Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
To.Episode 49


__ADS_3

🌹 Di Rumah Defan 🌹


Tok...tok...tok...


"Iya,sebentar." seru Defan dari dalam kamar.


Defan membuka pintu kamar dan sudah ada Mamahnya.


"Ada apa,Mah.?"


"Nanti malam papah mengajak kita makan di luar."


"Tumben banget. Emang ada acara apa,Mah.?"


"Udah nggak usah banyak tanya. Nanti juga kamu tahu. Kamu jangan kemana-mana."


"Iya."


Di suatu mal besar Sarah dan the gengnya sedang jalan-jalan. Sepulang sekolah mereka tidak langsung pulang ke rumah.


" Kita makan dulu yuk.!" ajak Siska.


"Ayo. Gue juga udah laper banget nih." ucap Sarah.


"Kalian duluan saja. Puput mau ke toilet dulu." izin Puput.


"Yaudah sana jangan lama-lama."


Puput berjalan menuju toilet terdekat. Tidak sengaja ia melihat seseorang yang di kenalnya. Sedang berjalan dengan perempuan. Puput pun mendekati ke dua orang itu.


"Juna.!!" panggil Puput.


"Lu ada di sini juga,Put.?" tanya Juna melihat Puput.


"Dia siapa.?" tanya wanita yang di samping Juna.


"Kenalin,dia Puput teman gue."


"Kenalin nama gue Ayu." memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya pada Puput.


Puput mengabaikan uluran tangan wanita yang berada di depannya. Ia hanya menatap Juna dengan wajah penuh tanya.


"Teman.!" ucap Puput memastikan.


"Iya teman. Kita berteman kan.?"


"Jadi selama ini Juna hanya menganggap Puput teman Juna saja? Lalu apa artinya dari ucapan Juna waktu itu kalau Juna suka sama Puput.?"


"Yang mana ya.?"


"Yang Puput bilang kalau Puput suka sama Juna dan Juna juga bilang kalau Juna juga suka sama Puput." jelas Puput.


"Owh yang waktu itu ya? Sorry keynya lu salah paham,Put."


"Apa yang salah. Sudah jelas-jelas waktu itu Juna bilang kalau Juna juga suka sama Puput."


"Memang benar gue suka sama lu,Put. Tapi suka sebagai teman."


"Tapi yang Puput maksud waktu itu. Puput suka sama Juna lebih dari teman."


"Maksudnya apa nih.?" tanya Ayu yang sudah bingung dengan obrolan mereka.


"Diam kamu." seru Puput.


"Ada juga lu yang diam. Sudah jelas-jelas dia nggak suka sama lu. Seharusnya lu sadar diri. Bagaimana mungkin seorang Arjuna jatuh cinta dengan cewek macam lu."

__ADS_1


"Apa maksud kamu.?"


"Seleranya Juna itu tinggi. Nggak rendah seperti ini." cibir Ayu sinis.


"Kamu nggak usah sok tahu."


"Lu tuh..." ucapan Ayu terpotong oleh seruan Juna.


"CUKUP.!!!" seru Juna. "Kalian berdua bisa pada diam nggak."


"Put. Sebelumnya gue minta maaf karena ucapan gue waktu itu. Lu jadi salah mengartikan. Perlu lu ketahui dari dulu sampai sekarang. Gue hanya menganggap lu teman gue."


"Makanya jadi orang sadar diri. Nggak punya kaca ya di rumah. Lu sama Juna itu ibarat bumi dan langit. Perbedaan kalian itu sangat jauh. Jadi nggak usah berharap lebih dari Juna." cibir Ayu.


Puput mengabaikan cibiran Ayu pada dirinya.


"Juna jahat. Puput benci Juna." ucap Puput yang sudah menangis dan pergi meninggalkan mereka.


"Put.!!" panggil Juna.


Juna ingin mengejar Puput tetapi tangannya di pegang erat oleh Ayu.


"Lepasin gue."


"Lu ngapain sih ngejar dia."


"Seharusnya tadi lu nggak perlu bicara seperti itu."


"Kenapa? Semua yang gue ucapkan itu benar."


"Itu bisa buat dia sakit hati dan gue nggak mau merasa bersalah karena ucapan lu."


"Bodo amat. Udah yuk ah kita lanjut lagi.!" ajak Ayu dan menggandeng tangan Juna.


Malam pun tiba. Defan dan orang tuanya baru saja sampai di suatu restoran.


"Kamu ini ada-ada saja. Baru juga sampai sudah mau ke toilet." ucap Mamah.


"Mungkin dia gerogi,Mah. Yaudah sana tapi ingat jangan lama-lama." kata Papah.


Defan berjalan menuju toilet. Sedangkan orang tua Defan berjalan menuju tempat duduk yang sudah di janjikan.


"Assalamualaikum." ucap Papah.


"Waalaikumsalam." jawab temannya.


"Maaf ya. Kita datangnya telat."


"Iya nggak apa-apa santai saja."


"Sayang beri salam dulu pada om Deri." kata Mamah Susi.


"Selamat malam Om,Tante." dan bersaliman.


"Jadi ini anak kamu,Dit.?" tanya mamah Susi.


"Lah iya. Memangnya anak aku yang mana lagi.!" ucap Dita.


"Anak kamu sendiri kemana,Der.?" tanya papah Satrio.


"Dia lagi ke toilet sebentar."


"Silakan duduk."


Tidak lama datanglah Defan.

__ADS_1


"Selamat malam Om,Tante." ucap Defan dan bersaliman.


"Tampan juga anak kamu,Dit." ucap mamah Susi.


"Anak kamu juga cantik banget,Sus." balas Dita memuji.


Sejak Defan datang wanita di hadapannya hanya sibuk memainkan handphonenya sambil menunduk.


"Sayang. Kenalan dulu dengan anaknya teman Papah."


"Defan." mengulurkan tangannya.


Sejenak Siska memperhatikan tangan itu dan "Siska." sambil melihat seseorang di hadapannya.


"Lu.!!!" seru Defan dan Siska bersamaan.


Mereka berdua cukup terkejut.


"Waahhh.. Sepertinya kalian sudah saling kenal." ucap mamah Dita


"Dia teman Defan di kelas."


"Owh,,seperti itu. Kebetulan sekali ya."


"Defan,Siska. Berhubung kalian sudah mau lulus sekolah. Kami sebagai orang tua ingin menjodohkan kalian berdua." ucap papah Deri.


"What...!!!" seru Defan dan Siska bersamaan lagi.


"Kalian belum apa-apa sudah sekompak itu." ucap mamah Susi.


"Pah. Ini bohongankan. Papah nggak serius.?" tanya Defan memastikan.


"Sayangnya ini beneran. Pokoknya nggak ada yang ngebantah. Ini sudah menjadi keputusan kedua keluarga."


"Bagaimana mungkin kalian memutuskan sesuatu tanpa harus bertanya pada kami." ucap Siska.


"Lagi pula kita masih sekolah,Pah." timpal Defan.


"Itu tidak masalah. Kami memutuskan untuk minggu depan kalian bertunangan terlebih dahulu. Setelah lulus sekolah kalian baru menikah." jelas papah Satrio.


Defan dan Siska tidak ada yang mendengar ucapan papah Satrio. Mereka terlalu terbuai dengan pikiran mereka masing-masing.


"Mimpi apa gue semalam sampai bisa di jodohkan sama nih cewek." kata Defan dalam hati.


"Gue nggak tau harus senang atau sedih mendengar berita ini. Di satu sisi,gue bahagia bisa di jodohkan sama cowok yang cukup populer di sekolah. Tapi di sisi lain,gue sebal banget sama dia karena dia selalu berpihak dengan gengnya si Jani manusia es itu." kata Siska dalam hati.


Tanpa sadar mereka bertatapan.


"Ehem. Udah cukup tatapannya." goda mamah Dita.


Mereka pun tersadar dari lamunan.


"Sepertinya mereka memang sudah tidak sabar. Apa lebih baik kita langsungkan acara pernikahan.?"


"Noo..!!!" seru mereka berdua bersamaan lagi.


"Ck. Kalian berdua memang pasangan yang cocok." ucap papah Deri.


"Kamu betul sekali,Der. Aku sangat yakin bahwa nanti mereka akan menjadi keluarga yang bahagia." timpal papah Satrio.


"Apa tadi katanya? Gue cocok sama nih bocah dan menjadi keluarga yang bahagia? Yang ada juga nanti hidup gue jadi kacau gara-gara kelakuan dia." kata Defan dalam hati.


"Apa iya kita pasangan yang cocok? Sejujurnya gue pun berharap seperti itu. Tapi apa mungkin bisa? Secara,selama ini gue sama dia nggak pernah akrab. Jadi bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Au ah bodo amat. Lama-lama pusing pala gue mikirin key beginian. Lagian ada-ada saja mereka." kata Siska dalam hati.


"Sudah-sudah jangan menggoda calon pengantin terus. Lebih baik kita pesan makan." ucap mamah Susi.

__ADS_1


Mereka memesan makanan yang mereka sukai.


__ADS_2