
"Aaaah ... awww, ahhh ... awwww ...."
Vean mendelik tajam mendengar rintihan Juna yang rasa-rasanya terdengar ambigu. Bukan hanya Vean saja sih, mereka yang lain juga langsung nyambung dengan yang ah aw ah aw ini.
Vean langsung membekap mulut Juna dengan kain basah. Entah itu bekas cuci mobil atau apa, Vean gak peduli.
"Vean kamvrett!"
"Saa ... kitt, Yuki!"
Bagaimana tidak, Yuki itu bukannya menyampoi Juna, tapi menjambak, bahkan mencabuti rambut dokter apes itu.
"Ngi, ambutna ngingi."
"Bukannya wangi, botak dah!"
"Bunbun yeyum."
"Aaa, gak mau!"
Yuki meracik sabun cuci baju dengan air, dan ingin memandikan Juna. Dikiranya Juna bonekanya!
"Yuki Sayang, kasihan papi Juna. Nanti nangis," ucap Dhea.
Yuki lalu memandang Juna dengan mata beningnya.
"Jangan menghipnotis papi dengan tatapan kamu itu." Juna ngoceh-ngoceh. Masih kecil saja, Yuki itu sudah pandai merayu. Cukup memberikan puppy eyes-nya, maka orang-orang akan luluh.
"Nanan ngis, ya."
Yuki menepuk-nepuk kepala Juna, yang bisa diartikan sebagai menimpuk. Untung tangannya kecil dan tidak sakit.
"Ni cucu, ni."
Air sabun itu dimasukkan ke dalam botol susu Yuki, lalu diberikannya pada Juna.
__ADS_1
"Num, nanan ngis gi."
Wajah Juna langsung terlihat lebih menyeramkan, menurut Yuki. Balita itu langsung lari ke pelukan Vean.
"Macuk, macuk. Celem."
"Permisi."
Mereka menoleh, melihat beberapa orang berpakaian rapih yang tersenyum ramah, terutama pada Yuki dan Faustin.
Vean langsung memeluk erat anaknya, takut Yuki disukai oleh om-om. Dia tidak mau punya menantu setua itu.
"Ya, ada apa, ya?" tanya Arya.
"Perkenalkan, kami dari JANG ENTERTAINTMENT."
"Silahkan duduk. Maaf ya, berantakan."
Dhea dan dokter Stevie langsung memandikan Yuki dan Faustin.
"Begini, kami bermaksud mengajak putra putri Bapak untuk menjadi pengisi acara di program anak-anak perusahaan kami."
"Maaf, tapi kami tidak tertarik."
"Tapi ...."
Yuki dan Faustin yang sudah mandi, kembali ke luar. Orang-orang itu memandang kagum pada keduanya, yang cantik dan ganteng meski masih balita.
"Halo adik cantik dan ganteng, siapa namanya?"
Yuki diam saja, dia mendekati salah satu orang yang membawa kamera.
"Itu kamera untuk merekam. Adik-adik mau syuting, gak? Nanti bisa muncul di TV."
"Pipi pipi pipi?"
__ADS_1
"Nanti ada di dalam TV. Kaya begini."
Pemimpin dari orang-orang yang datang itu lalu menunjukkan rekaman yang tadi dia lakukan.
"Maaf, bukan kami bermaksud kencang. Tadi kami merekam kegiatan Anda semua. Kami akan mempublikasikan videonya jika telah mendapatkan persetujuan dari Anda semua."
Yuki dan Faustin yang melihat itu di dalam kamera, langsung berteriak senang.
"Bisa dilihat di layar yang besar. Bisa saya pinjam televisinya?"
Dia lalu menyambungkan rekaman itu ke televisi, dan video bisa dilihat dengan ukuran besar.
"Pipi pipi pipi."
Yuki memeluk layar televisi itu, meski tidak bisa menutupi semuanya karena TV sama dia saja, masih besaran TV.
"Adik-adik mau syuting kaya gitu, gak?"
"Ting ting?" tanya Yuki.
"Dydy sih ting ting? Min min sih ting ting ...."
Dhea langsung tertawa mendengar perkataan Yuki.
"Bukannya Daddy masih ting ting, Yuki."
Juna dan Arya ikut tertawa.
"Kalau Daddy kamu masih ting ting, kamu belum ada, Yuki."
"Yuyuyum ...."
"Iya, dah. Iya."
Kalau Sidah bicara sama Yuki, bakalan sahut-sahutan terus.
__ADS_1
Ngomong-ngomong, sejak tadi Juna sudah garuk-garuk badan dan kepala.