Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
92 Aku Rela


__ADS_3

Dhea membuka matanya, tidak dilihatnya siapa pun di dalam ruangan ini. Tidak masalah sama sekali, dia lebih suka seperti ini.


Dalam kesendirian seperti ini, dia tidak perlu tersenyum pada siapa pun, atau menahan tangisnya. Juga tidak perlu melihat wajah mereka yang bersedih dan gelisah. Atau wajah-wajah penuh rasa kasihan.


Dhea menyukai kesepian ini, sangat-sangat suka.


Mungkin bulir salju di sana sedang turun dengan deras, sama seperti bulir air matanya. Dhea melihat ke luar jendela, melihat hujan yang juga turun dengan deras.


Dia, langit di luar, dan langit di sana, ternyata sama ....


Jika Dhea mengeluarkan air matanya, langit di luar sini mengeluarkan air hujan, dan langit di sana mengeluarkan salju.


Dhea tersenyum, merasa nyaman dengan pikiran itu. Merasa hati yang sedikit hampa ini, memiliki sesuatu yang senasib, meski tak sama ....


Entahlah, Dhea sendiri sulit untuk mendeskripsikannya.


Pintu kamarnya terbuka.

__ADS_1


Pandangan mata mereka bertemu.


Saling menatap, diam dalam keheningan, dan menahan diri untuk saling berucap.


Vean bingung ingin mengatakan apa. Dia tidak tahu kalau Dhea sudah bangun, bahkan tidak tahu kalau ternyata tidak ada siapa-siapa di dalam, hanya Dhea saja.


Dhea mematung di atas brankarnya, dalam hati menghitung, mengiring waktu yang dibutuhkan untuk pria di hadapannya itu berbalik badan ....


Kembali meninggalkan dirinya dalam kesendirian, dalam kehampaan yang tak berujung.


Dan benar saja ....


Dhea memalingkan wajahnya dari punggung pria itu. Dia ingin mencegah pria itu pergi, tapi buat apa, kalau pria itu memang tidak ingin berada di sisinya.


Dhea tidak akan pernah mau memanfaatkan keadaannya untuk menekan Vean. Tidak mau menahan pria itu karena bekas kasihan dan rasa bersalah, apalagi balas budi.


"Dhea ...."

__ADS_1


Dhea langsung menoleh saat mendengar suara yang selalu dirindukan dalam nyata dan mimpinya itu.


"Aku ...." Perlahan, Vean mendekati gadis itu. Hatinya mencelos saat melihat gadis itu setengah bersandar di brankar dengan keadaan sangat lemah.


Vean duduk di bangku samping brankar. Sungguh, dia tidak sanggup melihat keadaan Dhea yang seperti ini. Bukankah seharusnya dia yang seperti ini?


Suara Vean tercekat di tenggorokan. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut pria itu. Vean berusaha merangkai kata demi kata, tapi dia merasa tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Tidak bisa juga merangkainya dengan baik, dan sejujurnya, tidak tahu apa yang seharusnya dia katakan.


Vean, di tempat duduknya saat ini, bisa merasakan deru nafas Dhea yang terasa ngos-ngosan. Vean ikut merasakan sesak itu, bukan hanya di nafasnya, tapi yang lebih utama adalah hatinya.


Hatinya kalut, entah kenapa dia merasakan ketakutan yang amat besar saat ini. Sesuatu yang menggerakkan kakinya begitu saja untuk mendekat, mendekati gadis yang sedang berbaring lemah itu.


Jantung Vean berdetak kencang, berdetak tak karuan, mengkhianati sang pemilik jantung yang mati-matian berusaha untuk bersikap tenang.


Hanya ada keheningan saat ini.


Berdua saja, tanpa ada yang mengganggu. Itulah yang sejak dulu dia inginkan, berdua saja dengan Vean. Tak apa meski Vean tak mengatakan apa-apa. Meski pria itu selalu saja memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Setidaknya, dia masih bisa bersama Vean, meski dalam keadaan nafas yang semakin sesak ....


Aku rela ....


__ADS_2