Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
236 Gercep


__ADS_3

Apa mungkin karena terlalu lama berada di pasar dengan bau amis dan bau campur aduk lainnya, Vean menjadi mual. Dia juga sepertinya masuk angin. Pria itu mengambil satu buah jeruk dan langsung memakannya, yang langsung menyegarkan tenggorokannya.


Mereka tiba kembali di rumah setelah subuh. Bahan-bahan masakan itu langsung dirapihkan oleh anak-anak panti yang sudah menunggu mereka sejak tadi. Dhea dan dokter Stevie membuatkan bubur untuk anak mereka.


"Nanti jangan lupa dibagikan ke gang-gang yang lain," ucap Vean.


"Oya, Bang. Dengar-dengar, akan ada pergantian ketua RW. Nah gosipnya nih, nanti yang dicalonkan adalah abang-abang yang di gang kita."


"Hah?"


"Kalau begitu, aku gak mau datang ke rapat."


"Aku juga tidak mau."


"Aku juga gak datang."


Ini saja mereka sudah teliti dengan pekerjaan yang menumpuk, jangan lagi dibebankan dengan menjadi ketua RT atau RW, atau apa pun itu, lah.


Apalagi di tempat tinggal orang tua mereka sebelumnya, setahu mereka tidak ada yang namanya ketua RT dan RW.


"Kalau butuh sokongan dana, kamu siap membantu. Tapi kalau untuk mengurus masalah warga, jangan sama kami."

__ADS_1


"Iya. Nanti pas mau rapat, tahu-tahu disuruh datang ke rumah sakit."


Di dapur


"Banyak banget bikin buburnya?"


"Ini sekalian buat balita-balita di panti."


Mertua Dhea dan mamanya Juna ikut membantu. Acara mingguan ini membuat mereka selalu bersemangat. Berkat Dhea, mereka merasa lebih hidup, tidak melulu sibuk arisan dengan ibu-ibu sosialita. Mereka juga jadi bisa merakan memiliki banyak anak.


"Mama dulu punya impian memiliki restoran sendiri," ucap Bianca.


"Tapi gagal karena beberapa hal. Sekarang, anggap saja mama lagi mengurus restoran, yang para pengunjungnya adalah kalian. Ini benar-benar menyenangkan."


Sekarang aku jadi pandai memasak, batin Erza.


Mereka tidak ada yang tahu, kalau perumahan itu sekarang menjadi terkenal, karena dari satu mulut ke mulut lainnya. Banyak yang ingin mengambil rumah di kompleks itu, membuat harga jualnya semakin meningkat. Dhea yang awalnya mengambil rumah di situ karena harganya murah dan tidak terlalu ramai, secara tidak langsung telah mengubah semuanya. Jajaran toko-toko dengan merk terkenal mulai banyak. Dari makanan sampai barang-barang.


"Pasang CCTV di berbagai tempat, Ka. Banyak anak-anak di sini, jangan sampai kecolongan!"


"Baik, Tuan."

__ADS_1


"Bikin pos sekuriti juga di gerbang masuk."


"Ini kue siapa?" teriak Dhea.


"Makan saja, tadi Arya beli banyak."


Dhea langsung mengambil salah satu kue itu. Wajahnya senang, karena dia selalu suka jajanan pasar. Vean yang melihat itu, ikut tersenyum. Yuki menjulurkan tangannya, ingin meraih kue yang Dhea makan.


"Mam mam mam," ucapnya.


Faustin mengambil kue yang ada di meja, lalu memberikannya pada Yuki.


"It ... it ...." (Eat ... eat)


Entah bagaimana kedua bocah itu berkomunikasi. Yang satu memakai bahasa Inggris ala anak balita. Yang satu memakai bahasa Indonesia yang masih belepotan.


Yuki melihat Faustin dengan mata bulatnya. Sedangkan Faustin memberikan potongan kue itu, dan menyuapi Yuki.


"Duh, lucu banget, sih."


"Noh, lihat Yuki dan Faustin. Gercep. Kalian yang sudah tua masih saja jomblo. Kalah masa sama anak kecil."

__ADS_1


Yang merasa jomblo, tentu saja melihat Yuki dan Faustin dengan pandangan terhina.


__ADS_2