Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
146 Membicarakan Tetangga


__ADS_3

Lebih dari satu jam kemudian para pria itu datang dengan membawa kantong belanjaan yang sangat banyak.


"Banyak banget, habis berapa duit ini?"


"Enggak mahal, kami dapat banyak gratisan."


"Kok bisa?"


"Bisa, lah. Mereka jarang-jarang lihat bule masuk pasar. Ada Bang Vean, Bang Juna dan Bang Arya juga yang digodain emak-emak. Dikasih diskon, malah ada yang dikasih gratis."


"Biar kami yang masak, Kak." Anak-anak panti yang perempuan mulai mengolah masakan itu.


Tidak lama kemudian, beberapa mobil dari toko bahan bangunan datang. Bukan datang ke rumah Dhea, tapi ke rumah sebelah.


"Ke rumah kamu, Kak?"


"Iya."


"Rumah Vean?"


"Iya, Kak Vean jadi tetangga kita, Kak," ucap Dhea menjawab pertanyaan Arya.


"Apa? Vean pindah ke sebelah?" tanya Fio.


"Memangnya kamu enggak tahu?" tanya Dhea.


Tidak lama kemudian, beberapa mobil lain juga datang, tapi bukan ke rumah Vean, bukan juga rumah Dhea atau Arya.


"Kenapa jadi banyak yang renovasi rumah?"


"Ngiri kali, Kak. Lihat rumah tetangga renovasi, yang lain juga pengen. Entar balapan deh, rumah siapa yang paling gede. Pamer di sosmed."


"Sembarangan!" ucap Juna, Felix, Steven, Clara, Aila dan Sheila.


"Kok Abang sama Kakak yang sewot?"


"Itu rumah kami woy, yang mau direnovasi."


"Hah?"


"Ish, tadinya mau bikin kejutan untuk Dhea. Kan sekarang kita jadi tetanggaan."

__ADS_1


Dhea yang tadinya biasa saja, langsung berlari ke luar.


"Kalian serius pindah ke rumah-rumah itu?" teriak Dhea.


Yang lain jadi ikut berlari ke luar.


"Woiya, dong. Emangnya Vean doang yang jadi tetangga kamu. Kami juga mau."


Dhea langsung meloncat senang.


"Dhe, ini aku bobol, ya?" tanya Vean.


Belum juga Dhea bertanya, apalagi menyetujui apa yang Vean maksud, pagar tembok pembatas antara rumahnya dengan rumah Vean langsung di hancurkan oleh tukang.


"Pak, hancurkan juga tembok pembatas rumah kami!" teriak Juna.


Rumah Juna berbatasan dengan rumah Arya, membuat Arya mendengus.


Fio yang melihat itu, matanya langsung berkaca-kaca.


"Kalian kenapa enggak bilang mau pindah ke sini."


"Rumah mana yang masih kosong?"


"Mana ada yang kosong. Ada pemiliknya semua sekarang."


Fio lalu melihat ada rumah yang memang ada pemiliknya, tapi bukan milik mereka.


"Pokoknya aku juga mau beli rumah yang itu. Ayo Dhea, temani aku."


Mereka hanya geleng-geleng kepala.


Ya ampun, orang kaya! Mau beli rumah kaya mau jajan ke warung, batin anak-anak panti.


"Dah, ayo kita mulai masak."


Vean menatap tanah kosong yang mau dibeli oleh Dhea.


Dhea mau bikin apa, ya?


Tanah itu cukup luas, masih bisa dibikin beberapa rumah lagi.

__ADS_1


Para tukang mengerjakan beberapa rumah milik Vean dan sahabat-sahabat Dhea. Hanya renovasi sedikit sesuai selera masing-masing.


Dhea tersenyum, lingkungan ini bisa jadi lingkungan tempat mereka akhirnya. Dhea dulu memang tidak mau tinggal di apartemen, karena tidak bisa menanam banyak pohon dan duduk-duduk di halaman rumahnya. Rumah Dhea memang tidak terlalu besar, tapi halamannya luas. Anak-anak panti bisa berkumpul di sini.


Aroma masakan mulai tercium, membuat yang lain mulai lapar.


"Sis, ini tolong kasih ke tukang-tukang itu, ya."


"Iya, Kak."


"Sini, biar aku bantu," ucap Dimas.


Mereka membawa air putih, kopi dan cemilan.


"Kalian masaknya banyak, gak? Biar sekalian bisa dikasih ke tukang-tukang itu."


"Banyak, Kak."


Mereka makan bersama, seperti saat di panti dulu.


"Kami mau nginap di sini, besok kan hari Minggu."


"Tetangga nyusahin!"


"Biarin."


"Jadi tetangga enggak boleh pelit, nanti diomongin tetangga."


"Jadi tetangga enggak boleh songong, nanti diomongin tetangga."


"Aku ini tetanggamu."


"Dan kamu tetanggaku."


"Dan kita?"


"Saling ngomongin."


Mereka tertawa bersama.


Ish, nyebelin. Pokoknya aku juga harus dapat rumah itu! Batin Fio.

__ADS_1


__ADS_2