
Mereka kembali melanjutkan aktivitas sehari-hari. Kali ini, Vean tidak perlu lagi mengetuk rumah tetangganya itu untuk meminta sarapan.
Setiap pagi Vean akan memakan sarapan yang sudah disiapkan di meja makan. Tidak perlu masalah yang terlalu 'wah' karena Vean akan memakan apa saja yang dibuatkan oleh Dhea.
"Ke kantor aku, yuk. Kamu sibuk, gak?"
"Ayo."
Vean tersenyum, dia lalu menunggu Dhea bersiap-siap.
"Ayo."
Di depan rumah, Vean pamer pada Juna dan Arya.
"Aku pergi kerja dulu, ya, sama istriku."
"Sombong!"
"Dhea Sayang, ikut Abang pergi kerja, yuk."
Vean mendelik kesal pada Juna, yang menggoda istrinya itu.
"Dah, semuanya." Dhea melambaikan tangan pada mereka semua, juga memberikan kiss bye, seperti artis yang sedang memberikan salam pada para fans dan wartawan. Vean tertawa lalu ikut masuk ke mobil.
"Mereka berdua menyebalkan, ya?" ucap Juna.
"Enggak," jawab Arya.
Juna menghela nafas, lalu pergi kerja, berjalan di belakang mobil Vean, dan di belakangnya ada mobil Arya, begitu terus sampai satu gang itu penghuninya keluar semua.
"Kita kaya iring-iringan pejabat ya, Kak?"
...💦💦💦...
Vean memasuki kantornya dengan menggandeng tangan Dhea. Para karyawan yang melihat itu terpana melihat wajah Vean yang tersenyum.
"Cerah banget ya, wajah bos kita."
"Namanya juga pengantin baru, apalagi menikah dengan pacar sejak remaja."
"Romantis sekali ya, bos kita dengan istrinya itu. Jarang-jarang ada pria atau wanita yang seperti itu. Bukan hanya menjaga jodoh orang, tapi memang jodoh benaran. Semoga langgeng sampai kakek nenek, sampai maut memisahkan."
__ADS_1
"Heleh, lebay."
"Apaan, sih. Doa baik itu, akan berbalik untuk kita sendiri, begitu juga sebaliknya."
Dhea selalu tersenyum ramah pada orang-orang yang berpapasan dengannya. Tidak merasa canggung atau sombong.
"Kayanya istri bos seorang designer lulusan luar negeri."
"Ya wajar, kalau perempuan biasa-biasa saja, baru heran."
"Aku kaya artis ya, Kak. Kayaknya aku lagi diomongin."
Vean tertawa, dan tawa itu semakin membuat yang lain kesemsem.
Di dalam ruangan Vean, Dhea langsung mengeluarkan alat tempurnya. Dia mulai menggores di kertas design gaun yang akan dia buat.
"Kak Erza sudah ada calon?"
"Eh?"
"Kak Erza sudah ada calon istri?"
"Jangan panggil saya Kak, Nona."
"Panggil Erza saja."
"Enggak sopan. Aku panggil Kak saja, ya."
Erza lalu melirik Vean.
"Panggil Erza saja, Yang. Mungkin takut pacarnya marah."
"Iya, deh."
Pacar dari mana, coba?
"Kamu mau ngemil apa?"
"Kue coklat, sama lemon tea dingin."
"Siapkan, Za."
__ADS_1
"Baik, Tuan."
"Kak, Erza benaran sudah ada calon?"
"Kenapa memangnya?"
"Si Micel kayaknya suka sama Erza."
"Belum, kayaknya."
Vean dan Dhea lalu mulai bekerja. Perempuan itu duduk di lantai yang beralaskan karpet. Tidak lama kemudian salah satu karyawan masuk dan melihat istri bosnya itu yang duduk selonjoran sambil sibuk menggambar.
"Kenapa kamu melihat istri saya seperti itu?"
"Maafkan saya, Tuan. Ini berkas laporan keuangan bulan ini."
Istri Tuan ternyata cuek, ya. Kirain manja dan sombong.
Memasuki jam makan siang.
"Ayo makan, kamu mau makan apa?"
"Makan di kantin perusahaan, boleh?"
"Di sini?"
"Iya, aku pengen cobain makanan di sini."
"Ayo."
Memasuki kantin, mereka menjadi pusat perhatian. Dhea memilih pecel lele dan bakso. Sedangkan Vean memesan soto daging.
"Cara makan istri bos, bikin aku jadi pengen juga. Padahal sudah biasa makan itu."
"Iya, cara makannya bikin orang juga pengen, ya."
Dhea menyuapi Vean pecel lele dengan tangannya. Pria itu makan langsung dari tangan Dhea, tidak merasa risih sedikit pun. Bahkan perempuan itu memakan bakso dengan campuran kuah soto.
"Ish, aku juga pengen mesan, ah."
Erza yang juga ada di dekat situ, hanya tersenyum.
__ADS_1
Kalian belum tahu saja. Aku yang tinggal dekat dengan mereka, sudah tidak merasa aneh lagi. Apalagi kalau teman-teman bos sudah berkumpul, apa saja dimakan.