Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
TO Episode.21


__ADS_3

Di dalam kamar Jani langsung membersihkan dirinya dan berbaring di kasurnya. Ia masing mengingat kata Revin tadi.


"Gw harap,kita bisa lebih akrab kedepannya."


"Maafin gw Rev. Maaf,,gw nggak bisa. Gw nggak mau terlalu dekat sama lo karena gw nggak mau nyakitin lo dan gw juga nggak mau kecewain dia." gumam Jani di tengah tangisannya.


Sejujurnya memang Jani sudah merasakan nyaman jika ia berada di dekat Revin. Tapi ia tidak ingin hubungannya terlalu akrab dengan Revin karena ia tak ingin menyakiti Revin. Jika Revin tahu bahwa Jani masih mengharapkan kehadiran seseorang dari masa lalunya. Maka Revin akan sakit hati,bahkan berfikiran bahwa dirinya hanya di jadikan pelarian oleh Jani. Oleh sebab itu ia sangat menjaga jarak dengan laki-laki mana pun termasuk Revin. Agar tidak ada yang tersakiti dan di kecewakan.


Jani bangun dari tempat tidur,ia membereskan apa saja yang akan di bawa besok ke sekolah. Setelah selesai membereskannya,ia kembali lagi ke tempat tidur dan bersiap-siap untuk tidur karena sudah larut malam. Ia tak ingin besok bangun kesiangan dan akan telat ke sekolah.


\* \* \*


Pagi harinya selesai bersiap-siap,Jani pun keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju ruang makan. Seperti biasanya di meja makan sudah ada Juna yang sedang makan sarapan paginya.


Juna memang orang yang rajin bangun pagi. Dari kecil Juna memang jarang di bangunin untuk bersial-siap sekolah karena sebelum di bangunin Juna sudah bangun terlebih dahulu.


Beda halnya dengan Jani sewaktu kecil. Jani sering kali di bangunin oleh Mamahnya untuk bersiap-siap sekolah. Waktu kecil Jani menjadi anak yang sangat manja karena memang cuma Jani anak perempuan satu-satunya di dalam keluarganya. Meskipun Jani adalah sosok seorang Kakak dan mempunyai Adik bernama Juna tapi itu tidak menutup kemungkinan Jani jadi anak perempuan yang manja. Di karenakan usia Jani dan Juna hanya selisih 5 menit.


Jani sewaktu kecil sama Jani yang sudah remaja sangat jauh berbeda. Dulu sewaktu kecil Jani adalah gadis yang ceria,manja dan sering tersenyum. Beda halnya dengan Jani yang sekarang dan bisa di pastikan efek dari kejadian penculikkan atas dirinya waktu itu. Jani menjadi wanita yang dingin,pendiam dan sangat jarang tersenyum.


Jani duduk di sebelah Juna dan ia mengambil sarapan paginya.


"Jun,ke sekolah gw nebeng mobil lo lagi ya!" ucap Jani pada Adiknya di tengah kunyahannya.


"Lah,mobil lo kemana lagi Kak?" tanya Juna.


Tiin...tiin...tiin...


Sebelum Jani menjawab pertanyaan Adiknya. Suara klakson mobil mengalihkan mereka.


"Suara mobil siapa Kak?" tanya Juna pada Kakaknya. Jani hanya menggelengkan kepalanya.


"Permisi Non. Di luar ada temannya." kata Bi Inah sopan (ART).


Jani menaikkan sebelah alisnya. "Iya,makasih Bi." ucap Jani. Bi Inah (ART) pun kembali ke dapur.


"Teman lo siapa Kak?" tanya Juna kepo.

__ADS_1


Jani menaikkan ke dua bahunya dan beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju pintu utama. Saat ia sampai di depan rumahnya.


"Revin,," ucap Jani yang melihat mobil Revin yang sudah terparkir di depan rumahnya dan Revin yang berdiri di samping mobilnya.


"Hayy,," sapa Revin.


"Ngapain lo ke rumah gw?" tanya Jani yang bingung melihat kedatangan Revin di rumahnya.


"Sekolah," jawab Revin santai.


Jani mengkerutkan keningnya mendengar jawaban Revin.


"Sejak kapan rumah gw jadi sekolahan?" pertanyaan polos Jani membuat Revin tertawa.


"Kok lo malah ketawa sih?" tanya Jani dengan wajah kesal karena pasalnya Revin bukannya menjawab pertanyaan dari dirinya,justru Revin malah tertawa.


Sebelum Revin ingin menjawab pertanyaan Jani.


"Eh,ada Bang Revin. Ada perlu apa Bang ke sini?" tanya Juna yang baru saja keluar dari dalam rumahnya.


"Kak. Lo bukannya siap-siap malah bengong aja di situ." ucal Juna yang melihat Kakaknya hanya berdiam diri bagaikan patung.


Mendengar ucapan Adiknya,Jani hanya mengkerutkan keningnya.


"Itu Bang Revin ke sini jemput lo Kak. Dia mau berangkat bareng lo ke sekolah." jelas Juna yang mengerti bahwa Kakaknya itu tidak peka.


"Eh,nggak usah gw..." ucapan Jani terpotong saat Juna menyela omongannya.


"Udah sana siap-siap Kak. Lagian juga gw ke sekolah bareng teman,jadi sorry-sorry aja nih ya Kak. Untuk kali ini lo nggak bisa nebeng mobil gw ke sekolah." ucap Juna menolak secara halus.


"Dasar adik durhaka lo." ucap Jani dengan wajah kesal dan berjalan ke dalam rumah untuk mengambil tasnya.


"Hati-hati di jalan Kakakku yang cantik." ucap Juna saat Jani berjalan melewati dirinya.


"Bodo amat," ucap Jani jutek. Juna hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Bang Revi tolong jaga bae-bae Kakak gw ya. Jangan sampe hilang,soalnya yang kayak dia itu sulit di cari nggak ada gantinya." seru Juna pada Revin yang di balas dengan acungan jempol.

__ADS_1


"Lo pikir gw barang antik sulit di cari." ucap Jani dengan wajah dinginnya,yang sudah memakai sabuk pengaman. Revin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perdebatan kecil dari saudara kembar itu.


Setelah berpamitan dengan Juna,Revin pun masuk ke dalam mobilnya dan memakai sabuk pengaman. Setelah itu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


Di pertengahan jalan, "Kenapa lo jemput gue?" tanya Jani pada Revin.


"Yaa,,sekalian aja. Lagian tujuan kita sama ke sekolah." jawab Revin yang masih menyetir mobilnya,tatapannya masih fokus melihat ke depan.


"Terus nasib mobil gue gimana tuh,yang masih di rumah lo?" tanya Jani.


"Gw jual," celetuk Revin yang langsung mendapatkan tatapan tajam dan pukulan dari Jani di lengan kirinya.


Revin tertawa melihat wajah kaget Jani. "Lagian lo takut banget sih. Santai aja nggak bakal gw apa-apain tuh mobil lo. Gw juga udah minta tolong ke Pak Bimo supir di rumah gw. Untuk anter mobil ke rumah lo. Tapi dia bisa anternya ntar siang." jelas Revin pada Jani dan di balas dengan anggukkan kepala.


Sekitar lima belas menit,mobil Revin sampai di area parkiran SEKOLAH SMA HARAPAN BANGSA. Jani dan Revin membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil.


"Tunggu," seru Revin pada Jani yang ingin melangkah pergi.


Jani pun menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Revin.


"Kenapa?" tanya Jani dingin.


"Lo mau kemana?" ucap Revin balik tanya.


"Kelas," jawab Jani singkat.


"Bareng," pinta Revin.


Jani memutar bola mata malas dan berlalu pergi. "Udah kayak anak TK aja,cuma ke kelas doang pake bareng segala." batin Jani. Revin yang melihat Jani pergi,ia segera menyusul Jani.


Seperti biasanya banyak tatapan yang di berikan oleh siswa dan siswi yang berada di parkiran. Mungkin mereka merasa aneh karena baru kali ini melihat dua manusia es itu berangkat ke sekolah berdua. Ada yang bahagia dan ada pula yang iri melihat kedekatan mereka.


Jani dan Revin adalah murid yang sangat cuek akan tatapan dan cibiran dari teman-teman sekolahnya. Dengan langkah santainya,Jani dan Revin berjalan bersama menyusuri lorong sekolah menuju kelasnya.


"SIAL!!" ucap cowok itu yang melihat Jani dan Revin jalan bersamaan.


Cowok tersebut memukul tembok di sampingnya dengan tangannya. Rahangnya mengeras,ke dua tangannya mengepal kuat. Di lihat dari ekspresi wajahnya,dapat di katakan jika cowok tersebut tengah merasakan amarah. Ia pun pergi menuju kelasnya.

__ADS_1


__ADS_2