
Sudah satu minggu ini Vean marah-marah terus.
"Pa, masa Papa tidak tahu di mana Om Bram?"
"Kalau papa tahu, sudah pasti papa akan memberi tahu kamu, Vean."
"Kenapa sih, om Bram harus membawa Dhea diam-diam begitu?"
Apa mungkin mereka ke Swiss? Tapi rasanya tidak mungkin ke sana lagi. Apa ke Amerika?
Ada berapa banyak negara dan kota di dunia ini. Dia sudah menyuruh orang-orang kepercayaannya yang ada di beberapa negara untuk mencari tahu keberadaan Dhea, terutama di negara-negara yang ada rumah sakit keluarganya.
Bram memang memiliki kekuasaan di rumah sakit keluarga, selain dia sendiri juga memiliki rumah sakit sendiri di beberapa negara. Dengan kekuasaan yang omnya itu miliki, apa yang tidak bisa pria tua itu lakukan.
Friska menghela nafas melihat anaknya yang sekarang semakin dingin. Vean yang dulu tidak banyak bicara, sekarang malah semakin tertutup.
Di lain tempat, Fio juga merasa kecewa. Kenapa Dhea dibawa pergi begitu saja tanpa memberi tahunya. Apa dia—sebagai sahabat—tidak berharga sama sekali?
Sekarang ... tidak, bukan sekarang, tapi sejak beberapa tahun yang lalu, darah Dhea sudah mengalir dalam tubuhnya, memenuhi nadi dan setiap organ tubuhnya. Dhea bukan hanya sekedar sahabat, tapi juga saudara.
Ya, dia saja bisa sampai seperti ini, apalagi Vean? Yang ginjalnya adalah ginjal Dhea, pasti rasanya lebih berat lagi, lebih terluka lagi.
Bayangkan saja bagaimana jauhnya antara darah dan ginjal. Tidak akan pernah sebanding. Jika darah bisa mempererat hubungan seseorang—meski tidak memiliki hubungan darah secara langsung—apalagi ginjal.
Fio tentu saja sangat tahu apa yang dirasakan Vean saat ini, lebih dari yang gadis itu rasakan.
Fio menatap foto-foto dia bersama Dhea, ada juga foto mereka bertiga, bahkan ada juga foto mereka berempat—bersama Juna.
Semua masih dia simpan dengan baik. Tidak ada yang berkurang satu pun, masih sama banyaknya, sama rapihnya, dan sama susunannya.
__ADS_1
Cepatlah sembuh, dan cepatlah pulang.
.
.
.
Vean membaringkan tubuhnya di kasur, memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Pria itu menghela nafas berkali-kali, tapi tidak juga merasa lega, masih terasa berat di dadanya, seperti ada yang penuh, ada yang mengganjal, dan semakin menyakitkan.
Prang
Vean membanting vas bunga di atas nakas. Pria itu lalu membuka lemarinya, memasukkan beberapa barang ke dalam koper.
"Vean, kamu mau ke mana?" tanya Friska.
"Kamu mau pergi dari rumah ini?"
"Iya."
"Tunggu Vean, kamu kenapa mau pergi dari sini? Apa kamu marah sama mama?"
"Aku cuma mau nyari Dhea."
"Tapi kamu mau nyari ke mana? Memangnya sudah tahu dia ada di mana?"
"Kalau aku sudah tahu dia di mana, namanya bukan nyari, Ma, tapi jemput."
Fio dan kedua orang tuanya, diam-diam mendengarkan perkataan Vean, tapi mereka diam saja.
__ADS_1
Vean lalu membalik tubuhnya, melihat Fio dan kedua orang tuanya.
"Jangan ada yang berani mencegahku!"
Fio menunduk, lalu berkata, "Aku ikut!"
"Aku bukan lagi mau jalan-jalan, Fi."
"Aku tahu, makanya aku mau ikut."
"Enggak!"
"Ikut!"
"Enggak."
"Ikut!"
Vean tidak mendengarkan perkataan Fio, dia langsung berjalan dengan cepat menuju mobilnya.
Di perjalanan, dia sendiri tidak tahu garis pergi ke mana dulu.
Apa berkeliling Indonesia dulu?
Apa keliling Asia dulu?
Apa keliling Eropa?
Atau keliling Amerika?
__ADS_1