Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
114 Jampi-jampi


__ADS_3

Vean diam saja mendengar perkataan Dhea, sementara orang-orang yang ada di sana, baik senior maupun murid baru, bersorak.


"Cepat duduk lagi di tempat kamu," ucap senior yang tadi memberikan Dhea hukuman itu.


"Belum dijawab, Kak."


"Enggak perlu."


Hari ketiga


Merasa disuruh memberikan surat cinta dan coklat untuk senior mereka. Siapa lagi yang menjadi target mereka kalau bukan Vean.


Dhea menulis surat itu sepenuh hati, dan membeli coklat yang menurutnya paling enak yang dijual di minimarket meskipun harus menguras uang tabungannya.


Berteman dengan Fio, membuat Dhea bisa menikmati banyak jenis coklat dari berbagai negara. Tapi tentu saja Dhea—saat ini—hanya mampu membeli coklat yang dijual di minimarket saja.


"Kak, surat dari calon istri. Ini coklat juga buat calon suami. Jangan lupa baca doa sebelum makan, Kak."


"Emang kenapa? Ada racunnya, ya?" tanya teman Vean, yang menahan tawa.


"Bukan, tapi sudah aku doa'in. Dari coklat turun ke hati."


Vean menunduk, malu. Bisa-bisanya ada gadis seperti ini.


Vean menerima surat dan coklat itu.


"Coba baca suratnya."


"Bagi dong, coklatnya."


Vean langsung memasukkan coklat dan surat itu ke dalam tasnya. Tidak hanya dari Dhea saja, dia juga pastinya mendapatkan dari murid baru lainnya.

__ADS_1


Vean tiba di rumahnya, membagikan coklat-coklat itu ke para pekerja di rumahnya.


"Coklat yang ini jangan ada yang makan."


"Baik, Tuan."


"Ma."


"Ya, Vean?"


"Di kulkas ada coklat."


"Makasih, Sayang."


"Bukan buat Mama. Mama enggak boleh makan, Papa juga. Pokonya itu coklat aku. Kalau mau, beli sendiri. Ingat, enggak ada yang boleh makan."


Wajah Friska langsung mesem, dia kira Vean memberikan dia cokelat, tumben pikirnya.


Dear, calon imamku


Ini coklat pertama dari calon istri. Di dalamnya ada jampi-jampi biar kamu tetap setia denganku.


Vean mengernyitkan keningnya, memangnya ada ya, orang jujur ngasih jampi-jampi? Tapi dia tahu, gadis itu hanya bercanda saja.


Vean terus membaca surat itu, sampai dia ketiduran, saking panjangnya surat yang ditulis oleh Dhea.


MOS sudah berakhir, Dhea terlihat lesu saat tidak lagi melihat Vean. Doa tidak tahu, kalau Vean bersekolah di lingkungan yang sama dengannya.


"Kak Vean, nungguin aku pulang, ya? Khawatir sama calon istri?"


"Dasar bocil, jangan PD, deh."

__ADS_1


"Jangan malu-malu, Kak."


Vean menghela nafas, dia akhirnya membiarkan saja Dhea yang terus bicara.


Saat pulang sekolah


Di depan halte, Vean melihat Dhea yang menunggu jemputan.


"Kamu nunggu jemputan?"


"Enggak, aku nunggu angkot."


"Angkot?"


"Iya. Mau pulang naik angkot."


Vean menatap langit yang sepertinya akan turun hujan.


"Ayo aku antar."


Tidak perlu bersikap malu-malu atau pura-pura menolak, Dhea tentu saja dengan senang hati menerima ajakan Vean.


Vean kembali bingung saat Dhea menunjukkan jalan pulang.


"Di sini, Kak. Aku ngekost di sini."


"Ngekost? Kamu kan masih SMP. Baru kelas satu, lagi. Orang tua kamu tidak khawatir?"


"Aku anak yatim piatu, Kak. Aku dapat beasiswa sekolah di sana, karena cukup jauh dari panti asuhan, aku jadi kost di sini. Pemilik kosan ini, sahabatnya ibu panti. Jadi ibu panti mengijinkan aku. Kakak-kakak yang ada di sini juga semuanya baik."


Vean lalu—tanpa sadar—melihat penampilan Dhea, yang memakai barang mahal.

__ADS_1


"Oh, ini dikasih sahabat aku. Sekarang dia melanjutkan sekolah di luar negeri. Kalau dia pulang, aku kenalkan. Tapi kakak enggak boleh berkhianat, ya. Enggak boleh suka sama dia."


__ADS_2