
Vean dan Arya sudah ingin melabrak orang-orang itu, tapi Fio sudah lebih dulu bicara.
"Heh, sembarangan. Kalian pikir aku mau poliandri? Nih, cowok yang ini, suami sahabatku. Dan yang ini, calon suamiku. Pas satu-satu. Paham? Gantengan mana, suaminya atau calon suamiku? Calonku, dong!"
Vean dan Arya mendelik kesal pada Fio. Kedua pria itu sama-sama merasa sedang difitnah oleh Fio.
Vean merasa dirinya lebih ganteng dari Arya.
Arya juga kesal karena diaku-akui sebagai calon suami si belut.
"Ayo Dhea, mereka belum tahu saja kalau kita ini most wanted-nya sekolah kita."
"Jangan suka tebar fitnah! Aku ini lebih ganteng dari Arya."
"Dan aku bukan calon suami kamu!"
"Iya, iya. Ganteng-ganteng galak!"
Fio berjalan di sisi Dhea, yang kursi rodanya di dorong oleh Vean.
"Dhea, kamu jangan pikirkan apa kata orang. Saat ini aku memang lebih langsing dari kamu, tapi aku juga iri pada kamu, karena kamu punya banyak kelebihan."
"Kelebihan berat badan?"
Fio tertawa mendengar perkataan Dhea.
__ADS_1
Lagi pula, entah perkataan Fio itu untuk membangkitkan semangat atau untuk menjatuhkan, di pendengaran Vean dan Arya, terasa rancu.
"Kamu kan lagi hamil, wajar kalau sekarang badan kamu menggelembung."
"Fio!" hardik Vean dan Arya.
"Berisi, maksudnya. Lagian kalau Vean mau ninggalin kamu, jangan takut. Kamu bawa kabur saja anaknya, nanti aku carikan cowok baru buat kamu."
"Fio!"
Dhea tertawa mendengar perkataan Fio. Mereka kembali melanjutkan memilih buah-buahan. Bisa dibikin puding, es buah, kue, jus, dan lainnya.
"Kamu capek?"
"Enggak Kak, kan aku duduk terus. Aku nanti mau puding buah-buahan ya, Kak."
"Iya."
Usia kandungan Dhea sudah memasuki bulan keenam. Vean terus saja mengusap perut itu dan mengajak bicara calon anaknya.
Keesokan paginya, beberapa orang datang untuk merenovasi kamar yang ada di sebelah kamar Vean dan Dhea.
"Buat kamar anak kita, Yang. Kamu mau warna apa? Putih?"
"Iya, Kak." Wajah Dhea begitu berbinar saat Vean mengatakan akan membuat kamar untuk anak mereka.
__ADS_1
"Untuk barang-barangnya, belanja online saja, ya. Aku gak mau nanti kamu kelelahan. Yang lain baru beli langsung."
"Iya." Dhea langsung mengambil ponselnya, mencari barang-barang yang dia butuhkan untuk calon anaknya.
Dimulai dari box bayi, stroller, baby walker, bak mandi, lemari, dan lainnya. Melihat Dhea yang tampak gembira seperti ini, membuat hati Vean juga ikut bahagia.
"Kak, yang ini sama yang ini, bagusan mana?"
"Aku bingung, kamu saja yang memilih. Kalau aku, pasti akan membeli keduanya."
"Aku mau kwi boneka, tapi kalau anak kita laki-laki, bagaimana?"
"Beli saja. Kan masih bayi, tidak apa punya boneka."
Dhea lalu memilih beberapa boneka dengan berbagai ukuran. Dia jadi ingin beli pernak-pernik untuk bayi perempuan, tapi khawatir anaknya laki-laki.
"Beli saja, kalau nanti anak kita laki-laki, bisa dikasih ke orang barangnya."
Vean benar-benar pengertian, dia tidak mau membuat istrinya itu merasa kecewa sedikit pun.
Perempuan itu Kemabli memilih beberapa barang.
"Dulu aku sangat ingin barang-barang ini," gumam Dhea, tapi masih bisa didengar.
Vean merasa sedih, dia berjanji akan membahagiakan istri dan anaknya.
__ADS_1
Aku akan bekerja keras agar bisa membahagiakan kamu dan anak kita. Vean tidak mau anaknya nanti seperti Dhea, yang segala sesuatunya serba terbatas sejak masih bayi.