Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
117 Cium Tangan


__ADS_3

"Kenapa kita enggak sampai-sampai?"


"Masa, sih?"


"Sudah satu jam, ini. Beli minuman dulu."


"Sekalian makan ya, Kak."


Vean menatap Dhea, gadis itu hanya cengar-cengir saja.


"Nafkah pertama dari calon suami."


Lagi-lagi Vean menahan senyum. Kenapa gadis ini selalu bisa membuatnya tersenyum, meski harus mati-matian dia tahan.


Vean membeli bakso di pinggir jalan kecil itu. Dhea menerimanya dengan senang hati. Dia tidak akan memilih-milih makanan.


Hujan mulai turun, Dhea semakin kesenangan karena waktu bersama Vean akan semakin lama.


Hujan berhenti satu jam kemudian.


"Ayo, nanti kemalaman."


"Kak ...."


"Hm."


"Kita tersesat, dan aku tak tahu arah jalan pulang. Tapi ...."


"Tapi apa?"


"Aku kok selalu tahu arah ke hatimu ya, Kak."


"Jangan macam-macam, kamu ngerjain aku ya? Pantas saja dari tadi enggak nyampe-nyampe."


"Calon suami jangan ngambek."


Vean tidak bisa marah pada gadis ini. Jujur saja, dia juga menikmati jalan-jalan ini.

__ADS_1


Jangankan jalan seperti ini, lautan dan gunung pun akan aku lewati.


Vean tidak sadar, kalau dirinya sudah terkena virus gombal Dhea.


Dhea berjalan dengan ceria di sebelah Vean. Akhirnya mereka tiba juga.


"Masuk sana!"


"Tunggu, Kak."


"Apa?"


"Salim."


Dhea langsung mengambil tangan Vean dan mencium punggung tangannya.


"Latihan dulu, Kak. Kan nanti tiap hari, aku bakalan nyium tangan Kakak. Jangan grogi dong, calon suami." Dhea langsung kabur ke dalam kosan sambil tertawa kencang dan jingkrak-jingkrak.


Vean celingak-celinguk kiri kanan, takut ada yang melihat.


"Kamu dari mana? Aku nungguin kamu dari tadi."


"Kamu pulang naik taksi? Motor kamu mana?" tanya Friska.


"Di sekolah."


"Kok enggak pulang pakai motor."


"Lupa."


"Besok kita ke sekolah sama-sama. Kamu jemput aku."


...💦💦💦...


Sudah hampir satu tahun, Dhea mengejar-ngejar Vean, tapi belum juga ada kemajuan.


"Kak, kenapa Kakak enggak suka sama aku."

__ADS_1


"Belajar sana, sebentar lagi mau ulangan umum."


"Vean," sapa seorang gadis berseragam SMA yang sama dengan Vean.


Cantik, jangan-jangan pacarnya kak Vena, makanya Kak Vean tidak suka padaku.


Kalau bukan karena barang-barang dari Fio, aku pasti semakin terlihat gembel.


Vean menatap Dhea yang terlihat murung, lalu menatap sekilas gadis yang menyapanya.


"Aku mau belajar, jangan ganggu. Pergi sana!" usir Vean pada teman satu sekolahnya.


Sementara itu, Juna juga mencari keberadaan Vean. Kenapa sahabat sekaligus saudaranya itu seringkali menghilang di saat jam istirahat. Bahkan sebelum masuk dan sepulang sekolah, suka tidak ada tiba-tiba.


"Lihat Vean?"


"Enggak."


"Pacaran kali."


"Pacaran?"


"Iya, kamu enggak tahu? Vean kan ditembak sama anak SMP sebelah."


"Hah?"


"Anak kelas satu."


"Banyak yang jadi saksi."


"Itu kan cuma hukuman buat dia saja."


"Tapi lucu tahu, tuh anak gemesin banget. Dia juga sering nyamperin Vean, pasti suka beneran tuh."


Juna langsung pergi ke taman sekolah mereka, ingin melihat sendiri, apa benar Vean sedang bersama anak SMP? Seperti apa sih, gadis itu.


Vean yang penglihatannya tajam, bisa melihat Juna yang datang. Pria itu buru-buru menjauhi Dhea dan menyuruh gadis itu untuk kembali ke sekolah sebelah.

__ADS_1


Nanti Juna bisa suka sama Dhea.


__ADS_2