Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
264 Juna Bohong


__ADS_3

Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau setiap hari setiap saat, sampai Dhea melahirkan nanti, Yuki akan terus bertanya kapan adiknya lahir?


Hanya dengan membayangkan saja, mereka sudah gumuh duluan. Setiap Dhea keluar dari kamar mandi, Yuki akan langsung bertanya mana adik bayi? Selesai makan, nyari adik bayi, pulang kerja nanya adik bayi.


"Nih, untuk sementara ini, ini adik Yuki. Ingat, ini hanya sementara." Juna memberikan Yuki boneka bayi berkepala plontos yang bisa menangis itu loh, yang kalau malam-malam malah terlihat seram.


"Mana aju-ajunya?"


"Hilih, dikasih hati minta ceker."


"Tintin, ini bayi kita."


"Aaaa Yuki! Jangan bikin papi dimarahi sama orang-orang, ya. Bayi kalian, bayi kalian! Astoge, punya dosa apa aku, kesabaranku diuji coba."


Dhea mau ketawa ngakak, tapi takut perutnya keram. Maksud hati mau nyari solusi, tapi malah tambah frustasi.


Vean memeluk Yuki dengan gemas, dan balita itu melingkarkan tangannya di leher Vean.


"Una alak."


"Iya, galak. Nanti Yuki minta sama papi Juna mainan buat adik bayi," sahut dokter Bram.


Yuki memang penghibur Dhea dan Vean, tapi salah satu penyebab sakit kepala Juna dan Arya. Namun bagi Arya yang sudah terbiasa menghadapi anak-anak, itu tidak masalah.


💦💦💦

__ADS_1


Kehamilan Dhea kali ini tidak bisa dibilang lancar. Tidak muntah-muntah, tapi juga susah makan. Dhea selalu ingin makanan yang gurih-gurih dan pedas, tapi tentu saja itu tidak baik untuk kesehatannya. Makan makanan yang manis akan membuat dia mual meski tidak sampai muntah banyak.


"Garamnya kurang."


"Ini sudah cukup, Sayang. Kamu bisa darah tinggi kalau terlalu banyak garam."


"Tapi ini gak ada rasa asinnya."


"Ada, mungkin lidah kamu yang pahit."


Mau tidak mau Dhea makan juga, meski yang dia rasa seperti makanan hambar. Vean menyuapi Dhea dengan telaten, meski sebenarnya tidak perlu.


Yuki terus memandangi boneka yang diberikan oleh Juna.


"Nanapa ga miyum susu? Gak ee?"


"Hiks, Una boong!"


Balita itu mulai menangis, yang langsung ditenangkan oleh Vean.


"Cup cup cup, Sayang, jangan nangis, ya."


Dhea akhirnya makan sendiri, karena Vean harus menggendong Yuki. Faustin yang sedang berjalan menuju rumah Yuki, langsung berlari ke rumah teman kecilnya itu.


Yuki yang kesal, menepuk-nepuk boneka itu hingga si boneka juga ikut menangis.

__ADS_1


"Yuki kenapa, Sayang?" tanya dokter Bram.


"Una boong, Opa. Aciknya gak mau ee."


Bram mau ketawa, tapi nanti Yuki tambah menangis.


"Yuyu, ini ada coklat," ucap Faustin sambil memberikan dua batang coklat berukuran besar. Dokter Petter memang baru saja mendapatkan banyak kiriman coklat dari Swiss. Begitu kardus paketan dibuka, Faustin langsung mengambil dua batang dan ke rumah Yuki.


"Kenapa nangis?"


"Ni, gak mau ee."


Dhea menghela nafas. Dari sekian banyak hal yang bisa dipermasalahkan, kenapa masalah gak bisa BAB yang diributkan?


"Sini Sayang, sama mommy."


Yuki memeluk kaki Dhea, sambil menatap perut perempuan itu.


"Sabar, ya. Adiknya masih terlalu kecil. Belum waktunya keluar. Doakan adik sehat, ya. Sekarang Yuki main dan makan coklat sama Faustin."


Tidak lama kemudian, dokter Stevie datang membawa banyak coklat.


"Ini, aku baru saja dapat kiriman coklat. Buat yang lain juga ada."


Mata Dhea berbinar saat mencium aroma coklat itu.

__ADS_1


"Dhea, kenapa coklatnya dicocol dengan garam?"


__ADS_2