
Jam enam tiga puluh, mereka sudah pada minta makan. Akhir pekan yang biasanya dilakukan untuk mengistirahatkan tubuh, malah harus olahraga di pagi buta. Ayam aja kalah, kukuruyuknya. Setelah subuh, Vean tadi kembali mengajak mereka olahraga. Bukan olahraga sebenarnya, tapi mengeluarkan keringat dengan cara paksa.
Para pedagang makanan di pagi hari, langsung laris manis. Ya memang sih, di ujung gang ini, semua pedagang berkumpul. Mereka menjadikan tanah kosong milik Dhea untuk tempat mangkal, karena tahu para penghuni gang ini sering memborong dagangan mereka saat akhir pekan.
Juna sudah makan bubur ayam komplit dengan sate-satean, tapi dia menambah lontong sayur.
"Yuki mau apa?"
Tangan mungil itu menunjuk gerobak pedagang.
"Bang, bubur kacang hijau satu."
Dokter Stevie dan dokter Petter sangat antusias melihat makanan-makanan itu. Mereka ingin mencicipi semuanya, tapi rasanya tidak sanggup. Faustin yang sudah sembuh juga meminta makanan yang sama seperti Yuki.
"Yuki, sini sama om Juna."
Juna lalu memangku Yuki sambil menyuapi balita itu. Salah satu pedagang menyetel lagu agar suasana semakin meriah dan penuh semangat di pagi ini.
Goyang dombret ... goyang dombret ....
__ADS_1
"Yayang pret ... yayang pret ...," ucap Yuki menepuk-nepuk pipi Juna.
Fio langsung tersedak kuah lontong sayur yang pedas itu, sedangkan Vean mengacungkan kedua jempolnya pada Yuki. Melihat orang-orang yang tertawa, kecuali Juna, membuat dokter Petter dan dokter Stevie bingung.
"Apa arti dari lagu itu?"
Fio yang sudah tidak tahan, menepuk orang-orang yang ada di kiri kanannya dengan kencang. Sebelah kanannya, Dhea. Sedangkan sebelah kirinya, Arya.
"Iya, iya, maaf." Fio buru-buru meminta maaf pada Vean karena sudah menepuk Dhea dengan kencang. Pria itu terlalu bucin, sampai menepuk Dhea saja dianggap telah melakukan kejahatan besar.
"Yayang pret, yayang pret," ucap Yuki lagi, menatap Juna dengan wajah ceria. Tapi yang ditatap tidak menunjukkan keceriaan sama sekali.
"Sudah nasibmu!" jawab Arya.
"Permisi, Bapak-bapak, Ibu-ibu," sapa salah seorang warga, yang merupakan ketua RT setempat.
"Ya, kenapa ya, Pak RT?"
"Begini, saya dan warga akan melakukan kerja bakti, jadi kiranya berkenan ...." Sebenarnya, pak RT itu kerasa sungkan untuk meminta Vean dan yang lainnya ikut kerja bakti. Apa mau, pria-pria yang biasanya berjas itu melakukan pekerjaan kotor seperti ini?
__ADS_1
"Oh, baik, Pak. Kami selesaikan sarapan dulu, ya. Silahkan kalau Bapak-bapak mau ikut sarapan juga, pesan saja. Jangan sungkan."
Dalam hati, Vean, Juna, Steve, Felix dan dokter Petter bingung. Apa mereka harus mencangkul rumput? Masuk ke dalam got untuk membersihkan selokan? Atau apa?
Jujur saja, mereka belum pernah.
Arya dan adik-adik panti yang laki-laki, sudah terbiasa dengan hal itu, jadi mereka tidak akan bingung apa yang harus dilakukan.
"Terus kita ngapain?" bisik Aila di telinga Dhea.
"Kita menyiapkan makanan dan minuman saja. Kalau bahan-bahan di dapur kurang, kita bisa beli makanan di luar."
"Itu saja?"
"Kalau mau nanam bunga untuk penghijauan, juga boleh."
"Terus?"
"Aku mau minta Bagas bikin bale, ah. Sama mau bikin kolam ikan buat Yuki, tapi yang dangkal saja, nanti Yuki nyemplung ke situ, lagi!"
__ADS_1
Dhea lalu pulang ke rumahnya, memeriksa bahan makanan apa saja yang masih ada. Dia langsung menggoreng pisang dan merebus singkong. Perempuan itu tertawa pelan saat membayangkan para CEO itu harus ikut kerja bakti. Dhea tahu pak RT segan memintanya, tapi kalau tidak dilibatkan, nanti dikira pilih kasih, mentang-mentang orang kaya. Maklum saja, ini bukan lingkungan elite yang apa-apa tinggal menyuruh dan membayar orang untuk melaksanakan semuanya. Saat Dhea memilih rumah di sini, dia sama sekali tidak berpikir kalau Vean dan yang lain juga akan ikut pindah ke sini.