
"Pipipi, Dy. Pipipi." Yuki menunjuk dirinya yang ada di dalam televisi. Tangan mungilnya menepuk-nepuk layar besar itu, mungkin ingin minta masuk ke dalamnya.
"Tintin, pipipi."
"Kiki mau masuk TV?"
"Hilih, masih kecil aja sudah punya panggilan sayang. Tintin dan Kiki. Apaan, tuh!" celetuk Juna.
Wajah Vean langsung cemberut.
"Dhedhe ...."
"Hilih, yang gede juga gak mau kalah."
"Pipipi!" celotehan Yuki menghentikan perdebatan panggilan sayang itu.
Yuki mulai merengek, dia menepuk-nepuk TV itu.
"Ck!"
"Bagaimana, Tuan, Nyonya? Sepertinya Yuki dan Faustin ingin menjadi artis cilik."
"Tapi ...."
"Pipipi!"
"Dad, Mom," ucap Faustin kepada kedua orang tuanya. Anak itu sepertinya ingin membujuk dokter Petter dan dokter Stevie agar mengijinkan mereka masuk TV.
"Iya, deh. Tapi ini tidak akan berlangsung lama. Nanti kalau mereka sudah bosan, kalian tidak boleh memaksa mereka lagi. Dan jadwalnya harus kami yang mengatur. Hanya boleh hari Selasa dan Kamis. Jam sembilan sampai jam sebelas."
"Akan kami bicarakan dengan atasan kami lebih dulu. Saya akan segera menghubungi Anda kembali. Ini kartu nama saya."
__ADS_1
"Gimana, Ter, Vie?"
"Faustin pasti akan ikut kalau Yuki mau."
"Ya sudah, nanti kalian bisa menghubungi Erza, asisten saya."
Orang-orang dari JANG ENTERTAINTMENT itu akhirnya pulang, dan akan segera memberikan laporan kepada atasan mereka.
Juna buru-buru pergi ke kamar mandi.
"Carikan aku bunga tujuh rupa!" teriaknya.
💦💦💦
"Bagas."
"Ya, Bang?"
Dinda adalah salah satu anak panti yang sebentar lagi akan lulus.
"Iya, Bang," sahut Dinda.
Dhea sedang menimang-nimang Yuki yang minum susu dari botol susunya.
"Pipipipi ...," gumam Yuki pelan dengan mata mengantuk.
"Iya, nanti masuk TV."
Keesokannya, Dhea, Vean, dokter Petter dan dokter Stevie menanda tangani kontrak kerja sama dengan JANG ENTERTAINTMENT.
Mereka membaca kontrak kerja sama itu dengan teliti. Jangan sampai nanti memberatkan anak-anak mereka. Karena mereka bukannya mau mencari uang melalui anak-anak itu, tapi hanya karena Yuki saja yang mau. Ya anggap saja melatih Yuki dan Faustin sejak dini untuk mengenal lebih banyak orang.
__ADS_1
"Ini nona Khea dan Gean."
Gean hanya melirik sekilas tanpa mengatakan apa-apa. Yuki mendekati Gean dan menarik-narik ujung baju Gean.
"Ain, ain." Balita itu meloncat-loncat kegirangan, dan kembali menarik-narik ujung baju Gean, hingga tubuhnya oleng dan jatuh.
Gean membantu Yuki berdiri dan mengusap telapak tangan balita itu.
Faustin yang melihat itu, langsung menarik tangan Yuki dan meniup-niupnya.
Gean diam saja, hanya melirik sekilas dan kembali memalingkan wajahnya.
"Sepertinya mereka bertiga akan cocok bila tampil bertiga," ucap Denis.
"Bagaimana menurut kamu, Khea?"
"Terserah saja, lah. Kamu kan tahu sendiri bagaimana Gean."
Dhea melirik Khea. Dia tahu tentang berita-berita mengenai Khea dan Gean. Ada rasa kagum untuk perempuan muda itu, dan segala perasaan lainnya.
Khea yang merasa ditatap, lalu menoleh.
"Senang bertemu dengan Anda, Nona Dhea."
"Anda mengenal saya?"
"Tentu saja. Kamu juga pasti mengenal aku, kan?"
"Eh? Iya, tentu saja."
Mereka lalu memperhatikan ketiga anak itu, yang memiliki pesona masing-masing. Yuki yang duduk tidak bisa diam di antara Faustin dan Gean. Foto ketiganya lalu diambil begitu saja.
__ADS_1
"Acara mereka pasti akan ditonton oleh banyak orang."