
Dhea merasa kesulitan untuk membalik-balikkan badannya, jadi selalu dibantu oleh Vean. Pria itu juga memijat kaki Dhea dan mengusap pelan punggung dan pinggan Dhea.
"Anak Daddy, yang sehat ya, di dalam perut mommy."
Secara fisik, Dhea mengalami perubahan drastis, bukan sekedar perubahan karena hamil normal.
"Kak, aku ...."
"Jangan berpikiran macam-macam. Jangan berpikiran negatif atau apa pun itu. Kamu dan anak kita sangat berarti buat aku."
Hamil dalam keadaan sehat saja, hormon ibu hamil berubah-ubah, kadang sensitif, dan tidak jelas, apalagi Dhea yang harus mengalami semua ini.
"Secara fisik, kamu memang berubah, tapi kamu tetaplah kamu, tetap Dhea yang sama yang aku kenal sejak kamu masih SMP. Hatimu masih sama baiknya. Kamu tetap perempuan yang pintar dan mandiri. Tetap perempuan yang ceria yang sangat hobi menggombali aku. Jadi, fisik kamu boleh berubah, tapi jangan yang lain. Terutama cintamu padaku, jangan pernah berubah."
"Tidak, cintaku pada Kak Vean sudah berubah, tidak seperti dulu lagi, Kak."
__ADS_1
"A ... apa? Kamu sudah tidak cinta aku lagi?" tanya Vean. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Dulu aku memang mencintai Kak Vean, dan sekarang semakin besar. Kalau didepositokan ke bank, pasti sudah berbunga banyak karena aku selalu menginvestasikan hatiku hanya padamu."
"Ck, kenapa malah kamu yang menggombali aku!" Vean tersenyum malu dengan wajah yang merah.
"Vean, Vean, kenapa malah kamu yang baperan, sih?" tanya Juna.
"Nguping aja. Sana, balik ke kandang!"
"Dedek Dhea yang manis, Abang numpang makan, ya. Mama lagi pergi ke rumah sakit, jadi gak masak."
Vean mendengus, sudah rusuh, minta makan pula!
Setelah membalikkan tubuhnya, Juna menghela nafas. Dia juga sedih melihat Dhea yang seperti ini. Dia ingin adiknya itu jangan lagi merasakan penderitaan.
__ADS_1
Nafas Dhea terdengar sesak karena tubuhnya yang terlalu gemuk. Untuk melakukan apa-apa harus dibantu, dan Vean dengan sigap membatu istrinya itu.
Arya bersyukur karena Vean begitu menyayangi Dhea. Kalau sampai pria itu meninggalkan Dhea, maka Arya akan menjadi orang pertama yang akan menghajar atau mungkin membunuh Vean. Dengan Mila saja Arya tidak takut, apalagi harus melawan Vean san keluarganya.
"Kak Arya kenapa melamun?"
"Tidak apa. Hanya teringat saat kita masih kecil dulu. Perasaan belum lama, kita main hujan dan membuat ibu panti repot. Sekarang malah kamu sudah akan memiliki seorang anak, dan aku akan menjadi seorang om. Sebentar lagi kita yang akan berteriak menegur anak-anak itu agar tidak terus berlari ke sana ke sini."
Dhea tersenyum, mengingat masa kecil mereka di panti asuhan.
Apa aku bisa melihat anakku bermain? Bisa memandikan dan mengurusnya? Sayang, apa pun akan mommy lakukan agar kamu bisa lahir dengan selamat ke dunia ini. Mommy sayang kamu, kamu akan memiliki seorang Daddy yang sangat baik yang menyayangi kamu. Kamu juga akan memiliki banyak uncle, aunty, opa dan Oma. Mereka semua akan menyayangi kamu dan menjaga kamu dengan baik. Mommy tidak akan khawatir.
Dhea terus tersenyum, meski dalam hatinya menangis. Di balik sifat cerianya, dia sudah terbiasa menyimpan semuanya seorang diri.
Perempuan itu menatap langit, membayangkan akan seperti apa wajah anaknya nanti. Apa akan mirip dengannya, dengan Vean, atau mirip mereka berdua?
__ADS_1
Aku harap wajahnya mirip kita berdua, kak. Agar kamu bisa selalu ingat denganku, jika nanti aku tak lagi ada di sisimu ....