Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
244 Jajanan


__ADS_3

Vean memberikan sepatah dua patah kata sambutan. Di hadapannya, duduk pak RT, pak RW, bahkan pak lurah dan polisi dari daerah setempat.


Kini dia dan yang lainnya sudah berdiri di depan pita merah untuk digunting bersama. Baru saja mereka akan melakukan pemotongan pita, pita itu sudah putus karena ditarik-tarik oleh Yuki. Tidak ada yang bisa memarahi balita gembul itu.


Acara selanjutnya adalah acara hiburan dan makan-makan. Makanan yang disuguhkan berkualitas semua, tapi mereka juga bebas memakan makanan para pedagang yang digratiskan, karena akan dibayar oleh Candra dan dokter Bram.


"Anggap saja kita sedang menyenangkan hati orang lain. Jarang-jarang juga kan, yang seperti ini."


Dokter Petter dan dokter Stevie belajar banyak selama tinggal di sini, yaitu kebersamaan dan tolong menolong. Tidak individu, membuat mereka merasa memiliki keluarga besar.


Anak-anak sibuk bermain di taman itu. Salah satu adik panti yang lebih dewasa juga mengawasi mereka. Faustin dan Yuki bermain bola pantai.


Tiba-tiba saja Yuki menangis karena dipukul oleh salah satu anak laki-laki, entah anak siapa. Anak itu lalu dipukul oleh Faustin.


"Ada apa ini?"


Ternyata anak itu ingin merebut bola yang Yuki mainkan.


"Main sama-sama, ya."

__ADS_1


"Cup cup cup, jangan nangis ya."


Ayah dari anak tadi datang dan memarahi anaknya.


"Sudah Pak, namanya juga anak-anak."


Masih sama-sama balita, belum mengerti apa-apa. Faustin lalu mengajak Yuki main kolam balon. Keduanya terlihat menggemaskan di dalam kolam balon itu.


"Mam mam."


"Yuki mau makan? Ayo, Faustin juga makan."


"Kamu kaya masa kecil kurang bahagia, deh," celetuk Fio.


Fio langsung tegang.


Dia salah bicara.


"Ini enak tahu. Murah meriah, kamu gak mau jajan? Mengenang masa SD kita?" Dhea menyikapinya dengan santai.

__ADS_1


Vean pun ikut membeli jajanan-jajanan itu.


"Anggap saja ini perayaan kedua pesta ulang tahun Yuki."


Faustin juga sama. Dia memakan jajanan-jajanan itu.


"Berat badan Faustin bertambah banyak. Cepat lelah kalau menggendong dia."


Dhea sendiri tidak pernah membatasi Yuki kalau ingin memakan sesuatu. Tidak harus membeli makanan di restoran. Ada makanan yang dijual pedagang keliling, dia tidak akan segan membelinya. Dia punya banyak uang untuk menyenangkan Yuki, jika mengingat masa kecilnya yang serba terbatas. Memang ada donatur yang setiap bulannya memberikan dana atau makanan dan barang-barang, tapi kan itu harus dibagi-bagi untuk anak-anak lain dan kebutuhan-kebutuhan lain yang jauh lebih penting.


Mungkin Vean sedikit khawatir, kalau ada makanan yang kurang higienis dari segi cara membuat atau peralatan masak atau mungkin bahan-bahannya. Tapi Dhea juga bisa mengantisipasinya, dan syukurnya Yuki anak yang sehat dan jarang sekali sakit.


"Yuki gak pernah sakit, Dhea?" tanya dokter Stevie.


"Pernah, waktu mau tumbuh gigi. Dia muntah-muntah dan diare. Badannya langsung kurus. Dirawat di rumah."


Acara masih saja tetap ramai sampai sore. Sudah persis seperti taman hiburan yang besar. Dhea harus menenangkan Yuki yang menangis karena disuruh tidur siang.


"Kan nanti malam mau nonton layar tancap. Yuki mau nonton, gak? Sama teman-teman yang lain."

__ADS_1


"Ayo Yuki, bobo," ucap Vean.


__ADS_2