Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
226 Happy Selalu


__ADS_3

Vean menimang-nimang Yuki dengan pelan agar anaknya tidur. Sementara Dhea sedang makan malam yang terlambat karena anaknya terus saja meminta ASI dan perhatian dari mommy-nya.


"Kamu harus makan yang banyak, Yang. Kamu kan harus isi tenaga setelah seharian mengurus Yuki."


"Aku dibantu sama para mama kita. Aku malah gak ngapa-ngapain selain memberi ASI."


Vean tersenyum, dia tahu kalau Friska dan Bianca memang sangat antusias mengurus Yuki.


Vean mengecup kepala Dhea, sambil masih menimang Yuki. Yuki memang menjadi kebahagiaan bukan hanya untuk Vena dan Dhea saja, tapi untuk kedua keluarga besar itu.


Tengah malam Yuki bangun, dan Vean langsung membuka matanya begitu mendengar tangisan bayi itu. Vean pelan-pelan turun dari kasur, agar tidak membangunkan Dhea.


Vean memeriksa popok Yuki lebih dulu, dan setelah menggantinya, dia lalu membangunkan Dhea untuk memberikan ASI.


"Yang, Yuki haus."


Dhea segera bangun meski katanya masih begitu lengket. Dia segera menerima Yuki dari gendongan Vean. Bayi mungil itu menyusu dengan cepat.


Pertumbuhan Yuki dari hari ke hari semakin bagus. Pipinya semakin gembul dsn menggemaskan. Vena masih ada di sisi Dia, menunggui kedua kesayangannya itu dengan sabar. Tidak ada rasa lelah di wajahnya, malah menunjukkan wajah cerah dan sangat bahagia.

__ADS_1


Vean memang benar-benar bahagia, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari ini. Cinta pertamanya, kini sudah menjadi istri dan ibu dari anaknya. Kebahagiaan apa lagi yang doa cari.


Ya, meski dulu dia ingin memiliki anak yang banyak, tapi sekarang tidak lagi. Dia tidak mau egois. Tidak mau mengikuti keinginannya saja. Yuki dan Dhea sudah cukup mengisi hari-harinya yang akan semakin cerah dan penuh warna.


Keesokan harinya, Minggu pagi.


Semua orang sedang berkumpul di rumah Vean. Mereka selalu merindukan bayi mungil yang semakin menambah meriah lingkungan rumah itu.


Bagi itu terus saja berpindah tangan, karena semua orang selalu ingin menggendongnya.


Yuki menjadi bidadari kecil untuk mereka. Semua selalu tersenyum bahagia melihat senyum Yuki. Mata bulat polosnya selalu saja menyejukkan hati.


"Iya," jawab mereka serempak.


Lebih baik di-iya-kan saja, daripada urusannya panjang.


...💦💦💦...


Vean mengajak Dhea dan Yuki ke kantornya, agar istrinya tidak bisa di rumah. Hari ini tidak ada rapat, jadi Vean akan ada di ruangannya terus. Arya yang juga masih memilih bekerja sebagai salah satu asisten Vean, belum ingin kembali bekerja di rumah sakit.

__ADS_1


Dokter Bram memang membutuhkan Arya di rumah sakit untuk bekerja di management rumah sakit, karena Juna lebih fokus sebagai dokter, tidak mau pusing dengan berkas dan segala macam urusan seperti itu.


Semua orang terlihat bahagia, ya kecuali Arya dan Juna yang masih saja dirorong kapan menikah?


Fio?


Masih galau.


Gadis manja itu kasih saja sering membuat Juna dan Arya kesal, dan selalu berusaha menghindar darinya.


"Huaaa, Dhea, aku iri padamu. Kenapa kamu harus menikah cepat dan sekarang sudah punya baby yang menggemaskan? Ditambah ada Arya dan Juna yang selalu menyayangi kamu?"


"Kan aku adik mereka."


"Kalau begitu, jadikan aku kakak iparmu!"


"Tidaaakkk!" sahut Vean, Juna dan Arya bersamaan.


...TAMAT ...

__ADS_1


__ADS_2