
Dhea
Dhea
Dhea
Maafkan aku, Sayang
Sayangku
Hanya itu kata-kata yang Vean ucapkan, di alam bawah sadarnya.
Hingga akhirnya dia kembali membuka mata ....
Tidak ada Dhea di sisinya.
Jika seperti ini, lebih baik aku tidak usah sadar saja.
...💦💦💦...
"Kamu butuh donor ginjal, Vean."
"Apa? Memangnya ke dengan ginjalku?"
"Kamu mengalami benturan yang sangat keras."
"Aku ... aku tidak mau menerima donor itu."
Mungkin dengan begini, Fio dan keluarganya akan membatalkan perjodohan ini. Apa mereka mau memiliki tunangan dan calon menantu yang penyakitan?
Tapi, bagaimana dengan Dhea? Apa dia juga masih ingin bersamaku jika aku sakit-sakitan? Apa dia akan menerima semua kekurangan aku?
"Vean, mama mohon ...."
"Mama selalu saja memohon. Aku bukan Tahun yang bisa mengabulkan semua keinginan mama!"
__ADS_1
"Sayang, Mama ...."
"Sudah Ma, aku mau istirahat."
Mereka, setia hari harus membujuk Vean untuk mau menerima donor ginjal itu, meski sampai saat ini memang belum ada.
Buat apa juga aku sembuh dan sehat, kalau Dhea tidak ada di sisiku. Lagipula, aku sudah cacat. Mana pantas bersama dirinya.
"Vean ...."
"Aku tidak akan menerima donor itu."
"Mama akan melakukan apa pun yang kamu mau, asal kamu mau menerima donor itu."
"Apa?"
"Mama akan melakukan apa pun, asal kamu mau menerima donor ginjal itu."
"Mama tidak sedang menipuku, kan?"
"Tidak, Sayang. Mama janji."
"Iya, apa pun."
"Baiklah, aku akan menerimanya."
Vean tidak langsung mengatakan apa yang dia mau. Dia tidak mau dibohongi.
Dhea, tunggu aku, Sayang. Apa kamu mau menerima ku setelah tahu kalau aku tidak lagi sempurna? Mungkin aku memang tetap akan memiliki dua ginjal, tapi ini milik orang lain yang aku sendiri tidak tahu siapa.
Tidak masalah kan, aku menerima donor dari orang lain? Asal aku bisa kembali sehat dan bersama Dhea ....
...💦💦💦...
Vean sudah melakukan pendonoran ginjal. Tapi, entah kenapa dia merasakan ketidak bahagian. Dia merasa tidak nyaman. Seperti ada sesuatu yang salah.
__ADS_1
Bagaimana dengan nasib orang itu?
Vean terus memaksa Bram untuk mengatakan siapa pendonor itu, bahkan mengancam tidak akan melakukan pemeriksaan dan meminum obatnya dengan teratur kalau Bram tidak mengatakan dan mempertemukan mereka.
Begitu keluar dari rumah sakit, tempat yang pertama Vean tuju adalah kosan Dhea.
"Maaf Bu, saya baru bisa ke sini sekarang. Apa ada kabar dari Dhea?"
Sudah cukup lama sejak kepergian Dhea, dan karena kecelakaan itu, Vean belum pernah datang ke sini. Dan ini adalah yang pertama kalinya.
"Tidak ada."
"Ibu punya nomor ponsel Dhea?"
"Tidak ada."
"Ibu jangan membohongi saya."
Ibu kos langsung memberikan ponselnya yang kebetulan sedang dia pegang.
"Kamu bisa memeriksa semua nomor ponsel di sini.
Vean diam saja, pikirannya berkecamuk, dan sangat khawatir. Dia sudah melewatkan banyak waktu untuk mencari Dhea.
Kalau bukan karena kecelakaan itu aku pasti sudah menemukan Dhea.
"Ibu dan anak-anak kos di sini juga cemas. Bahkan ibu panti juga khawatir."
"Apa selama ini, ada yang mencari Dhea ke sini?"
"Dulu, saat Dhea masih di sini, kakaknya ada yang suka datang."
"Kakaknya?"
"Iya, kakak laki-lakinya—Arya."
__ADS_1
Vean tidak menyimak nama itu, dia hanya fokus pada kata laki-laki, dan dia tidak suka mendengarnya.
Mau dibilang kakak laki-laki, tetap saja kan, mereka tidak memiliki hubungan darah.