih. Dhea mandiri, tapi juga bisa bersikap manja, dan Vean tetap suka.
"Kamu tidur dulu, perjalanan masih sangat jauh."
Dhea menyandarkan kepalanya di pundak Vean, sedangkan Vean ikut menyadarkan kepalanya di atas kepala Dhea.
Mereka tiba di tempat tujuan. Dhea menghirup udara dalam-dalam, dan menatap langit. Kebiasaan yang selalu dia lakukan setiap kali tiba di suatu negara, apalagi negara yang baru dia datangi pertama kalinya.
"Selamat datang Tuan, Nona," ucap seseorang pria yang menjemput pasangan itu.
Vean dan Dhea mengangguk. Mereka lalu diantar ke hotel yang akan menjadi tempat bulan madu Vean dan Dhea.
Tiba di hotel, keduanya langsung beristirahat sebentar.
"Kamu mau istirahat, atau jalan-jalan?"
"Jalan-jalan, Kak. Aku mau foto-foto terus aku kirim ke Fio. Pasti dia iri, minta nikah buru-buru, deh."
"Terserah dia dah, asal jangan merusuh dan terus merengek saja."
"Oya, Kuta istirahat sebentar, baru nanti aku ajak jalan-jalan. Sekalian beli baju buat kita."
Satu jam istirahat, akhirnya mereka jalan-jalan.
"Yang, ini dulu teman kuliah aku. Oya, ini Dhea, istri aku."
"Kamu sudah menikah?"
"Kalau sudah punya istri, ya berarti sudah menikah, dong."
"Hai, saya Dhea."
Dhea jadi teringat dengan nasihat teman-temannya, waspada dengan pelakor. Bukannya Dhea tidak percaya pada Vean, tapi yang namanya pelakor, ada saja caranya untuk menggaet mangsanya.
"Oh, kita ngobrol-ngobrol, yuk, di sana."
Mereka akhirnya masuk ke salah satu kafe. Vean sebenarnya tidak mau, tapi Dhea menarik tangannya.
"Gimana kamu bisa kenalan sama Vean?"
"Adik kelasnya Kak Vean. Dulu waktu pertama kali ketemu, Kak Vean langsung suka sama aku, terus nembak aku. Toa hari ngejar-ngejar terus. Tapi karena mau fokus belajar, jadi aku tolak."
Vean tersedak kopinya.
__ADS_1
Kok begini ceritanya?
"Masa, sih?"
"Iya. Kak Vean dulu—sampai sekarang juga, sih—bucin akut. Makanya gak pernah mau dekat dengan perempuan mana pun."
Bucin akut?
"Nih coba lihat. Kak Vean sampai memakai dua cincin. Yang di kelingking ini, punya aku. Ada nama aku di sana."
"Iya kan, Kak?"
"Iya."
"Kamu tidak datang ke pernikahan kami?"
"Tidak. Aku sudah satu tahun tinggal di sini."
"Oh."
"Tapi Vean tidak pernah mengajak kamu ke kampusnya."
"Ya ngapain ke sana. Kan aku bukan bocil yang suka ngikuti Kak Vean kuliah."
Bukan bocil? Padahal dulu dia suka ngikuti aku ke sekolah. Nunggu di taman sambil teriak-teriak, "Kak Vean, Kak Vean."
Dhea memperhatikan wajah perempuan itu yang terlihat sedih.
Ck, mau bulan madu, malah ketemu sama penggemarnya kak Vean.
"Kalian di sini bulan madu?"
"Iya. Syukur-syukur pulang dari sini bisa bawa baby." Wajah keduanya langsung terlihat bahagia.
"Selamat ya, kalau begitu."
"Makasih, semoga kamu juga segera menyusul kami, ya."
Tapi aku maunya sama Vean. Oya, aku bisa meminta papa untuk melakukan kerja sama dengan Vean.
Vean menggenggam tangan Dhea dengan lembut.
Tenang saja, Yang. Aku bukan pria yang mudah tergoda. Dia tidak ada apa-apanya dibandingkan kamu.
__ADS_1