
Yuki sedang mengemut-**** jempolnya yang mungil itu, hingga ilernya memenuhi tangan.
"Papi, coba lihat anak kita, lucu, ya? Mami jadi pengen ngasih adik baru buat Yuki."
"Papi mami, papi mami, geli tahu enggak!" ucap Juna menyahuti Fio.
"Papa, mama mau anak laki-laki."
"Cih, mengerikan." Kali ini, Arya yang menyahuti.
Kedua pria yang dipanggil dengan papi dan papa oleh Fio itu, merinding geli.
Memang ada saja sikap Fio yang membuat dua pria tampan itu kesal.
"Adik ipar ...."
"Stop! Jangan main-main lagi. Dhea sebenarnya ingin memecat kamu jadi sahabat, tapi dia terlalu baik, jadi enggak tega," tegur Vean.
Dhea sejak tadi sudah memegang perutnya yang sakit menahan tawa.
"Hilih, heh, mantan tunangan, berkat aku yang membuang kamu, makanya Dhea mau mungut kamu!" balas Fio.
Bukannya kesal, Dhea malah semakin tertawa.
Gang rusuh, itulah nama gang yang sekarang terkenal dengan para penghuninya yang memang rusuh. Suara pertengkaran antar tetangga itu tidak perlu ditutup-tutupi lagi. Bukan lingkungan elit yang jaraknya dari satu rumah ke rumah lain cukup jauh. Gelindingan pun, bisa nyampai ke rumah tetangga.
Anak-anak panti juga bisa main ke rumah mana saja yang mereka mau. Suasana yang kekeluargaan itulah, yang membuat para penghuni rumah di lingkungan lain sangat iri.
__ADS_1
"Kamu buang? Sok laku, ada yang mau sama kamu aja, enggak."
Juna dan Arya tertawa terbahak-bahak.
"Tega kamu, Mas. Tega!"
"Fio, nanti aku kenalin sama teman aku saat SMP. Dia seorang arsitek."
"Dhea, kamu mau menolong satu orang tapi mengorbankan orang lain?" tanya Juna.
"Awas ya, nanti kalau aku punya pacar, kalian berdua yang menyesal."
Mila memandang Fio dari tempatnya berada. Sekarang memang hari Sabtu, mereka akan berkumpul dan memasak bersama untuk mempererat tali silaturahmi. Wanita paruh baya itu menghela nafas. Dia juga ingin memiliki seorang cucu. Andai saja pertunangan Fio dan Vean tidak batal, pasti dia yang akan menggendong cucunya.
Wanita itu berdecak, kasihan dengan nasib anaknya, juga nasibnya sendiri.
Mendengar perkataan Dhea yang ingin mengenalkan Fio dengan teman SMP-nya, membuat Mila was-was.
Memangnya Dhea punya teman yang berkelas seperti Fio?
Memangnya pria itu bisa menjamin kebahagiaan Fio?
Apa pria itu tampan?
Apa dia kaya?
Apa dia terpelajar?
__ADS_1
Aap dia berasal dari keluarga terpandang?
Mila mendadak pusing. Dia tidak mau anaknya asal comot pria. Mendengar perkataan-perkataan Juna dan Arya yang terus saja merendahkan anaknya, Mila sangat kesal.
Padahal yang lain mengganggap itu hanya candaan saja. Tapi dia takut, takut anaknya sebenarnya sakit hati dan terluka, tapi menutupinya.
Jangan sampai anakku jadi perawan tua, karena pernah gagal menikah.
Melihat Juna yang terus saja meledek Fio, dan Arya yang terlihat masa bodo, lagi-lagi membuat Mila kesal. Ingin melampiaskannya, tapi pada siapa?
Fio mengelus dadanya, memeluk Dhea dari samping.
"Adik ipar ...."
"Kebanyakan ngehalu begitu."
"Biasanya aku suka kasihan, sama perempuan yang ditinggal nikah oleh tunangannya, apalagi sama sahabatnya sendiri. Tapi ...."
"Yang ini kok, lucunya!"
"Wkwkwk ...." Juna tertawa kencang.
"Juna sialan! Arya ...."
"Bodo amat!"
"Ish, awas nanti kalian berdua berebutan aku!"
__ADS_1
"Daripada berebutan kamu, mendingan berebutan Clara."