
Tetesan hujan mulai turun. Mereka segera masuk ke dalam gubuk itu.
Duduk di salah satu bale yang lebih lusuh lagi. Disuguhkan air putih dengan gelas plastik.
Hinan semakin deras. Angin menerpa kencang bangunan rapuh itu.
"Ini, gak akan rubuh, kan?" tanya Dhea.
"Mudah-mudahan saja tidak."
Angin masuk melalui celah-celah dinding kayu yang berlubang. Rumah ini seperti bergerak-gerak diterpa angin.
"Ini, dimakan."
Ada singkong rebus dan pisang.
"Aaa!" Dhea berteriak kencang saat ada yang bergerak di kakinya. Kadal yang berukuran besar itu melawati kakinya dan pergi begitu saja.
Gadis itu lalu mengangkat kakinya ke atas bale. Berpikir pasti di tempat ini, apalagi kalau malam hari, banyak binatangnya.
Tikus, curut, atau bisa saja ular.
"Coba aku lihat, kaki kamu digigit apa tidak."
Tidak ada bekas gigitan.
Keadaan rumah ini benar-benar tidak terawat. Bukan karena dari bilik bambu atau kayu. Bukan juga karena berlantaikan tanah merah yang telah mengeras. Tapi memang karena tidak terawat.
__ADS_1
Atap yang bocor membuat air hujan masuk. Bahkan bocornya ada di mana-mana dan cukup besar. Ada yang ditampung dengan ember yang pinggir-pinggirnya sudah pecah. Ada juga yang dibiarkan begitu saja, kembali meresap ke dalam lantai tanah.
"Kalau gempa, bagaimana?" tanya Dhea.
"Ya hancur," sahut Juna santai.
"Ya sudah pasti hancur, Juna. Maksudnya, bagaimana dengan yang tinggal di sini? Hujan deras saja meleyot-meleyot begini!"
"Aku lapar," bisik Dhea.
"Tidak mungkin ada restoran di sini."
Mereka memang lapar, tapi tidak mungkin juga minta makan pada yang punya rumah.
Mereka hanya bisa menunggu ibu Wati bangun, untuk menceritakan semuanya.
"Ayo, ke rumah saya. Rumah saya tidak jauh dari sini."
"Anak saya yang akan menjaga ibu kamu. Jangan khawatir."
Mereka akhirnya mengikuti om Dhea.
Mereka tiba di rumah sederhana. Tidak terlalu bagus, tapi juga tidak separah rumah ibu Wati.
Rumah ini semi permanen.
Lantainya terbuat dari coran. Dindingnya setengah-setengah. Dari lantai hingga sebatas pinggang, terbuat dari batu bata. Dari pinggang hingga ke atas dari bambu dan anyaman.
__ADS_1
Atapnya terbuat dari bambu-bambu dan daun-daun kelapa. Terlihat bersih dan terawat, meski tidak mewah.
Mereka duduk lesehan di atas karpet anyaman. Sekat antar ruangan juga hanya terbuat dari bambu, sebatas tinggi manusia.
Ada TV model lama, entah masih menyala atau tidak.
"Ini Ana, istri saya—adik tiri mama kamu."
"Ayo dimakan dan minum."
Dhea langsung menyeruput teh hangat itu. Teh tubruk yang ampasnya masih terlihat. Dia juga langsung mengambil makanan entah apa namanya, dia tidak tahu.
"Lapar Kak, aku pingsan nanti kalian yang repot."
Mereka menahan tawa mendengar perkataan Dhea, lalu ikut makan dan minum.
"Apa Bu Wati sudah lama seperti itu?"
"Sudah dua tahunan kondisinya memburuk."
"Kenapa tidak mau dibawa ke dokter?"
"Tidak mau. Sudah kami paksa. Kalian tahu sendiri kan, bagaimana perjalanan ke sini. Jarak dari kota daerah ini ke sini saja cukup jauh. Dia tidak pernah mau meninggalkan desa ini."
"Bu Wati tinggal sendiri?"
"Iya. Kadang istri saya menemani dia di sana."
__ADS_1
Aroma masakan mulai tercium. Sepertinya bu Ana sedang membuatkan makanan."
"Kamu sudah melihat sendiri kan, bagaimana kondisi ibu kamu? Seperti itulah dia. Kami hanya khawatir dia tidak memiliki waktu yang lama, jadi meminta kamu untuk mau bertemu dengannya. Setidaknya sekarang kalian Sidah bertemu. Entah kamu bisa memaafkannya atau tidak."