
Vean menggendong bayi perempuan mungil dan menggemaskan. Wajah bayi perempuan itu sangat cantik, membuat orang-orang yang melihatnya sangat gemas.
"Siapa namanya?"
"Dhea ... Dheara. Namanya Dheara."
Nama yang akan selalu membuat Vean teringat akan dirinya, yang sudah tenang di sana.
Mereka menatap Vean dengan pandangan yang sulit diartikan, namun tetap saja tidak ada yang mau berkomentar. Pria itu memang semakin pendiam, hanya bicara seperlunya saja. Pandangan matanya selalu datar, seolah tak bernyawa.
Ya, Vean merasa raganya tak lagi berjiwa. Terkubur bersama seseorang yang seharusnya—baginya—masih tetap berada di sini.
Vean tersenyum melihat wajah anak itu, dia berjanji akan menyayangi Dhea sepenuh hatinya, akan memberikan apa pun yang tebaik dalam hidupnya.
Dia tidak akan membiarkan Dhea-nya bernasib sama dengan seseorang yang namanya akan selalu dia kenang, yang selalu ada dalam semua doanya.
Vean mengecup kening dan pipi bayi itu. memeluknya dengan erat bagaikan harta tak ternilai.
Rasa sesak itu masih ada, masih sama besarnya, seolah semua itu baru kemarin terjadi. Rasa yang terus membelenggunya, mengikatnya dan memenjarakan dirinya ke dalam penyesalan tak berujung.
Vean menangis dalam hati, tak bersuara dan tak terlihat.
Cukup dia saja yang tahu bagaimana rasanya.
Dhea
Ucapnya salam hati.
Selalu dan selalu nama itu yang dia sebut.
Vean tersenyum pada Dhea, dalam sosok bayi cantik berhidung mancung.
Dipeluknya bayi mungil itu, enggan untuk melepaskannya karena takut akan kehilangan untuk selamanya. Dalam dekapan Vean, Dhea terlihat tenang, memperlihatkan senyum mungilnya dengan mata bulat nan bening.
Vean menimang-nimang bayi itu, masih tidak mau melepaskannya meski Dhea sudah terlelap dalam dekapan hangatnya.
.
__ADS_1
.
.
Vean duduk di taman, bersama Dhea.
"Dhea, langit cerah ya, hari ini. Kapan-kapan, ayo kita lihat salju dan makan coklat yang banyak."
Dhea hanya berceloteh saja mendengar perkataan Vean.
"Dhea, apa kamu mau jadi dokter? Menyembuhkan banyak orang?"
Vean merasakan jantungnya berdetak tak karuan. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, dan dia semakin memeluk erat tubuh kecil Dhea, agar tidak kedinginan.
"Ayo kita lihat salju pertama di tahun ini. Kita pergi ke Swiss. Kamu mau?"
"Kamu pasti akan menyukai salju."
Kak Vean, jangan lupa ajak aku bermain salju.
Kak Vean, sedingin apa salju itu?
Kak Vean ....
Kak Vean ....
Kak Vean ....
Vean melihat ada pedagang balon, dan pria itu menggendong Dhea untuk membeli balon itu.
Vean memilih balon yang berwarna putih dan merah—seperti warna baju mereka—dan memberikannya ke tangan kecil Dhea.
Belum lama dipegang, kedua balon itu lepas dari pegangan Dhea. Vean dan Dhea melihat balon yang terbang itu.
Balon merah dan putih, yang terbang ke langit yang berwarna biru keputihan ....
"Lihat Dhea, balonnya sudah semakin tinggi, menghias angkasa."
__ADS_1
Dhea mulai mengangkat tangannya, ingin menggapai kedua balon itu.
"Kamu mau itu? Kita beli yang lain saja, ya?"
Tapi Dhea mulai merengek, ingin tetap balon yang itu.
Vean lalu menatap balon itu, dan tertegun.
Bukan kedua balon itu yang menarik perhatiannya. Tapi wajah seseorang, wajah yang tersenyum di langit sana.
Dhea ....
Vean mulai melangkah, semakin cepat dan tidak ingin berhenti.
Dhea ....
Tidak, kali ini dia tidak ingin lagi kehilangan. Dia akan menggapainya, meskipun jauh, dan melelahkan, dia akan tiba di sana.
Tunggu aku ....
Dia semakin cepat melangkah, memeluk tubuh kecil Dhea dengan erat.
Bruk
Tubuh keduanya terpental sangat keras karena tabrakan sebuah mobil yang melaju dengan kencang. Orang-orang mulai berdatangan, bahkan ada yang berteriak histeris karena apa yang mereka lihat.
Dalam dekapannya, dilihatnya Dhea yang berlumuran darah. Dan dalam penglihatan yang lain, ada Dhea yang tersenyum.
Akhirnya mata itu tertutup.
Dhea ....
Dhea ....
Dhea ....
Bertahanlah ....
__ADS_1
Ayo kita pergi bersama ....
Dhea ....