
"Lingkungan di sini asri banget, ya?"
"Iya, adem. Panas juga jadi tidak terlalu berasa, ya."
"Dhea yang bikin jadi begini," ucap Vean, memberi tahu para orang tua.
"Dhea?"
"Iya, Dhea. Dia nanam banyak pohon buah. Selain bikin adem, saat berbuah juga nanti bermanfaat. Mama belum lihat kosan Dhea, ya. Di halaman belakang, ada banyak tanaman herbal."
"Mama mau lihat, dong."
"Ayo."
Mereka berjalan menuju kosan Dhea, yang bersebelahan dengan konveksi, juga panti. Halaman belakangnya ternyata cukup luas. Banyak pohon buah dan tanaman herbal. Ada juga gazebo tempat untuk mereka duduk-duduk. Di sana juga ada kolam ikan, yang berukuran sedang.
"Ini bagus banget loh, Vean."
"Dhea pengen buat kafe. Nanti konsepnya seperti ini."
"Kafe? Sama sahabat-sahabatnya?"
"Bukan. Itu beda lagi."
"Sudah dapat tempatnya?"
"Belum, masih nyari-nyari."
"Teman papa ada yang mau jual lahan. Posisinya strategis. Biar papa yang urus. Kamu diam-diam saja Vean, jangan bilang Dhea."
"Siap, Pa."
...💦💦💦...
"Kamu sudah pakai testpack?"
"Belum, Kak. Jangan tiap hari juga kali, Kak. Aku malah pusing."
"Ya sudah. Dia hari sekali, ya?"
"Tiga hari. Deal, gak nego lagi."
Dan ternyata satu jam kemudian Dhea datang bulan, percuma tadi mereka nego.
"Kok kamu nangis?"
"Gak jadi punya anak."
__ADS_1
"Belum saatnya, jangan sedih."
Vean jadi merasa bersalah, seharusnya dia tidak usah menyuruh Dhea memakai testpack.
Dhea pergi ke butik dengan diantar oleh Vean. Perempuan itu mengecup punggung tangan suaminya dan Vean mengecup kening dan bibir Dhea.
"Jangan kelelahan."
"Tidak, aku tidak akan lelah memikirkan kamu, Hubby."
Dhea langsung keluar dari mobil dan tertawa.
Ish, pagi-pagi sudah digombalin, jadi pengen pulang lagi.
Vean tersenyum dan wajahnya memerah. Paginya semakin cerah karena tingkah istrinya yang selalu menggemaskan.
Di dalam ruang kerjanya, Dhea tiba-tiba merasa pusing. Matanya berkunang-kunang, dan dia memutuskan untuk berbaring sebentar. Mungkin itu efek datang bulan di hari pertama.
Micel masuk ke dalam ruangan Dhea dan melihat bosnya itu sedang tidur dengan wajah pucat dan berkeringat. Dia lalu keluar dari ruangan Dhea dan mencoba menghubungi Erza.
"Erza?"
"Ya?"
"Dhea sepertinya sakit. Bisa kamu kasih tahu pak Vean untuk datang?"
"Apa? Baiklah."
"Rapat ditunda. Erza, ikut saya."
"Baik, Tuan."
Erza mengemudikan mobilnya dengan kencang. Tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di butik. Vean berlari menuju ruangan kerja Dhea. Dilihatnya Dhea yang tidur di sofa dengan keadaan gelisah.
"Yang?"
Dhea membuka matanya saat mendengar suara Vean dan merasakan usapan lembut di kepalanya.
"Kak." Dhea bangkit dari tidurnya, dan langsung muntah di jas Vean.
"Ma ... maaf."
"Tidak apa, ayo kita ke rumah sakit."
Vean langsung melepaskan jas itu dan memberikan pada Micel untuk di-laundry.
"Dhea kenapa?" tanya Clara, tapi tidak dijawab oleh Vean.
__ADS_1
Perempuan itu langsung menghubungi Arya, mengabarkan keadaan Dhea. Vean menggendong Dhea dan segera turun.
"Erza, kita ke rumah sakit sekarang!"
"Baik, Tuan."
"Aku ikut."
Clara duduk di sebelah Erza yang menyetir. Arya yang mendapat kabar bahwa Dhea sakit dan menuju rumah sakit, segera mengabari Juna dan dokter Bram.
Mereka bertiga menunggu di loby UGD.
"Kamu pusing?"
Dhea mengangguk, Vean langsung memijat pelan kening istrinya.
Setibanya di depan loby, perawat langsung menggeser brankar mendekati mobil Vean.
"Tunggu di sini." Dokter Bram dan Juna langsung masuk untuk memeriksa keadaan Dhea.
Tidak lama kemudian, para keluarga dan yang yang lain ikut datang. Mereka begitu khawatir, mengingat kondisi Dhea di masa lalu.
Dokter Bram dan Juna akhirnya keluar.
"Om, bagaimana?"
"Dhea sedang mengandung."
"Apa? Mengandung? Kok bisa?" tanya Vean.
"Ya biasalah, kan sudah menikah. Kamu bagaimana Vean?" tanya Arya dengan kesal.
"Apa kamu sudah memakai testpack itu?"
"Sudah, tapi beberapa hari ini tidak."
"Kan sudah dikasih tahu, untuk memakai testpack."
"Hari ini Dhea lagi datang bulan, Om. Bagaimana bisa hamil?"
"Datang bulan? Itu flek, jadi sebaiknya Dhea bed rest dulu. Om akan meminta dokter kandungan untuk menjadi dokter Dhea selama proses kehamilan. Kalian harus rajin periksa, jangan sampai terjadi preeklampsia."
"Preeklampsia?"
"Benar. Ini bisa membahayakan nyawa ibu dan kandungannya. Jadi harus benar-benar diperhatikan ya, Vean!"
Vean menangis mendengar perkataan dokter Bram.
__ADS_1
"Aku ... aku mau punya anak? Aku akan jadi seorang Daddy." Vean menangis, antara terharu tapi juga takut.
Dia tidak tahu apa itu preeklampsia, tapi dari perkataan dokter Bram, bagi Vean itu sangat menakutkan.