Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
182 Tidak Bisa Tidur


__ADS_3

"Kalian menginap saja di sini, ya. Kembali ke kota sekarang pun, sangat jauh."


Memang tidak memungkinkan juga untuk mereka pulang saat ini. Bu Wati kondisinya tidak memungkinkan untuk diajak bicara. Perjalanan sangat jauh, belum lagi jalan yang tidak mulus dan tidak adanya penerangan.


Hari mulai gelap. Lampu-lampu minyak mulai dinyalakan. Ada juga lampu listrik, tapi itu juga tidak banyak. Udara dingin terasa di kulit mereka.


"Ayo makan malam dulu."


Bu Ana meletakkan makanan di lantai. Makanan sederhana, tapi terlihat enak.


Mereka mulai menikmati makanan itu, di saat hujan kembali turun dan semakin deras.


"Apa Bu Wati tidak dipindahkan ke tempat lain saja?"


"Dia tidak pernah bisa tidur kalau dipindahkan ke rumah ini. Hanya istri saya saja keluarganya, ya meski bukan keluarga kandung."


"Pernah waktu itu dipindahkan ke sini, biar bisa tidur lebih baik. Bukannya bisa istirahat, makan dan minum dengan baik, malah tidak tidur berhari-hari, dan jadi semakin sakit."


"Suaminya?"


"Itulah ... biar dia saja yang cerita."


Dhea beberapa kali menguap. Tubuhnya terasa sangat lelah setelah seharian ini hanya duduk terus.


"Hanya ada satu kamar di sini. Kamu bisa tidur di kamar bibi. Bari nanti Om kamu tidur di luar bersama yang lainnya."


"Tidak apa, Tante. Saya bisa tidur di sini saja."

__ADS_1


Malam semakin larut, akhirnya Dhea tertidur di bale bambu yang ada di ruangan tamu itu. Vean, Arya, dan Juna juga ikut tidur di situ, tali di lantai, beralaskan karpet tipis.


"Pakai ini, biar tidak kedinginan."


Vean lalu menyelimuti Dhea dengan kain tipis.


Ketiganya tidak ada yang bisa tidur. Selain karena alas tidur yang keras, dingin, mereka juga memikirkan nasib Dhea.


Semakin malam, udara semakin dingin. Tidak bisa dibayangkan bagaimana keadaan Bu Wati di rumah itu.


Dhea membolak-balik tubuhnya. Dia juga jadi tidak bisa tidur, dengan alasan yang sama.


Duar


"Aaaa!"


Suara petir itu tentu saja mengagetkan Dhea.


"Kak, bawa saja ibu pindah. Nanti kalau rumahnya rubuh, bagaimana?"


"Iya."


Mereka bertiga bersama om Dhea akhirnya memindahkan Bu Wati, dengan menggunakan mobil. Meski jaraknya tidak terlalu jauh, tapi tidak mungkin juga memindahkan begitu saja orang sakit, apalagi dengan keadaan hujan deras seperti ini.


Bu Wati segera ditidurkan di bale tempat Dhea tidur.


"Sini, Dhea."

__ADS_1


Dhea membaringkan tubuhnya di lantai. Vean tidak tega melihat itu, tapi ya mau bagaimana lagi, keadaannya memang seperti ini.


"Om, kerjanya apa?"


"Om jualan sayur di pasar. Penghasilan tidak banyak, tapi cukuplah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari."


Hanya ada satu kamar, itu pun ditempati oleh anak-anak Bu Ana yang mungkin usianya sekitar dua belas dan sepuluh tahun.


"Tidur, Dhea!"


Dhea akhirnya memejamkan matanya, meski tidak bisa tidur lagi.


Vean mengusap-usap kepala Dhea.


"Tidur, Dhea!" kali ini Arya yang menyuruh.


Dhea langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan, membuat Vean dan Juna heran.


"Jangan lupa, aku yang sejak kecil selalu bersama Dhea."


Vean memberengut, dia merasa cemburu. Suara hujan masih terdengar, menjadi pengantar tidur untuk mereka.


Bu Wati terbangun dari tidurnya, menoleh ke samping dan melihat Dhea yang tidur.


Maaf, maaf ....


Hanya itu kata-kata yang keluar, meskipun hanya dalam hati saja. Air mata Bu Wati keluar. Dia terus memandangi wajah cantik Dhea.

__ADS_1


Maaf, maaf ....


__ADS_2