Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
TO Episode.07


__ADS_3

Saat mereka masih berdiri di depan pintu. Nggak lama kemudian Juna dateng dari kamarnya.


"Hey,,udah pada nyampe nih? Sini yuk masuk" ajak Juna. Mereka pun mengikuti Juna dari belakang.


"Mereka ke sini gw yang ngundang kak. Abisannya gw bete seharian di rumah sendiri. Lo juga dari pagi di dalam kamar mulu." ucap Juna pada Jani.


Mereka pun berkumpul di ruang tengah. Menonton Vino dan Fero main PS.


"Jan,gw denger-denger kemaren lo di labrak sama si Sarah and The Gank ya?" tanya Fani.


"Iya tuh,gw denger juga dari murid-murid sekolah kalo lo di tampar juga sama si Sarah ya?" timpal Mia.


"Nggak kok,mungkin kalian salah denger kali." ucap Jani cuek.


Revin yang mendengar ucapan Jani,ia menatap Jani pekat. "Nih cewek napa bohong ke teman-temannya!" -batin Revin.


"Lo di tampar sama dia kak? Berani banget tuh cewek sakiti kakak gw. Mau cari masalah dia!" ucap Juna emosi mendengar yang di alami kakaknya di sekolah.


"Apaan sih. Udah deh nggak usah bahas yang nggak penting." ucap Jani males.


"Fer,awas tuh ntar lo kalah." ucap Aldi.


"Etdah si tolol diem napa. Ini ge gw lagi fokus biar nggak kalah." ucap Fero.


"Sebenarnya lo bisa maennya nggak sih?" tanya Fani.


"Tau nih oneng banget,cuma lawan si Vino aja masa kalah." timpal Mia.


"Lo pada bisa diem kagak!" kata Fero kesel.


"Dih dia sewot" cibir Fani.


Fero hanya diem mendengar ucapan kekasihnya itu. Di saat mereka sedang asyik-asyiknya menonton. Tiba-tiba lampu rumahnya Jani mati.


"Aaaaa..." teriak mereka bersamaan.


"Lah ini lampu napa tiba-tiba mati dah. Jun lo belom bayar listrik ya?" tanya Aldi.


"Tau nih,nggak tau apa tadi gw hampir menang!" timpal Fero.


"Menang? Menanggung malu maksud lo!" seru Fani.


"Etdah lo beb,kagak ada ngedukung pacarnya pisan." ucap Fero dongkol.


Dari pembicaraan teman-temannya itu. Revin merasakan tangannya di dekap erat dengan seseorang. Bahkan ia bisa merasakan bahwa seseorang yang mendekap tangannya sangat ketakutan. Karena ia merasakan betapa eratnya dekapan tangan seseorang itu.


"Kak,lo nggak papa kan?" tanya Juna khawatir.


"Revin,Jani ada di dekat lo kan? Tolong tenangin dia. Gw mau cek ke depan dulu." ucap Vino dan menuju tempat meteran listrik berada.

__ADS_1


Mendengar ucapan Juna dan Vino.Revin baru menyadari kalau seseorang yang mendekap tangannya cukup erat itu adalah Jani.


"Jangan takut. Gw ada di sini,di samping lo!" ucap Revin lembut.


"Gw takut Rev." lirih Jani yang masih menggenggam tangannya Revin.


Revin pun membawa Jani ke pelukkannya,ia mengelus punggung dan mencium puncak kepala Jani. Agar wanita yang di sampingnya bisa lebih tenang. Jani yang mendapatkan perilaku seperti itu hanya bisa pasrah karena saat ini ia memang sangat membutuhkan hal itu.


Lampu pun kembali menyalah dan mereka bersorak gembira. Sedangkan Jani yang masih menutup matanya,ia masih setia menggenggam tangan Revin erat.


"Ekhm,,ekhm.. Udah kali pelukkannya!" sindir Mia.


Jani yang mendengar ucapan Mia,ia tersadar dan segera melepaskan diri dari pelukkan Revin.


"Apaan sih lo. Tadi itu gw cu-cuma reflek." sangkal Jani.


"Cuma reflek tapi betah banget di pelukkan Revin." ucap Vina menggoda Jani.


Jani mendengus kasar " Kata siapa? Gw nggak betah di pelukkan dia." tegas Jani.


"Dia nggak betah lama-lama di peluk sama gw karena takut suka sama gw." ucap Revin santai.


"What? Gw suka sama lo,nggak mungkin." protes Jani.


Revin tersenyum miring mendengar protes dari Jani.


"Tau nih sih Jani. Bilang aja sih kalo lo mulai suka sama Revin. Kita sebagai sahabat-sahabat lo juga ngedukung hubungan kalian kok!" timpal Fani.


"Udah malem mendingan kalian pada balik sono." usir Jani dan berlalu ke kamar meninggalkan mereka karena ia tak ingin teman-temannya melihat wajahnya yang pastinya sudah merona karena malu.


Di karenakan hari sudah malam. Mereka pun berpamitan dan pulang ke rumahnya masing-masing.


\* \* \*


Saat ini lapangan basket di penuhi oleh penonton yang sedang menyemangati Tim Basket. Sejak beberapa menit yang lalu,Pak Sandy menyuruh seluruh anggota Basket untuk melakukan latihan. Dan dapat di bayangkan bagaimana suasana kali ini.


Banyak teriakkan cewek-cewek yang menyebut nama anak Basket sebagai ungkapan semangat. Lebih tepatnya bukan semua anak Basket,namun hanya satu nama. Revin.


"Revin semangat!!"


"Ya ampun Revin keren banget."


"Si Revin makin cool aja deh."


"Revin sayang semangat."


What? Sayang?


Jani merasa risih mendengar teriakkan-teriakkan yang menurutnya sama sekali tidak bermutu. Entah mengapa Jani sangat benci saat mendengar ada yang memanggil Revin dengan sebutan-sebutan aneh. Ya,meski Jani mengakui jika ia tidak ada hubungan apa pun dengan Revin. Namun tetap saja ia tidak suka mendengar hal seperti itu.

__ADS_1


"Jan,lo nggak papa?" tanya Fani sambil menepuk pundak Jani.


Jani hanya menggeleng sebagai jawabannya.


"Nggak usah di tutup-tutupin.Lo cemburukan?" tanya Vina.


"Apaan sih lo,nggak ya. Ngapain juga gw cemburu sama tuh cowok." ucap Jani kesal dan Vina hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.


"Yuk" ajak Mia.


"Kemana?" tanya Jani.


"Nyamperin mereka. Liat tuh mereka udah selesai maennya." jawab Mia seraya menunjuk ke arah anak-anak Basket.


"Nggak ah,kalian aja sono." tolak Jani yang justru berjalan menjauh dari lapangan.


Dari ke jauhan Revin melihat dengan jelas bagaimana Jani sangat tidak ingin berurusan dengan dirinya.


"Semakin lo menjauh dari gw. Jangan salahin gw kalo gw semakin mendekat ke lo." -batin Revin.


Revin pun menyusul Jani ke kelas. Sampainya ia di depan pintu kelasnya,ia melihat Jani yang sedang menatap layar handphone nya. Ia pun berjalan menuju tempat duduk Jani.


"Kenapa di sini? Lo nggak ikut ngumpul sama temen-temen lo di lapangan?" tanya Revin yang sudah duduk di sebelah Jani.


"Nggak" jawab Jani singkat.


"Sebegitunya kah lo ngindarin gw?" tanya Revin.


"Gw nggak ngindarin lo." jawab Jani males.


"Tapi kenapa gw merasa kalo lo itu emang lagi ngindarin gw?" tanya Revin sambil menatap Jani pekat.


"Perasaan lo aja kali." jawab Jani dingin.


"Ckk,,lo masih percaya sama omongannya si Sarah itu? Pliis Jan,lo harus percaya sama gw. Gw itu nggak ada hubungan apa-apa sama si Sarah." jelas Revin. Jani hanya mengedikkan bahunya tanda tak perduli.


Dari ke jauhan Sarah and The Gank melihat kedekatan Revin dan Jani.


"Makin hari mereka makin deket aja tuh Sar." kata Siska.


"Lah emangnya kenapa? Merekakan sekelas jadi wajar ajalah kalo mereka itu deket." ucap Puput polos.


"Lo diem aja deh Put,kalo nggak ngerti apa-apa." ucap Siska males.


"Gw nggak akan biarin mereka lebih dekat lagi." kata Sarah marah.


"Terus lo punya rencana apa lagi Sar?" tanya Siska.


"Kita liat aja nanti. Gw akan buat tuh cewek gatel menyesal karena udah cari masalah sama gw." ucap Sarah seraya tersenyum licik.

__ADS_1


Mereka pun pergi ke kelasnya karena bel sekolah sudah berbunyi tanda waktu istirahat selesai.


__ADS_2